Home › December 2009 KGI magazine translations and podcast audio
Kang Guru Indonesia Podcasts from the December 2009 KGI magazine
Teachers of the Indonesian language in Australian schools, and of course English language teachers here in Indonesia, have registered great interest in articles from the December 2009 - KGI's 20th Anniversary.
Kang Guru Indonesia, with assistance from the Indonesia Australia Language Foundation (IALF) in Bali, and the Australia-Indonesia Partnership, has translated these articles below from the December 2009 magazine and produced bi-lingual podcast audio versions of each article.
Listen to the PODCASTs below, both English and Indonesian versions together with tapescripts. Why not download them onto your mobile phone or onto disc? Use them in your classroom for activities and for pronunciation as voices used include both Indonesian and native speakers of English.
Selected English language articles taken from KGI's December 2009 magazine.
Indonesian translations of selected articles taken from the December 2009 KGI magazine prepared by KGI and IALF
staff.
Welcome Letter from Kevin Dalton, Project Manager of Kang Guru Indonesia
Hi everyone and a special g’day g’day to all of our regular and longtime readers. Here we are at the end of another year. KGI has been very busy lately as so many things have been happening. Although the 20th Anniversary was held just a few weeks back (Nov. 20 – 21), the memories of that event are still fresh in so many people’s minds. More news in the March 2010 edition.
The theme of this magazine is the myriad links that exit between Indonesia and Australia. Do you know that there are thousands of people in Indonesia and in Australia who know each other? They are linked through a wide range of shared experiences. These links are important to these people, and to the Indonesia-Australia relationship, and will always be remembered. In this edition read just some of the many people to people and government to government links that exist between Indonesia and Australia. There are three areas where KGI absolutely knows such links have been really facilitated, developed and established - alumni, volunteering and exchanges. For many years KGI has given readers and listeners plenty of information about these groups of people, right? KGI has told you about the Muslim Exchange Program from the Australia Indonesia Institute (AII), activities with the Australia Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP), alumni of Australia who have returned to work in Indonesia, and exchange programs for journalists, students, artists and teachers. These programs, amongst others, both bilateral and private, definitely create those valuable links.
Kang Guru will be back in March 2010 with the next KGI magazine - the theme will include the environment. Please enjoy and learn from this December edition and let’s all look forward to a great 2010. So, from all of us here at Kang Guru Indonesia in Bali, the very best wishes for the Festive Season and Happy New Year.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Hai, semuanya dan salam istimewa g’day g’day untuk semua pembaca setia kami. Tibalah kita disini di penghujung tahun. KGI sangat sibuk akhir-akhir ini karena banyak sesuatu yang terjadi. Walaupun ulangtahun KGI yang ke 20 baru beberapa minggu berlalu, namun kenangan yang ditinggalkan masih segar di ingatan banyak orang. Banyak berita baru mengisi edisi maret 2010.
Tema majalah ini adalah hubungan yang takpernah putus antara Indonesia dan Australia. Tahukah Anda bahwa ada ribuan orang di Indonesia dan di Australia yang saling mengenal satu sama lain. Mereka terhubung melalui berbagai jenis kegiatan bersama-sama. Hubungan-hubungan ini sangat penting bagi mereka, dan bagi hubungan Indonesia Australia, dan akan selalu diingat. Di edisi ini, Anda akan membaca beberapa dari begitu banyak contoh hubungan antar perorangan serta antara pemerintah Indonesia dan Australia. Tiga program yang KGI tahu sudah memiliki hubungan yang benar-benar terfasilitasi, berkembang dan diakui adalah alumni, kegiatan sukarela, dan pertukaran. Selama bertahun-tahun KGI sudah memberikan kepada pembaca dan pendengar sekalian segala informasi yang berkaitan dengan orang-orang yang tergabung dalam tiga kegiatan diatas, bukan? KGI juga sudah memberitahu Anda sekalian tentang program pertukaran muslim dari Institut Indonesia Australia, berbagai kegiatan dengan AIYEP (program pertukaran pemuda Indonesia Australia), alumni Australia yang kembali ke Indonesia untuk bekerja, serta program pertukaran untuk jurnalis, siswa, seniman dan guru. Program-program ini, baik bilateral maupun pribadi, pasti meciptakan hubungan yang bermanfaat.
Kang Guru akan kembali pada bulan Maret 2010 dengan majalah KGI berikutnya- tema yang diusung mengenai lingkungan. Jadi, silahkan nikmati dan belajarlah dari edisi Desember ini dan mari kita sambut tahun 2010. Dari kami semua Kang Guru Indonesia di Bali mengucapkan
selamat natal dan tahun baru
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
SMS Feedback from Readers re. September ’09 magazine
+628525483XXXX (1)
Thanks a lot for the September edition magazine. It was so nice to read your magazine and it so helped my students in Ponpes Al-BAROKAH to add to their knowledge n experience. We like to read all the things in your magazine especially about idioms n AIP. We hope AIP to be better n better. Thanks for giving us infomation about Snuff Puppets in Jogja n great building of religion picture in Oz-Indo Connections. We hope u always tell me about the great buildings or tourism places in the world n a little informations about those.
(Usman Zaini, teacher of Ponpes Al-BAROKAH, Probolinggo)
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
+628525483XXXX
Terima kasih untuk majalah edisi September. Sangat menyenangkan membaca majalah Kang Guru dan hal ini amat bermanfaat bagi siswa-siswi saya di Ponpes Al- BAROKAH karena pengeteahuan dan pengalaman mereka bertambah. Kami suka sekali membaca semua hal yang ada di majalah Kang Guru terutama tentang idiom dan AIP (Kemitraan Indonesia- Australia). Kami berharap AIP (Kemitraan Indonesia- Australia) akan menjadi lebih baik dan semakin baik. Terima kasih telah berbagi informasi tentang Snuff puppets di Jogjakarta dan sebuah gambar bangunan keagamaan yang megah di bagian Oz-Indo Connections. Kami berharap Kang Guru selalu memberi tahu kami tentang bangunan- bangunan megah dan tempat-tempat wisata di seluruh dunia dan sedikit informasi tentang hal-hal tersebut.
(Usman Zaini, guru Ponpes Al- BAROKAH , Probolinggo)
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
+62856332XXXX (2)
U’ve been here for 20 years but I knew u when I was in university. When I was student of SMP & SMA I never knew about that magazine. I think u should be close with students in SMP & SMA, so they can use this magazine as mediator to improve their skill in English. For ur 20th celebration, I just want to say HAPPY ANNIVERSARY. Bravo Kangguru n I always ur surprise in next edition.
(Hesty Vanita, Pamekasan, Madura)
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
+62856332XXXX (2)
Kang Guru telah ada sejak 20 tahun yang lalu tetapi aku baru mengenal Kang Guru ketika saya mahasiswa. Waktu aku SMP & SMA saya belum mengenal majalah ini. Aku pikir Kang Guru seharusnya lebih dekat dengan siswa-siswi SMP & SMA, sehingga mereka menggunakan majalah ini untuk meningkatkan ketrampilan berbahasa Inggris mereka. Aku ucapkan selamat ulang tahun ke-20 dan sukses untuk perayaannya .Hidup Kang Guru dan aku selalu menunggumu di edisi selanjutnya.
(Hesty Vanita, Pamekasan, Madura)
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
+628134149XXXX (3)
Hi! My name is Andi Naniwarsih. I live on jl.Domba lr.Melati no.2A Talise Central Sulawesi PALU-INDONESIA. I’m very proud of you because you really know learning strategies for secondary n tertiary levels how they can pour out their expression by existence of the kang guru magazine. I’m very happy if you could send me that one. Thank you.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
+628134149XXXX
Hai! Namaku Andi Naniwarsih. Aku tinggal di Jl. Domba Ir. Melati no. 2A Talise Central Sulawesi PALU-INDONESIA. Aku sangat bangga dengan Kang Guru karena tahu strategi-strategi belajar untuk tingkat sekolah lanjutan dan bagaimana mereka bisa mencurahkan perasaan mereka dengan adanya majalah Kang Guru. Aku sangat senang bila Kang Guru bisa mengirimkan sesuatu mengenai hal-hal tersebut. Terima kasih.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Inspiration to improve English!
Last year I visited IALF Bali and found the KGI magazine. My first impression about the magazine was usual. But after I read and read I understood this magazine reflected Indonesian and Australian culture. It tells how Indonesian and Australian culture is different. In the June 2007 edition I love the part about Tora Sudiro. Tora is famous and so funny. His advice, which I’ve still remembered until now is “making mistakes in English is good and you learn more. If you don’t speak then maybe you won’t learn anything new”. This advice gave me spirit and inspiration to improve my English. People like Tora Sudiro can be an inspiration to everyone including me. It’s fantastic.
Ni Made Inten Lestari
Denpasar, BALI
Dear Inten, many thanks for the letter and I am sure Tora will enjoy reading your comments. Yes, Tora is on our database!
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Inspirasi untuk meningkatkan Bahasa Inggris
Tahun lalu saya mengunjungi IALF Bali dan menemukan majalah KGI. Kesan pertamaku tentang majalah ini biasa saja. Tapi setelah membaca dan membacanya lagi saya menyadari bahwa majalah ini merefleksikan budaya Indonesia dan Australia. Majalah ini memberi tahu bagaimana budaya Indonesia dan Australian dibedakan. Saya sangat menyukai edisi Juni 2007 tentang Tora Sudiro. Tora terkenal dan juga lucu. Nasehatnya, yang sampai sangat ini saya ingat sampai sekarang adalah “kamu akan belajar lebih jika kamu membuat kesalahan dalam belajar bahasa Inggris dan itu bagus untukmu. Jika kamu tidak bicara maka mungkin kamu tidak akan belajar sesuatu yang baru”. Nasehat ini memberiku semangat dan inspirasi untuk meningkatkan ketrampilan bahasa Inggris. Orang-orang seperti Tora Sudiro bisa menjadi inspirasi bagi setiap orang termasuk saya. Ini sangat luar biasa.
Ni Made Inten Lestari
Denpasar, BALI
Inten yang baik, terima kasih atas suratnya dan saya yakin Tora Sudiro akan sangat menikmati membaca komentarmu. Benar sekali, Tora Sudiro ada di basis data kami!
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Salute to KGI Team!
I feel so impressed after reading the Reflections of personalities who have worked for KGI from the beginning of its establishment (KGI the Sept 2009 edition). They’re indeed very great people and they have done a great job. Here I want to send them my faithful salutation and wish them all the best for their lives. I’m proud being a KGI-ite and enjoy the
benefits of getting free KGI magazines regularly. Thank you very much.
Parisi Asih
Kebumen, Central Java
Dear Asih, thanks for your appreciation of the KGI team. All of us, even those who are now doing other things, have been happy to work with Kang Guru - especially for readers just like you.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Salut kepada Tim KGI!
Saya sangat terkesan setelah membaca gambaran-gambaran kepribadian dari orang-orang yang telah bekerja untuk KGI dari awal pendiriannya (KGI edisi September 2009). Tak dapat dipungkiri bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat hebat dan telah melakukan sebuah pekerjaan yang hebat pula. Saya ingin menyampaikan penghargaan dan berharap mereka diberikan yang terbaik di kehidupan mereka. Saya bangga menjadi penggemar KGI dan sangat menikmati manfaat-manfaat dengan mendapatkan majalah KGI gratis secara terus menerus. Terima kasih banyak.
Parisi Asih
Kebumen, Central Java
Terimakasih ya atas penghargaanmu kepada tim KGI. Kami semua – bahkan mereka semua yang melakukan pekerjaan lain, senang juga bekerja untuk Kang Guru, terutama pembaca seperti kamu.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Theme for March mag...!
I study in SMP Sw St Fransiskus Aek Tolang. My hobby is swimming & cycling. I am 13 years old. First, Happy Anniversary to KGI. I do know Kang Guru from my English teacher. He teaches us to write letters to Kang Guru. He teaches us about Kang GURU magazine in the school. At school we have good activities for the environment. We grow mahoni trees near my school. It is also good to minimize global warming. And today our topic is about Our Forest, Our Life, so I think Kang Guru must do more about this topic.
Otniel
Sibolga, North Sumatra
Thanks for your email. The theme for the March 2010 magazine will include the environment. And yes KGI totally agrees with you - looking after the environment is VERY important.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Tema untuk Majalah bulan Maret
Umur saya 13 tahun dan bersekolah di SMP Sw St Fransiskus Aek Tolang. Hobi saya berenang & bersepeda. Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Kang Guru. Guru bahasa Inggrisku di sekolah memperkenalkan majalah Kang Guru kepada kami dan mengajari kami cara menulis surat kepada Kang Guru. Di sekolah, kami melakukan berbagai kegiatan yang berguna bagi lingkungan hidup. Kami menanam pohon mahoni di dekat sekolah karena kami tahu ini juga bagus untuk memperkecil bahaya pemanasan global. Topic kami hari ini adalah Hutan Kami, Hidup Kami, kami mempunyai ide bahwa Kang Guru seharusnya membahas topik ini lebih banyak.
Otniel
Sibolga, Sumatera Utara
Terima kasih untuk emailmu. Tema untuk edisi bulan Maret 2010 akan mencakup tentang lingkungan. KGI sangat setuju dengan kamu-menjaga lingkungan sangatlah penting.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
IDIOMS INGGRIS with Sue
To have time on your hands means you do not have much to do, you are not busy and have spare time.
"Now that her children are all at school, she has a lot of time on her hands. Maria has decided to volunteer with the local Red Cross in Padang".
To lend a hand is to happily give someone some help and assistance because you have some spare time.
"Could you lend me a hand with this table? I need to register the volunteers working here today".
"Could you lend a hand with this math assignment? "No problem, I’d be happy to lend a hand".
If something is worth doing then it is a case of in for a penny, in for a pound, which means that when gambling or taking a chance, you might as well go the whole way and take all the risks, not just some.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Idiom Inggris dengan Sue
To have time on your hands artinya Anda tidak punya banyak hal yang dikerjakan, Anda tidak sibuk dan punya waktu luang.
"Now that her children are all at school, she has a lot of time on her hands. Maria has decided to volunteer with the local Red Cross in Padang".
“Sekarang selagi anak mereka ke sekolah, dia punya banyak waktu di tangannya. Maria metuskan untuk menjadi sukarelawan di Palang Merah local di padang”.
To lend a hand adalah dengan senang hati memberikan seeroang bantuan karena Anda punya waktu luang.
Bisakah kamu membantu saya dengan meja ini? Saya perlu mendaftarkan para sukarelawan yang bekera di sini hari ini.
"Could you lend a hand with this math assignment? "No problem, I’d be happy to lend a hand".
"Bisakah kamu membantu saya dengan tugas matematika ini? “ Tidak masalah. Saya akan senang membantumu”
Untuk sesuatu yang sangat berarti untuk dilakukan a case of in for a penny, in for a pound, yang artinya ketika ada peluang untuk berjudi, mungkin Anda akan terlibat lebih dalam dan mengambil semua resiko, tidak sebagian sebagian.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
People to People
People to people links are created when people really get to know each other. They can get to know each other in many ways. It may be done by studying together or visiting each other. Perhaps they help each other in times of disaster or development and then, by working together, they learn and understand more about one another. These types of links and experiences usually remain strong for many, many years.
These are all important experiences where people grow and develop personally and professionally. Afterwards people often remain friends and associates for many years and even after quite a long time, wonderful memories remain strong. Throughout the pages of this magazine you will read about new people to people links being built, and others which have already lasted a long time.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Hubungan dari orang ke orang
Hubungan orang ke orang terbentuk ketika sekelompok orang sudah mengenal satu sama lain. Mereka dapat mengenal satu sama lain melalui beberapa cara. Mungkin dengan cara belajar bersama otau saling mengunjungi. Mungkin mereka saling membantu pada saat ada musibah atau pembangunan, dan selanjutnya, dengan bekerjasama, mereka belajar dan lebih mengerti mengenai satu sama lain. Hubungan dan pengalaman-pengalaman yang sedemikian rupa biasanya tetap kuat selama bertahun tahun.
Ini merupakan pengalaman yang penting di mana orang tumbuh dan berkembang secara individu dan secara professional. Setelah itu orang biasanya tetap menjadi teman dan rekan selama bertahun-tahun dan bahkan sampai cukup lama, kenangan indah tetap kuat. Pada halaman halaman majalah ini, Anda akan membaca tentang hubungan dari orang ke orang yang dibangun, dan hubungan lain yang bertahan lama.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Rika Kiswardani - an Australian alumni of Flinders University in South Australia
Recently at an Australian Alumni function in Makassar, KGI interviewed Rika Kiswardani, an alumni of Flinders University in South Australia. Rika completed her pre-departure language course at IALF Jakarta before heading Down Under where she graduated from her Masters Degree of Policy and Administration in 2000.
As the interview began, Rika told KGI of some of the lighter observations she made whilst in Australia including –
1. no bakso or kaki limas in Australia
2. the streets are usually empty at night and very quiet
3. not many malls but
4. a good environment for study
Rika not only studied in Australia but in the process learnt a lot about the Aussie way of doing things. Rika also made lasting links with people there, especially her mentors at Flinders University. Rika is the Head, Division of Bilateral Technical Cooperation, Bureau for Technical Cooperation, State Secretariat in Jakarta. In that role Rika is the main contact person between the Australian Development Scholarships (ADS) program and the Indonesian Government (GOI).
While a pre-departure student at IALF Jakarta, Rika not only studied but also met and worked together with people such as David Spiller, ADS Team Leader 2000 – 2008, and Geoffrey Crewes, CEO IALF. As Rika says, it is interesting now because in her current position she has quite a different relationship with Geoffrey Crewes, and with the current ADS Team. They are now partners working side by side to further improve the scholarship scheme. Rika told KGI that while she delivers input from the GOI her Australian experience is of great assistance to her. Through discussion and sharing, and drawing on her Aussie experiences, Rika believes she is able to better communicate with her Australian scholarship partners about the ideas of the GOI.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Pada waktu yang lalu saat acara temu alumni Australia di Makasar, KGI mewawancarai Rika Kiswardani, seorang alumni dari Universitas Flinders di Australia Selatan. Rika menyelesaikan program kursus bahasa pra keberangkatannya ke negeri Kangguru di IALF Jakarta. Dia mendapatkan gelar master di bidang Kebijakan dan Admisnistrasi pada tahun 2000. Pada saat wawancara, Rika memberitahu KGI tentang pengamatannya selama berada di Australia antara lain:
1. tidak ada bakso dorong dan kaki lima di Australia
2. jalan-jalan biasanya sepi dan lengang di malam hari
3. tidak ada banyak pusat perbelanjaan atau mall
4. lingkungan yang bagus untuk belajar
Rika tidak hanya menuntut ilmu di Australia tetapi juga dalam prosesnya belajar banyak mengenai cara orang Australia mengerjakan sesuatu. Rika juga menjalin hubungan dengan orang-orang disana, khususnya, dengan mentor-mentornya di Universitas Flinders. Saat ini Rika adalah Kepala bagian hubungan teknis bilateral , biro kerjasama teknis di department Sekretariat Negara di Jakarta. Dalam posisinya, Rika adalah orang kunci yang menghubungkan program ADS (Australian Development Scholarships) dengan pemerintah Indonesia. Saat dia menjadi siswa di IALF Jakarta, Rika tidak hanya belajar tapi juga bertemu dan bekerja dengan orang-orang seperti David Spiller, pemimpin tim ADS 2000 – 2008, Geoffrey Crewes, CEO IALF. Seperti yang Rika sampaikan, dengan posisinya sekarang, dia memiliki hubungan yang agak berbeda dengan Geoffrey Crewes dan tim ADS yang sekarang. Hal ini sangat menarik karena sekarang mereka semua adalah mitra kerja yang bersama-sama bertujuan meningkatkan skema beasiswa.
Rika mengatakan kepada KGI bahwa ketika dia menyampaikan masukan dari Pemerintah Indonesia pengalaman yang dia dapat di Australia sangat membantunya. Melalui diskusi dan berbagi pengalaman serta bernostalgia tentang kenangannya di Australia, Rika percaya bahwa dia sudah berhasil menjalin komunikasi yang lebih baik dengan mitranya di program beasiswa Australia sehingga ide-ide dari pemerintah Indonesia bias lebih dipahami.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Ben Liu - from Jombang to Melbourne Zoo
In 2004 my wife and I worked as English teacher trainers in Jombang, East Java. I was an Australian Volunteer International while my wife was with the ISELP, an AusAID project (see KGI's AusAID Archives for more information). We worked at Pondok Pesantren Darul ‘Ulum (PPDU) in Jombang. Over the two years we worked at PPDU we built strong on-going relationships with many of the staff and students there. In fact, three years later we still keep in contact with many of our friends by mobile phone messaging each other back and forwards from Australia to Indonesia.
Sometimes, I get woken at 4 o’clock in the morning, very early for Australians, by my good friend Nurdin Brumono to tell me who has won the Champions League Soccer Final. We were lucky enough to visit Jombang again in 2008 and see all of our good friends again.
I hope that we will be able to visit them again in the next 12 months. My new job in Australia is working at Melbourne Zoo. I use my experience from living in Indonesia everyday because I teach many Australian students about life in Indonesia and the wildlife that lives there including elephants, tigers and of course orangutans. Keep reading KGI for more news from me here in Melbourne.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Ben Liu- Dari Jombang ke Kebun Binatang Melbourne
Pada tahun 2004, saya dan istri saya bekerja sebagai pelatih guru bahasa Inggris di Jombang, Jawa Timur. Saya adalah seorang sukarelawan internasional Australia sedangkan istri saya bekerja untuk sebuah proyek AusAID yang bernama ISELP (untuk informasi lebih jelas dapat dilihat di arsip-arsip AusAID Kang Guru Indonesia). Kami bekerja di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum (PPDU) di Jombang selama lebih dari dua tahun dan kami membangun hubungan berkelanjutan yang sangat erat dengan para pekerja dan siswa. Bahkan, tiga tahun kemudian kami masih saling bertukar informasi dengan teman-teman kami melalui pesan singkat dari telepon genggam tentang hal-hal yang kami alami.
Kadang-kadang, saya dibangunkan pada jam 4 pagi oleh teman baik saya Nurdin Brumono hanya untuk member tahu saya siapa yang memenangkan final Piala Champion Eropa, walaupun jam 4 pagi terlalu dini bagi orang Australia untuk bangun tidur. Kami merasa sangat beruntung untuk mengunjungi Jombang dan berjumpa lagi dengan teman-teman baik kami di Jombang pada tahun 2008.
Kami berharap untuk bisa mengunjungi mereka lagi setahun lagi. Saat ini saya bekerja di Kebun Binatang Melbourne. Saya menggunakan pengalaman saya ketika tinggal di Indonesia setiap hari dalam pekerjaan saya untuk member tahu siswa-siswa Australia tentang Indonesia termasuk kehidupan liar yang ada disana termasuk tentan gajah, harimau, dan juga orang utan. Tetap baca KGI untuk mendapatkan berita-berita dari saya di Melbourne.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Volunteering
Did you know that Kevin from KGI was a volunteer way back in 1990. He worked in Lombok with Australian Volunteers International (AVI).
"Basically I just wanted to try something different and to do it in a different country. It didn’t really matter where in the world either. I am so happy that it turned out to be Indonesia. I worked at LP3ES in Mataram for two and a half years teaching English to staff there. It was fun, even Hashing (see left), and a wonderful introduction to sights and sounds of Indonesia. And guess what? I am still here!"
Volunteering gave Kevin the opportunity to live and work with others in a place that was worlds apart from what he was used to. What an experience it all was! And as you can see, he is still in Indonesia.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Melakukan kegiatan sukarela
Tahukan kamu kalau Kevin dari KGI dulu adalah seoarang sukarelawan di tahun 1990. Dia bekerja di Lombok dengan Australia Volunteers International (AVI)
“Pada dasarnya saya hanya ingin mencoba sesuatu yang baru dan melakukannya di negara yang berbeda. Tidak menjadi masalah di bagian dunia mana. Saya sangat senang bahwa saya akhirnya berada di Indonesia. Saya bekerja di LP3ES di Mataram selama dua setengah tahun mengajar Bahasa Inggris untuk karyawan di sana. Menyenangkan sekali, bahkan beroalahraga untuk bersoasialisasi (lihat di sebelah kiri), dan mengenal pemandangan indah dan suara-suara di Indonesia. Dan coba tebak? Saya masih di sini!"
Menjadi sukarelawan memberi Kevin kesempatan untuk tinggal dan bekerja dengan orang lain di tempat yang jauh berbeda dengan apa yang biasa dia alami. Benar- benar sebuah pengalaman! Dan seperti yang kalian lihat, dia masih di Indonesia.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Festus Nyadimo (14?)
Festus Nyadimo is a VSO volunteer in the town of Ruteng, in the Manggarai, NTT province of Indonesia. He is working with local organizations to improve infrastructure.
Here's what Festus has to say, "I’m here as a Water and Sanitation Adviser. I work with AYO Yayasan, Indonesia’s main development organisation, in their offices in Ruteng. I don’t always work directly with the people in the communities, but I do take weekly trips and accompany staff into the field, which gives me first-hand knowledge about what happens on site".
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Festus Nyadimo adalah sukarelawan VSO di kota kecil Ruteng, Manngarai, propinsi NTT Indonesia. Dia bekerja dengan organisasi- orgnaisasi local untuk memperbaiki infastruktur.
Berikut adalah apa yang dikatakan Festus, “Saya di sini sebagai Penasehati Air dan Sanitasi. Saya bekerja dengan Yayasan AYO, Organisasi utama yang sedang berkembang di Indonesia, di kantor-kantor Ruteng. Saya tidak selalu bekerja secara langsungg dengan orang-orang di masyarakat, tetapi saya melakukan perjalanan mingguan dan menemani karyawan di lahan, hal itu memberikan pengetahuan langsung mengenai apa yang terjadi di tempat".
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Dane Waters
Dane Waters, from Australia, began volunteering while he was studying for a Bachelor of Health Science Degree in Australia. He worked with Health Communication Resources (HCR), an Australian NGO. This NGO specializes in using community radio for health promotion and community development. It has projects throughout Australia and Asia. In 2007, HCR and Heartline FM in Bali invited Dane to do an evaluation of their community radio station. Dane is now back in Bali as a trainer/mentor with the Australian Youth Ambassadors for Development (AYAD) program. He is conducting capacity building activities throughout Indonesia, but the primary focus is in the village of Tulikup, Gianyar.
Working with local staff, such as Pak Lindo, they are setting up a training centre for health promotion and community development programming. Part of the project includes a placement program for students from Curtin University in Perth, as well as Indonesian students. The first group of two Australian students and one Indonesian student from Jakarta traveled to Bali recently to conduct an assessment of the community health and social needs. They then developed a communication strategy to address the issues. This work goes towards the students’ final accreditation.
Heartline FM has also held training for local volunteers from the Gianyar regency. These volunteers are now out in the community gathering messages about the health and social needs of the community. The project is all about strengthening people to people links.
Direct Aid Program (DAP) provided funds to purchase recording equipment, enabling them to create community health promotions/announcements using members of the community, which are broadcast on HLB throughout the region.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Dane Waters, dari Australia, mengawali kegiatan menjadi sukarelawan saat dia belajar untuk mendapatkan gelar sarjana ilmu kesehatan di Australia. Saat itu dia bekerja dengan Health Communication Resources (HCR), sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang kesehatan khususnya penggunaan radio masyarakat untuk promosi kesehatan dan pembangunan. Organisasi ini memiliki proyek di seluruh wilayah Australia dan Asia. Pada tahun 2007, HCR dan Heartline FM yang bermarkas di Bali mengundang Dane untuk memberikan penilaian terhadap stasiun radio mereka. Dane sekarang kembali ke Bali sebagai pelatih dalam program Australian Youth Ambassador for development (AYAD). Dia memberikan berbagai kegiatan untuk peningkatan kapasitas di seluruh Indonesia, namun focus utamanya sekarang adalah di desa Tulikup Gianyar.
Bekerja dengan staf local, seperti Pak Lindo, mereka mendirikan pusat pelatihan untuk program promosi kesehatan dan pembangunan masyarakat. Salah satu bagian proyek mencakup program penempatan untuk siswa –siswa dari Universitas Curtin di Perth dan siswa-siswa Indonesia. Kelompok pertama yang terdiri dari dua siswa Australis dan satu siswa Indonesia dari Jakarta didatangkan ke Bali untuk memberikan penilaian tentang kebutuhan masyarakat terhadap kesehatan dan sosial. Lalu mereka mengembangkan strategi komunikasi untuk menjawab masalah –masalah tersebut. Pekerjaan ini akan dilaporkan saat akreditasi terakhir.
Heartline FM juga telah melatih beberapa sukarelawan lokal dari Kabupaten Gianyar. Para sukarelawan ini berbaur dengan masyarakat untuk mengumpulkan kesan dan pesan dari masyarakat tentang kebutuhan mereka. Proyek ini pada intinya bertujuan untuk memperkuat jalinan hubungan antar masyarakat.
Direct Aid Program (AID) menyediakan dana untuk pembelian peralatan rekaman, sehingga memudahkan mereka untuk membuat pengumuman-pengumuman atau promosi-promosi kesehatan dengan menggunakan anggota masyarakat, yang kemudian diudarakan melalui HLB keseluruh wilayah.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Australia Indonesia Partnership and
LAPIS – ELTIS
The ELTIS project from AusAID has achieved remarkable results since starting in 2007. Schools, teachers and students across three target provinces are already benefting from the project and the support from the Australian Indonesia Partnership.
ELTIS (English Language Training for Islamic Schools) was established in 2007. It is an AusAID program in Indonesia and is under LAPIS (Learning Assistance Program for Islamic Schools). What is the aim of ELTIS? Caroline Bentley, Team Leader for ELTIS, is a great friend of KGI. Caroline told KGI about the aims of her program.
ELTIS aims to develop the English language expertise and teaching capabilities of Madrasah Tsanawiyah (MTs or Islamic Junior Secondary School) teachers from selected districts in East Java, NTB, and South Sulawesi. All ELTIS programs are working towards the improved language ability of girls and boys in Madrasah Tsanawiyah, to equip them with a key skill for entering higher education and the professional workforce. This is achieved by working intensively with their English language teachers through a series of English language upgrading courses and teaching methodology modules.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
What has ELTIS achieved?
The achievements of ELTIS are wide-ranging but here are just a few. ELTIS has trained 63 Master Trainers (MTs) through the Cambridge ESOL ICELT (In-service Certificate in English Language Teaching) and Training of Trainers course, and 64 District Trainers through a Teacher Training and Cambridge ESOL Teaching Knowledge Test (TKT) Preparation course.
Master Trainers have been training over 800 teachers in the three ELTIS target provinces (East Java, NTB and South Sulawesi) through a series of up to four 10-day English Language Upgrading (ELU) Courses and 5 Modules of Communicative English Language Teacher Training (CELTT).
ELTIS has also trained over 600 Madrasah Principals and Supervisors through 3-day School-Based Management Workshops. Each ELTIS school receives a Resource Pack and training on its use and these materials are also available in a downloadable format on the ELTIS website - www.lapis-eltis.org
Be sure to check the ELTIS website for ALL of the information about their work with schools and teachers.
Kang Guru Indonesia has been working with ELTIS by supporting the ELTIS teacher workshop program. Sue and Ayu have presented 12 full day workshops since 2008. These workshops reviewed listening skill development in classrooms and provided information on Kang Guru materials and merchandise available for teachers. And by the way, ELTIS provided all of their teachers with complete sets of KGI SMP teacher materials.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Kemitraan Indonesia Australia and LAPIS-ELTIS
Proyek ELTIS dari Ausaid telah memperoleh hasil yang luar biasa sejak dimulai tahun 2007. Sekolah, guru, dan siswa di tiga provinsi yang menjadi sasaran telah mendapatkan manfaat
dari proyek ini serta dukungan dari the Australian Indonesian Partnership (AIP)
ELTIS (English Language Training for Islamic Schools) didirikan pada tahun 2007. ELTIS adalah satu proyek AUSAID di Indonesia dan berada dibawah LAPIS (Learning Assistance Program for Islamic Schools). Apa tujuan dari ELTIS? Caroline Bentley, pimpinan tim ELTIS, adalah teman baik KGI dan beliau memberitahu tujuan dari programnya.
ELTIS bertujuan untuk mengembangkan keahlian berbahasa Inggris dan kemampuan mengajar guru-guru Madrasah Tsanawiyah (MTs atau smp islam) dari berbagai kecamatan yang terpilih di Jawa timur, NTB, dan Sulawesi Selatan. Semua program ELTIS bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa siswa –siswi Madrasah Tsanawiyah, melengkapi mereka dengan keahlian kunci sehingga mampu mengikuti pendidikan yang lebih tinggi dan menjawab tantangan kerja/profesi. Tujuan ini diperoleh dengan bekerja secara intensif bersama-sama dengan guru bahasa Inggris mereka melalui serangkaian modul metode pengajaran dan kursus peningkatan bahasa Inggris.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Apa yang sudah dicapai ELTIS?
Keberhasilan ELTIS beraneka ragam tetapi ini hanya sebagian saja. ELTIS telah melatih 63 Master Trainers (Mts) melalui ESOl ICELT Cambridge ((In-service Certificate in English Language Teaching) dan kurus Pelatihan untuk Pelatih ( Training of Trainers), dan 64 pelatih dareah melalui Persiapan kursus Pelatihan Guru dan Cambridhe ESOL tes pengajaran.
Para Pelatih Ini sudah memebrikan pelatihan kepada lebih dari 800 guru di 3 propinsi target ELTIS ( Jawa Timur, NTB dan Sulawesi Selatan) melalui kursus perbaikan Bahasa Inngris sampai 10 hari (ELU)dam 5 Modul Pelatihan Guru Bahasa Inggris secara komunikatif (CELTT)
ELTIS juga memeberikan pelathan kepada 600 Kepala Sekolah Madrasay melalui 3 hari Pelatihan Manajemen berbasis sekolah. Setiap sekolah ELTIS menerima Paket Materi dan pelatihan dan materi ini juga tersedia dalam format yang bisa diunduh (download) dari situs web ELTIS – ww.lapis-eltos.org.
Pastikan untuk memerikasa situs web ELTIS untuk semua infromasi mengenai hasil kerja mereka dengan sekolah-sekolah dan guru-duru.
Kang Guru Indonesia tealh bekerja sama dengan ELTIS dengan memberi bantuan program-program pelatihan guru-guru ELTIS. Sue dan Ayu sudah melakukan 12 pelatihan sehari sejak tahun 2008. Pelatihan ini mengulas perkembangan ketrampilan menyimak di dalam kelas dan menyediakan informasi mengenai materi-materi Kang Guru dan barang-barang yang tersedia untuk guru-guru. O ya, ELTIS menyediakan satu paket materi Guru SMP dari KGI untuk guru-guru mereka.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
An important health partnership tackling maternal mortality
Maternal mortality is when a woman dies during pregnancy, delivery, or immediately after delivery of her baby and up to 42 days after. Neonatal mortality is when a baby dies at any time between birth until it is 28 days old. Deaths of mothers and babies can be prevented. Prevention begins at home. When planning the pregnancy, planning for a safe place to deliver the baby, and with the best person to support the birth of the baby. Families, husbands, and mothers themselves should make sure the woman’s health and nutrition is good. When the baby is born it should happen in a well equipped health centre with a trained midwife or doctor. Community preparedness, and support, for pregnancy is important for success. Maternal or neonatal deaths can also be prevented by having well equipped health centres and well trained and competent health staff to manage any problems that may arise.
As an AusAID project, the Australia Indonesia Partnership for Maternal and Neonatal Health (AIPMNH) is working with the governments in 9 districts in NTT to help reduce maternal and neonatal mortality. The Partnership includes BAPPEDA (Regional Development Planning Board), the Health Department, Women’s Empowerment, Community Empowerment, and the Family Planning Bureau.
Mr. John McComb and his team at AIPMNH work with partners at community level through Desa Siaga, Posyandu, PNPM, and other local organziations to mobilize community and family care for women and new born babies. The AIPMNH also works with health service providers in health centres and hospitals to make sure staff are well trained and have the right equipment and supplies.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Kemitraan kesehatan yang penting menangani kematian ibu
Kematian Ibu adalah ketika wanita meninggal dalam masa kehamilan, pada saat melahirkan, atau segera setelah melahirkan bayinya dan sampai 42 hari ke depannya. Kematian Neonatal adalah ketika bayi meninggal dalam kurun waktu antara masa kelahiran sampai berumur 28 hari. Kematian Ibu dan bayi bisa dicegah. Pencegahan dimulaidi rumah. Ketika merencanakan kehamilan, merencanakan tempat yang aman untuk melahirkan bayinya, dan dengan orang yang terbaik untuk mendukung kelaihran bayi tersebut. Keluarga, suami dan Ibu sendirilah yang seharusnya memastikan kesehatan wanita dan nutrisinya bagus. Ketika bayi dilahirkan, harus dilakukan di pusat kesehatan dengan peralatan lengkap dengan bidan dan dokter yang terlatih. Kesiapan masyarakat, dan dukungan, untuk kehamilan itu penting untuk keberhasilan. Kematian Ibu dan bayi yang baru lahir bisa juga dicegah dengan adanya pusat kesehatan yang memadai dan karyawan yang terlatih dan kompeten untuk mengatasi masalah-masalah yang mungkin muncul.
Sebagai satu proyek AusAid, Kemitraan Indonesia Australia untuk Kesehatan Ibu dan Bayi baru lahir ( KIAKIB) bekerjasama dengan pemerintah di 9 daerah kabupaten di NTT untuk membantu mengurangi kematian Ibu dan bayi baru lahir.Kemitraan itu melibatkan BAPPEDA ( Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), Departemen Kesehatan, Pemberdayaan Wanita, Pemberdayaan Masyarakat, dan Biro Keluarga Berencana.
Bapak John McComb beserta timnya di KIAKIB bekerja dengan mitra di tingkat masyarakat melalui Desa Siaga, Posyadu, PNPM, dan organisasi-organisasi local lainnya untuk menggalakkan kepedulian masyarakat dan keluarga untuk wanita dan bayi yang baru lahir. KIAKIB juga bekerja dengan penyedia sarana kesehatan di pusat-pusat kesehatan dan rumahsakit untuk memastikan karyawan terlatih dan mempunyai peralatan yang tepat dan persediaan.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
The Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction
On October 30th, a devastating 7.6 magnitude earthquake struck Padang, followed by another large earthquake the next day. Over 1000 people died and over 200,000 were made homeless. In an effort to contribute to the Government of Indonesia’s assessment of the impact, the new Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction has drawn on its scientific skills and partnerships to undertake a field assessment of the damaged buildings with the Institute of Technology Bandung and Geoscience Australia.
The Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction was jointly announced by the Australian Prime Minister and the Indonesian President in late 2008. It reflects Indonesia and Australia’s concern over the growing impact of disasters in Indonesia and the region. Indonesia is one of the most disaster prone countries in the world. The high frequency of natural hazards combined with big population centres creates a very high risk of natural disasters. In particular, the risk of earthquake, volcanic eruption and tsunami is higher than for many other countries in Asia and indeed the world. The recent Padang earthquake is a tragic reminder of this high risk.
The Facility is located in Jakarta and brings together Australian and Indonesian scientists in an effort to better understand disaster risks in Indonesia. This scientific information is then used to support training and planning exercises for national and provincial disaster managers. The outcomes are also shared with the region through partnerships with APEC, ASEAN and the United Nations. In this way, the Facility will build Indonesian and regional capacities to better manage the risk of natural disasters.
The Facility’s Padang damage assessment, undertaken with Institute of Technology Bandung and Geoscience Australia, will contribute to the Government of Indonesia’s Post-Disaster Needs Assessment. This will provide information on how the communities of Padang can be supported to heal, recover and grow.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Fasilitas Indonesia –Australia untuk mengurangi bencana
Pada tanggal 30 October, gempa dahsyat berkekuatan 7,6 melanda Padang, diikuti dengan gempa besar yang lain keesokan harinya. Lebih dari 1000 korban meninggal dan lebih dari 200,000 orang kehilangan tempat tinggal. Dalam usahanya untuk membantu pemerintah Indonesia dalam mengevaluasi dampak gempa, Australia-Indonesia Facility for Disaster Reduction(AIFDR) yang baru telah menyumbangkan keahlian mereka untuk mengevaluasi gedung-gedung yang rusak bekerjasama dengan Institut Tekhnologi Bandung dan Geoscience Australia.
AIFDR diumumkan bersama-sama oleh Perdana Menteri Australia dan Presiden Indonesia pada akhir tahun 2008 dan mencerminkan kepedulian Indonesia dan Australia terhadap dampak bencana di Indonesia dan wilayahnya. Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang rentan bencana alam. Kondisi alam yang berbahaya digabung dengan jumlah penduduk yang padat membuat resiko terjadinya bencana alam lebih besar. Khususnya, resiko gempa, gunung meletus dan tsunami lebih tinggi dibandingkan Negara-negara lain di Asia dan bahkan di dunia. Gempa Padang yang terjadi baru-baru ini adalah bukti tragis.
Pelayanan ini bertempat di Jakarta dan mengumpulkan para ahli dari Australia dan Indonesia untuk memahami lebih baik resiko-resiko bencana alam di Indonesia. Informasi ilmiah ini kemudian digunakan untuk mendukung pelatihan dan latihan perencanaan yang diberikan untuk para pengelola bencana provinsi dan nasional. Disamping itu, hasil yang diperoleh juga akan dibagi dengan negara sekitarnya melalui kerjasama dengan APEC, ASEAN dan PBB. Dengan cara seperti ini, diharapkan adanya peningkatan kapasitas atau kemampuan Negara Indonesia dan regional untuk menangani resiko bencana alam.
Penilaian terhadap kerusakan akibat bencana di Padang yang dilakukan bersama oleh ITB dan Geoscience Australia akan memberikan kontribusi pada penilaian yang dilakukan pemerintah Indonesia tentang kebutuhan pasca bencana. Informasi tentang bagaimana mendukung penduduk Padang untuk bisa sembuh, bangkit, dan berkembang.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
DEPLU Youth Ambassadors to Australia (19?)
My name is Balqis. I am one of Youth Ambassadors of Indonesia 2009. All of us met Kevin from Kang Guru and the Ambassador of Australia in Indonesia when my friends and I visited the Australian Embassy in Jakarta. After that we all went to Perth in Australia. Perth is a very natural and very beautiful city and its citizens are so friendly. On the first day a delegation of members of the Western Australian Parliament welcomed us in their office. They gave us some snacks and drinks. And after giving us a welcoming speech they kindly gave us a free ticket to the Perth Zoo. On Day 2 we visited a local high school and received information about the system of teaching Bahasa Indonesia there. And I was very surprised because they have very, very brilliant ideas about how to teach Indonesian language and make their students enjoy it. On the third day we did our live theater performance at Perth College. The students liked our performance very much. Visiting Perth was an unforgettable experience so thanks Australia that you are a good neighbour to Indonesia and I trust that Indonesia and Australia will have a good relationship forever. Thanks Kang Guru.
Atina Balqis Izzah, a member of the 80 strong DEPLU Youth Ambassadors of Indonesia 2009 delegation to Australia in August 2009, attends Asshiddiqiyah Islamic Boarding School in Jakarta.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Duta-duta pemuda Deplu ke Australia
Nama saya Balqis dan saya adalah salah satu duta pemuda dari Indonesia tahun 2009. Sebelum kami berangkat ke Perth, seluruh duta pemuda bertemu dengan Kevin dari Kang Guru dan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kedutaan Australia, Jakarta. Perth adalah sebuah kota yang sangat alami dan indah dan penduduknya juga sangat bersahabat. Pada hari pertama, perwakilan dari Anggota Parlemen Australia Bagian Barat menyambut kami di kantor mereka. Mereka menyuguhkan minuman dan makanan ringan, lalu setelah pidato penyambutan singkat, mereka memberi masing-masing sebuah tiket masuk ke Kebun Binatang Perth. Pada hari kedua, kami mengunjungi sebuah SMA lokal dan mendapat informasi tentang sistem pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah itu. Saya sangat terkejut dengan ide-ide mereka yang sangat cemerlang untuk mengajarkan Bahasa Indonesia sehingga murid-murid sangat menikmatinya. Di hari ketiga kami menampilkan pertunjukan teater kami di Perth College dan para siswa sangat menyukai pertunjukan kami. Mengunjungi Perth merupakan sebuah pengalaman yang tidak akan saya lupakan, terima kasih Australia karena telah menjadi tetangga yang bik bagi Indonesia dan saya percaya bahwa hubungan baik kedua negara akan berlangsung selamanya. Terima Kasih Kang Guru.
Atina Balqis Izzah, anggota perwakilan duta pemuda DEPLU Indonesia untuk Australia pada Agustus 2009, bersekolah di Sekolah Asrama Islam Asshiddiqiyah Jakarta.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
BRIDGE - linking teachers, schools and students (20?)
"I’d like to tell you about our BRIDGE link with Australia - SMAN 1 Denpasar and Mornington Secondary College in Victoria, Australia. We have already agreed to make a stronger relationship between us. Our students are communicating with each other by letters, emails and on Facebook. I also want to inform you that the Assistant Principal of MSC visited our school in May, 2009, looking to make a sister-school relationship. On September 24, Mrs. Sarah Burn, Principal of MSC, and Megan Burns, a Level 8 student visited our school to share curriculum ideas and teacher and student exchanges in the future. In mid-October this year twenty-two students and one teacher from our school went to Melbourne and visit MSC. Next year, our school will send two science teachers to visit MSC for two weeks".
Cok Anom - SMAN 1 Denpasar
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
BRIDGE – menghubungkan guru, sekolah dan siswa
"Saya ingin bercerita mengenai hubungan BRIDGE kami dengan Australia – SMA 1 Denpasar dan Mornington Secondary College di Victoria, Australia. Kami sudah sepakat untuk membentuk hubungan yang kuat di antara kami.Siswa-siswa kami berkomunikasi dengan satu sama lain dengan surat, email dan facebook. Saya juga ingin menginformasikan kepada Anda bahwa wakil kepala sekolah dari MSC mengunjungi sekolah kami pada bulan Mei 2009, berharap untuk membentuk hubungan sister-school. Pada tanggal 24 September, Ibu Sarah Burn, Kepala Sekolah MSC, dan Megan Burns, murid kelas 8 mengunjungi sekolah kami untuk membagi ide kurikulum dan pertukaran guru dan siswa ke depannya. Di pertengahan Oktober tahun ini 22 siswa dan satu guru dari sekolah kami pergi ke Melbourne dan mengunjungi MSC. Tahun depan, sekolah kami akan mengirim dua guru Ilmu Pengetahuan untuk mengunjungi MSC selama dua minggu".
Cok Anom – SMAN 1 Denpasar
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Kang Guru In the Classroom (21?)
In mid-October KGI traveled to Central Kalimantan to present a very special teacher workshop at Sekolah Bina Cita Utama (BCU), Sei Gohong, Bukit Batu about 36 km from Palangkaraya. Karsten McDonald is an Australian Volunteer International (AVI) at the school and he invited KGI to visit. The workshop featured the new KGI ‘Listen and Learn with Kang Guru Indonesia’ teacher materials - the first time ever. Some teachers traveled for 5 hours to be a part of this workshop - thanks for that. For most participants, this was the first teacher workshop they had ever been to.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Building Exchange Links Locally
When teachers and students think of exchanges they usually think about going to another country. That is not always possible BUT valuable exchanges can also happen locally. The experience gained by teachers and students can be just as valuable as going to another country.
Recently BCU students had the opportunity to work with an Australian health professional. They carried out research on malaria. This is a health issue that affects many villages in all parts of Indonesia. Students created a powerpoint presentation and wrote and enacted a short drama. Then they presented their work to over 350 students in 6 different local schools. The main message was prevention and early detection of malaria in order to save lives.
BCU school also participated in a direct student exchange with nearby schools. In May 2009, ten SMP students from Palangkaraya spent a week in classes at BCU. They enjoyed the opportunity of being able to practice and improve their English, and to make new friends. In the feedback forms students commented that the school environment and classroom practices were different to what they were used to.
These types of exchanges, whether teacher to teacher, school to school, or student to student are valuable and positive ways to bridge differences and to develop friendships.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Kang Guru Di Dalam Kelas
Di pertengahan bulan Oktober KGI melakukan perjalanan ke Kalimantan Tengah untuk memberikan pelatihan guru yang sangat istimewa di Sekolah Bina Cita Utama (BCU), Sei Gohong, Bukit Batu sekitar 36 km dari Palangkaraya. Karsten McDonald adalah seoarang sukalelawan Internasional Australia (AVI) di sekolah itu dan beliau mengundang Kang Guru untuk berkunjung. Pelatihan itu mengulas materi guru KGI yang baru ‘ Listen and Learn with Kang Guru Indonesia’ – untuk pertama kalinya. Beberapa guru melakukan perjalanan selama 5 jam untuk mengikuti pelatihan ini – erimkasih untuk itu. Bagi sebagian besar peserta, ini adalah pelatihan guru pertama yang mereka pernah ikuti.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Membina hubungan pertukaran secara local
Ketika guru-guru dan murid murid berpikir tentang pertukaran, mereka selalu membayangkan pergi ke luar negeri. Sebenarnya, hal ini tidak selalu benar karena pertukaran bisa juga terjadi di daerah setempat. Pengalaman yang diperoleh gur-guru dan murid-murid tersebut sama berharganya dengan pergi ke luar negeri.
Beberapa waktu yang lalu, siswa-siswa BCU mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan para pekerja kesehatan dari Australia dalam melakukan penelitian mengenai malaria. Malaria adalah masalah yang terjadi di banyak desa di seluruh Indonesia. Siswa-siswa ini membuat presentasi dengan powerpoint dan menulis serta bermain drama. Lalu mereka mempresentasikan pekerjaan mereka dihadapan lebih dari 350 siswa yang berasal dari 6 sekolah setempat. Pesan utama dari presentasi ini adalah pentingnya pencegahan dan pengenalan awal terhadap malaria untuk menyelamatkan jiwa.
Sekoalh BCU juga terlibat dalam program pertukaran siswa langsung dengan sekolah terdekat. Pada bulan Mei 2009, sepuluh siswa dari Palangkaraya berada di kelas-kelas BCU selama satu minggu. Mereka berkesempatan untuk berlatih dan meningkatkan bahasa Inggris mereka serta mencari teman baru. Di formulir umpan balik mereka, mereka berkomentar bahwa lingkungan sekolah dan suasana kelas sangat berbeda dengan yang biasa mereka hadapi.
Jenis-jenis pertukaran ini, baik guru ke guru, sekolah ke sekolah, atau siswa ke siswa memang sangat berharga dan merupakan satu cara yang positif untuk menjembatani perbedaan dan mengembangkan persahabatan.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
English is TOPS in Ngawi (22?)
On November 12th, Kevin boarded the Argowillis in Surabaya to travel to Madiun. Pak Adli, from Ngawi, togther with several students picked him up for the one hour drive to Ngawi. What a huge surprise awaited him at SMPN 2 Ngawi. Hundreds of students were assembled to present a very clever dance and singing routine using the letters K A N G G U R U. There were other activities and all presented to celebrate KGI’s 20th Anniversary in Indonesia. At the second meeting at SMK Muhammadiyah 1 that afternoon there were a further 400 students. Ngawi is certainly a good place for English. On Saturday Kevin presented a Teacher Workshop for 60 teachers from the Ngawi area. Activities given to the teachers were mainly taken from KGI’s new ‘Listen and Learn with Kang Guru Indonesia’ – SMP level.
"Hello, I’m Yusmaida, an English teacher from Ngawi, East Java. After the workshop which has been held on Saturday, 14th November 2009 at Notosuman Ngawi, I just want to say big thanks to you and Kang Guru Indonesia because I can motivate my students to be more active in the class. The methods that you have given absolutely help me to make English become fun and easy to be learnt. Especially for teaching vocabulary and listening. like your suggestion I have already done the activities for 3 days. All of gifts which you have given to me can make my students be very happy. It is not only because of the gifts but also because it was their own success".
Yusmaida, English teacher in Ngawi
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Bahasa Inggris TOPS di Ngawi
Pada tanggal 12 November, Kevin naik kereta Argowilis di Surabaya untuk melakukan perjalanan ke Madiun. Pak Adli, dari Ngawi bersama dengan beberapa siswa menjemput saya untuk menempuh perjalanan dengan mobil selama satu jam ke Ngawi. Benar-benar sebuah kejutan besar menunggunya di SMPN2 Ngawi. Ratusan siswa berkumpul untuk mepersembahkan tarian yang sangat pintar dan nyanyian dengan menggunakan huruf-huruf bertuliskan KANGGURU. Ada juga aktivitas-aktivitas lainnya dan semua dipersembhkan untuk memperingati Ulang Tahun Kang Guru yang ke 20 di Indonesia. Pada pertemuan kedua di SMK Muhammadyah 1 siang itu ada 400 siswa lagi. Ngawi pastinya adalah tempat yang bagus untuk Bahasa Inggris. Pada hari Sabtu Kevin memberikan Pelatihan Guru untuk 60 guru dari daerah Ngawi. Sebagian besar aktivitas – aktivitas yang diberikan kepada guru-guru diambil dari ‘Listen and Learn with Kang Guru Indonesia’ – tingkat SMP.
"Halo, saya Yusmaida, guru bahasa Inggris dari Ngawi, Jawa Timur. Setelah pelatihan yang diadakan pada hari Sabtu, 14 November 2009 di Notosuman Ngawi, Saya hanya ingin mengucakan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Anda dan Kang Guru Indonesia karena saya bisa meberi semangat siswa-siswa saya untuk menjadi lebih aktif di kelas. Metode yang Anda berikan sangat membantu saya untuk menjadikan Bahasa Inggris lebih menyenangkan dan mudah untuk dipelajari. Terutama untuk mengajar kosa kata dan menyimak. Seperti usulan Anda saya sudah melakukan aktifitas-aktifitas itu selama tiga hari. Semua pemberian yang diberikan kepada saya membuat siswa-siswa saya senang. Bukan karena hadianya saja tetapi juga karena keberhasilan mereka".
Yusmaida, Guru Bahasa Inggris di Ngawi.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Volunteers and Charity Events in Australia (23?)
Many charity events are held in Australia every year to promote awareness of a variety of illnesses and problems. These programs involve individuals and communities where they can assist by giving donations, participating or volunteering their time. Charity event organisers, usually volunteers, always make these events attractive and different. The main purpose is to reach the wider community to get them involved. Many charity events even become regular annual events.
"What makes charity events interesting is the idea of involving people to take part in the program is often unique, they ask people to colour their hair, shave their head or put on silly read plastic noses and people do that to help other people. So besides helping, people can also have fun!- I think it’s great!"
Adi, an ADS student in Australia
Here are some examples of annual charity events in Australia -
Red Nose Day raises money for SIDS (Sudden Infant (bayi) Death Syndrome) and Kids, an organisation focusing on research and support for families affected by SIDS. Money is raised by selling soft red clown noses, pins, and teddy bears, etc. If you see some people wearing red noses when you are in Oz in June, you know that they are not clowns.
The World’s Greatest Shave (TWGS) raises funds for The Leukaemia Foundation. On that day (in March) teams from TWGS will be found on almost every corner of the street ready with coloured hairspray and a shaver. People who want to donate money can either color their hair or have their head shaved! Many young people do it. The money raised is used to support leukaemia research and provide accommodation for families close to the hospitals where children are receiving treatment.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Sukarelawan dan Acara-acara Penggalangan Dana di Australia
Banyak acara penggalangan dan diadakan di Australia setiap tahunnya untuk mempromosikan kesadaran akan berbagai macam penyakit dan berbagai masalah. Program ini melibatkan individu dan masyarakat dimana mereka bisa membantu dengan cara memberikan sumbangan, berpartisipasi atau memberiakan waktu mereka secara sukarela. Pengurus acara penggalangan dana, biasanya para sukarelawan, selalu mebuat acara ini menarik dan berbeda. Tujuan utamanya adalah untuk menjangkau masyarakat luas untuk mengajak mereka terlibat. Banyak acara acara penggalangan dana bahkan menjadi acara tahunan.
“Yang mebuat acara penggalangan dana menarik adalah ide melibatkan orang untuk ikut serta dalam program ini selalu unik, mereka meminta orang untuk mewarnai rambut mereka, menggunduli kepala mereka atau memasang hidung –hidungan merah dari plastic dan orang melakukannya untuk membantu orang lain. JAdi selain membantu, orang juga bisa bersenang-senang! – Menurut saya itu luar biasa"!
Adi, siswa ADS di Australia
Di bawah ini adalah contoh-contoh acara-acara penggalangan dana tahunan di Australia
Hari Hidung Merah mengumpulkan uang untuk SIDS (Sindrom kematian mendadap pada bayi) dan anank, organisasi ini memfokuskan penelitian dan dukungan kepada keluarga-keluarga yang terkena SIDS. Uang dikumpulkan dengan cara menjual hidung-hidung badut empuk warna merah, bros, dan boneka beruang dll. Kalau Anda melihat beberapa orang memakai hidung-hidung merah ketika Anda berkunjung ke Asutralia pad abulan Juni, Anda tahu bahwa mereka bukan badut.
The World’s Greatest Shave (TWGS) (Pemangkasan rambut terbesar di dunia) mengumpulkan dana untuk Yayasan Leukimia. Pada hari itu (di bulan Maret) tim TWGS akan ditemui di hamper setiap sudut jalan siap dengan semprotan pewarna rambut dan pemangkas. Orang yang ingin menyumbangkan uang bisa mewarnai rambut mereka atau kepalanya digunduli!Banyak anak muda melakukannya. Uang yang terkumpul digunakan untuk membantu penelitian leukemia dan menyediakan akomodasi untuk keluarga-keluarga yang dekat dekat dengan rumahsakit dimana anak-anak menerima perawatan
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Drink from the tap?
Take a bath for not more than 4 minutes?
Keep the bathroom floor dry?
When I was in Sydney as an Indonesian Youth Ambassador for Culture in 2008, we stayed in youth hostel for the first few days. Then our supervisor gave us some introductory information about Australian culture and customs. He told us that we can get drink water from water tap (kran). That‘s safe. “If you stay with your host family you can drink from water faucet/tap there. It‘s safe, don‘t worry'. Then he drank the water from the tap in the bathroom. I was surprised and didn‘t believe it. But it's true!
The second ridiculous thing for me at that time was when our supervisor said, “You are requested to take a bath in under 4 minutes”. I laughed coz I usually spend 10 minutes for my bath. Then he said, "This happens coz in Australia there is less water than in Indonesia. And please keep the floor of the bathroom dry.” What? I could not stop laughing. "How can we have a bath and dry our body and keep the floor dry", I asked.
For the first days with my hosts in Oz I felt a bit awkward with all of these new things but finally I understood I was IN Australia and not Indonesia. I sort of adjusted to these new things in just 2 weeks coz I had a very welcoming and friendly host family who were keen to look after me.
Raja Armansyah, an AIYEP participant 2008
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Minum dari keran?
Mandi kurang dari 4 menit?
Jaga agar lantai kamar mandi tetap kering?
Ketika saya berada di Sydney sebagai Duta Budaya Indonesia tahun 2008, kami tinggal di hostel pemuda (youth hostel) selama beberapa hari. Kemudian, pengawas kami memberikan kami informasi pengenalan budaya dan kebiasaan di Australia. Beliau memberitahu kami bahwa kami bisa minum air langsung dari keran. Katanya aman. “ Jika kamu tinggal dengan sebuah keluarga, kamu boleh minum air dari keran. Jangan khawatir karena aman”. Lalu beliau meminum air langsung dari keran di kamar mandi. Saya terkejut dan tidak mempercayainya. Tapi itulah kenyataanya.
Hal kedua yang cukup konyol bagi saya adalah ketika pengawas saya berkata, “ Kamu diharapkan untuk mandi kurang dari 4 menit.” Saya tertawa karena biasanya saya menghabiskan waktu 10 menit unutk mandi. Lalu beliau berkata lagi, “ Ini terjadi karena di Australia air lebih sedikit daripada di Indonesia. Dan jaga agar lantai kamar mandi tetap kering.” Apa? Saya tidak bisa berhenti tertawa. “ Bagaimana kita bisa mandi dan mengeringkan badan tanpa membuat lantai basah?” saya bertanya.
Saat hari- hari pertama saya dengan keluarga di Australia, saya merasa canggung dengan hal-hal baru ini namun akhirnya saya mengerti bahwa saya di Australia bukan di Indonesia. Saya akhirnya bisa beradaptasi dalam waktu dua minggu karena saya memiliki keluarga Asutralia yang ramah dan menerima saya serta sangat memperhatikan saya.
Raja Armansyah, an AIYEP participant 2008
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
KGI has included this bahasa Gaul version of the DPDF article about water and bathrooms in Australia. We hope you like it.
Vicki Richardson, an Indonesian teacher at Tranby College in Western Australia requested this bahasa Gaul version as her students actually study bahasa Gaul as a part of their Indonesian language course at school.
Minum dari keran?
Mandi kurang dari 4 menit?
Jaga biar lantai kamar mandi tetep kering?
Waktu aku ada di Sydney jadi Duta Budaya Indonesia tahun 2008, kita nginep di hostel pemuda beberapa hari. Terus, pengawas kita ngasih informasi pengenalan budaya dan kebiasaan di Australia. Dia ngasih tahu kalau kita bisa minum air langsung dari keran. Katanya aman.
“Kalau kamu tinggal sama sebuah keluarga, kamu boleh minum air dari keran. Jangan kuatir soalnya aman”.
Terus, dia minum air langsung dari keran di kamar mandi. Aku kaget dan nggak percaya. Tapi itulah kenyataanya.
Yang kedua yang agak konyol bagiku adalah waktu pengawasku ngomong,
“Kamu usahain mandi kurang dari 4 menit.”
Aku ketawa soalnya biasanya aku ngabisin waktu 10 menit buat mandi. Terus, dia ngomong lagi, “soalnya di Australia air lebih sedikit daripada di Indonesia. Dan jaga biar lantai kamar mandi tetep kering.”
Apa? Aku nggak bisa berhenti ketawa.
“Gimana kita bisa mandi dan ngeringin badan tanpa buat lantai basah?”
Aku nanya. Saat hari- hari pertamaku sama keluarga di Australia, aku ngerasa canggung sama hal-hal baru ini tapi akhirnya aku ngerti kalau aku ada di Australia bukan di Indonesia. Aku akhirnya bisa adaptasi dalam dua minggu soalnya aku punya keluarga Australia yang ramah, nerima aku dan merhatiin aku banget.
Some Observations about life in Australia
Adi Witono Waluyo, a long-time friend of KGI, has just returned from his Australian Development Scholarship (ADS) study in Australia. He was in Melbourne for two years so what did he find interesting while living in the Land DownUnder?
Adi thinks Indonesia beats Australia with -
• reasonably cheap prices (food, transport, petrol, groceries, accommodation, etc).
• more consistent weather patterns (weather can change from day to day in OZ).
• the friendliness of people.
• shops open earlier and closing later (some even open till midnight).
The funniest aspects of Australian culture?
• Football players wear very short shorts during winter games and girls seem to be under-dressed when they go out on Friday nights in winter!
• The odd habit of having ice cream in winter.
• Big portions of food in restaurants, fast food outlets and stalls, etc.
• Drinking beer as if drinking water.
• Public holidays for special events - Melbourne Cup, Boxing Day, etc.
A few VERY surprising things -
• Many people know where Bali is, but NOT Indonesia!
• The extreme heat in summer - up to 48 degrees!
• Many regulations - water restrictions that prohibit people from washing their cars, watering gardens,
cutting trees - all require permission from local councils.
• Day light saving! I still don’t understand this! The sun goes down around 9 - 10pm in the summer!
• Australians’ addiction to having tans and soft drinks.
Adi Witono Waluyo, Teacher - IALF Bali
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Adi Witono Waluyo, seorang teman lama KGI baru saja kembali dari tugas belajar di Australia yang didanai oleh Australian Development Scholarship (ADS). Dia menghabiskan waktu selama dua tahun di Melbourne, dan mari kita simak hal-hal menarik apa saja yang dia temukan ketika tinggal di Negeri Kangguru?
Adi berpendapat Indonesia mengalahkan Australia dalam hal -
• Harga-harga yang lumayan murah untuk makanan, bahan bakar, angkutan, bahan makanan, penginapan, dll)
• Pergantian cuaca yang lebih teratur (cuaca bisa berubah drastis dalam hitungan hari di Australia)
• Masyarakat yang bersahabat
• Toko-toko buka lebih cepat dan tutup lebih lama (beberapa bahkan buka sampai tengah malam)
Hal-hal lucu mengenai budaya Australia-
• Para pemain sepak bola memakai celana yang sangat pendek ketika pertandingan-pertandingan musim dingin dan para gadis sepertinya berpakaian terlalu terbuka ketika keluar pada malam jumat di musim dingin.
• Kebiasaan lama makan es-krim di musim dingin.
• Porsi makanan yang besar di restoran-restoran, toko makanan cepat saji dan warung-warung makan, dll
• Minum bir seperti minum air
• Libur nasional untuk acara-acara khusus seperti, Melbourne Cup, Boxing Day (sehari setelah Natal), dll.
Beberapa hal yang sangat mengejutkan-
• Banyak orang tahu dimana Bali tapi tidak Indonesia.
• Cuaca yang sangat panas-bahkan mencapai 48 derajat.
• Banyaknya peraturan-peraturan, contohnya: peraturan mengenai penggunaan air yang melarang masyarakat mencuci mobil, menyiram tanaman, memotong pohon- semua hal itu memerlukan ijin dari pemerintah setempat.
• Hari penghematan listrik! Hal ini tidak bisa dimengerti padahal matahari terbenam jam 9-10 malam di musim dingin.
• Kecanduan masyarakat Australia untuk mendapatkan warna kulit kecoklatan dan minuman ringan.
Adi Witono Waluyo, Guru di IALF Bali
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
KGI's Champions creating links and bonds
About 100 students gathered at SMK Palebon Semarang on October 14th for a cultural day organized by Keyko through wonderful cooperation between SMK Palebon, The English Soul Community English language club, INDOSHELTER and Kang GURU Indonesia.
The day was opened by students of SMK Palebon Semarang who performed Tari Gambyong. It’s a Javanese dance and was dedicated to all the guests attending the show. Mrs. Jumilah, Principal of SMK Palebon said her school was very happy to host the event as it can motivate the students to be more interested to learn English and learn about other cultures. Mrs. Mardian talked about her country, the Netherlands. She wore the traditional Dutch costume and talked about her work with INDOSHELTER.
The program continued with a performance by INDOSHELTER students and an Indian dance called Dandiya. It was choreographed by Mrs. Ritu Kumar and Keyko. Mrs. Ritu Kumar spoke about her country, India. Kevin from KGI talked about Australia and Kang Guru in Indonesia. He taught the OZ song ‘G’day G'day’ and everybody sang together - it was terrific! Thanks to all of the sponsors and all the media who published our programs - TV-Ku Semarang, Harian Suara Merdeka, Harian Semarang and Meteor.
Keyko is a KGI Champion. Keyko's primary activity in Semarang is with INDOSHELTER, working with street children. Check the KGI website for more information www.kangguru.org/kgrechampions.html
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
KGI Champions - International Youth Conference in September 2009
In September 2009, Asep, Suryadi, Wibowo attended a special conference set up by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). The theme of the conference was “The Role of Youth to Establish Peace: Toward a Future World without Violent Radicalization”. UNESCO worked together with the State Ministry of Youth and Sport of the Republic of Indonesia in collaboration with the National Commission of Indonesia to UNESCO of the Ministry of National Education. One hundred and sixty two participant youths from 22 countries were there.
(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)
Kira-kira 100 siswa berkumpul di SMK Palebon Semarang pada tanggal 14 Oktober dalam rangka hari budaya yang diatur oleh Keyko melalui kerjasama yang baik antara SMK Aplebon, klub bahasa Inggris The English Soul Community, INDOSHELTER, dan Kang Guru Indonesia.
Hari budaya ini dibuka oleh siswa-siswa SMK Palebon dengan tarian Gambyong. Tari ini berasal dari Jawa dan disuguhkan untuk semua tamu yang menghadiri acara tersebut. IBu Jumilah, kepala sekolah SMK Palebon menyampaikan bahwa sekohannya sangat senang menjadi tuan rumah dalam acara tersebut karena ini akan memotivasi siswa-siswa untuk lebih tertarik belajar bahasa Inggris dan budaya lain. Ibu Mardian berbicara tentang negaranya, Belanda. Beliau mengenakan pakaian tradisional Belanda dan berbicara tentang pekerjaan di INDOSHELTER.
Acara berlanjut dengan penampilan dari siswa siswi INDOSHELTER dan tarian India DANDIYA. Tarian ini dirancang oleh Ibu Ritu kUmar dan Keyko. Ibu Ritu Kumar berbicara tentang negaranya, India. Kevin dari KGI berbicara tentang Australia dan Kang Guru di Indonesia. Beliau mengajrkan satu lagu Asutralia G’Day G’day dan semua orang bernyanyi bersama – luar biasa ! Terma kasih untuk semua sponsor dan media yang meliput acara ini. TV-Ku Semarang, Harian Suara Merdeka, Harian Semarang dan Meteor.
Keyko adalah seoarang KGI Champion. Ativitas utama Keyko adalah bersama INDOSHELTER, bekerja dengan anak-anak jalanan. Cek situs web KGI untuk informasi lebih lanjut www.kangguru.og/kgrechampions.html
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Pada bulan September 2009 Kang Guru Champion; Asep dari Pontianak, Suryadi dari Madura dan Wibowo dari Medan menghadiri konferensi istimewa yang diselenggarakan oleh UNESCO. Tema konferensi adalah Peran Pemuda Untuk mewujudkan Perdamaian Menuju Dunia Yang Akan Datang tanpa Kekerasan dan Radikalisasi.
UNESCO bekerjasama dengan Kementrian Negara urusan Pemuda dan Olah Raga Indonesia, bekerjasama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO dibawah Mentri Pendidikan.
Sebanyak 162 peserta dari 22 negara hadir dalam acara tersebut.
(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link mp3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)
Dear KGI,
I just wanna say thank you so much for your kindness sending me the stickers I've asked you. I'm really sorry that it takes me so long to write you back informing that I have received the stickers because I've been busy preparing my third grade students for the National Exam. I know I shouldn't blame my activities because it's mu duty but I really didn't have time even just to check my e-mail.
You know what, the stickers have given me so much help. I gave the stickers for the students who have eagerly participated in lessons, for those who have won competition in class, for those who have correctly punctually finished their assignments, and many other occasions. My students get motivated as I gave them the stickers.
And about the MP3 podcast, I have downloaded some of them which I considered appropriate with my lesson plan. I copied the script and I modified the listening activities such as close procedures, retelling, and others. My students enjoyed a lot. For example about "Traditional Markets". They were really excited as I listened to it. It was such new amazing thing for them to finally find out that people abroad know so much about Indonesia.
I share the materials with my fellow English teachers and they thank me and YOU for those awesome records. They really hope they get the copy of the KGI magazine just like I have received. Therefore I suggest them writing you letter in English.
One more thing, I think one copy of the magazine, which is only for me, is not very effective if I use for my students. Could you tell me how to get more than one copy so they can be used by many more students in my school? Should I get approval from my headmaster to write you inquiring letter formally?
Well I think I have written so much, I look forward to receiving your reply soon. Thank you very much.
In case you need my school address:
Bebet Rusmasari Kundolini
Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Palopo
Jalan DR. Ratulangi, Balandai
Palopo, 91914
South Sulawesi