Jumping 'roosHome page

Australia Indonesia Partnership (AIP)
Latest News Travel In the Classroom Connection Clubs KGI in Indonesia
Forum Stories Joeys Oz Indo Connection KGI Staff
Bulletin/Magazine Podcast/Video Idioms Inggris Different Pond Different Fish KGI 20th Anniversary
Radio Competitions Quick Fix Interviews Contact Us

Home › March 2009 magazine translations and podcast audio

KangGuru Indoneia

Kang Guru Indonesia magazine podcasts for March 2009

Teachers of the Indonesian language in Australian schools have registered interest in articles from the March 2009. Kang Guru Indonesia, with assistance from the Indonesia Australia Language Foundation (IALF), has translated several these articles and produced audio versions of each articles.

Listen to the PODCASTs below - both English and Indonesian versions together with their tapescripts. These texts are taken from the March 2009 KGI magazine. We have included the original English language version together with a PODCAST for each.


We would appreciate your feedback on the material and the sound quality - thank you.


December 2009
September 2009
June 2009

 

Selected English language articles taken from KGI's March 2009 magazine

Indonesian translations of selected articles taken from the March 2009 KGI magazine prepared by KGI and IALF staff (also available on CD plus tapescripts)

+628199979XXXX
Dewa Ayu in Karangasem, Bali

My name is I Dewa Ayu Kristina Ratna Rutri. I’m in Year 11, SMA Negeri 1 Sidemen, Karangasem. I was in Darwin-Australia as an exchange student for 6 months last year. I’ve read this Kang Guru awesome magazine. It is very interesting! I also have read the planning ahead for March 2009 and I got an idea for something that might be quite interesting. Please post some Australian slang so that we can know all about that. By the way, if it is possible I really welcome KGI crew to come to my school, to see all around the school, and get together with many cheerful students here.

Dewa, please check out Idioms Inggris, page 3 and we'd love to come to your school soon, invite us!

March 2009 KGI magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

+628199979XXXX
Dewa Ayu di Karangasem, Bali (Track #1)

Nama saya I Dewa Ayu Kristina Ratna Rutri. Saya duduk di Kelas 11, SMA Negeri 1 Sidemen, Karangasem. Tahun lalu saya berada di Darwin, Australia, sebagai pelajar pertukaran selama 6 bulan. Saya sudah membaca majalah Kang Guru yang hebat ini. Menarik sekali! Saya juga sudah membaca rencana di muka untuk edisi Maret 2009 dan saya ada ide yang mungkin cukup menarik. Tolong bahas beberapa bahasa gaul Australia supaya kami bisa mengetahuinya. Ngomong-ngomong, saya senang sekali kalau kru KGI bisa datang ke sekolah saya, untuk melihat-lihat sekolah dan berkumpul dengan murid-murid yang ceria di sini.

Dewa, silakan lihat Idioms Inggris halaman 3 dan kami akan senang sekali berkunjung ke sekolah kamu segera. Undang kami, ya!

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

How much do things cost in Australia?

According to a recent international survey on the cost of living, Moscow is the most expensive city in the world to live in. You would have to be almost a millionaire to live in Moscow. So, what about cities in Australia? How expensive are they? Sydney, Australia's largest city, came 15th in the world ranking and Melbourne in Victoria came in 36th. It might appear to many Indonesians that Australian salaries are very high, but remember the cost of living in Australia is also very high. So, how much do things actually cost in Australia? Have a look at the table below. These are some of the average costs in Australian dollars (AUD$) for people, and for students, living and studying in Australian cities.

Can you match the costs with the icons?

 

March 2009 KGI magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Berapa harga barang-barang di Australia? (Track #2)

Menurut survey internasional belakangan ini tentang biaya hidup, Moscow adalah kota dengan biaya hidup termahal di dunia. Kamu harus punya uang hampir sebanyak yang dimiliki oleh seorang milioner untuk hidup di Moscow. Nah, bagaimana dengan kota-kota di Australia? Semahal apa biaya hidup di sana? Sydney, kota terbesar di Australia, berada di urutan ke-15 di dunia dan Melbourne di Victoria di urutan ke-36. Mungkin bagi banyak orang Indonesia, gaji di Australia tinggi sekali, tapi ingatlah, biaya hidup di Australia juga tinggi sekali. Nah, berapa sebenarnya harga barang-barang di Australia? Lihatlah tabel di bawah ini. Ini adalah beberapa harga rata-rata dalam Dolar Australia (AUD$) untuk orang, dan untuk pelajar dan mahasiswa yang tinggal dan belajar di kota-kota di Australia. Bisakah kamu memasangkan harganya dengan gambarnya?

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

During Feb '09 an AUD$1 was about Rp 7.400
rent $150 – $300 per week a kilo of apples $5.00
transport $50.00 per week a litre of milk $1.60
power/food/telephone $70.00 per week A hamburger $4.50
an audio CD $35.00 lunch at Uni $10.00 a day
a loaf of bread $2.30 a can of Coke $1.40
a kilo of rice $ 2.50 A cheap pair of jeans $50.00


haircut (men) $20.00 (women) $40.00


Cinema ticket $15.00

 

March 2009 KGI magazine link

Pada Feb '09 1 Dolar Australia sama dengan kira-kira Rp. 7.400
sewa rumah $150-$300 per minggu sekilo apel $5.00
transport $50.00 per minggu seliter susu $1.60
listrik/makanan/telefon $70.00 per minggu 1 hamburger $4.50
1 CD musik $35.00 makan siang di kampus $10.00 sehari
sebantal roti $2.30 sekaleng Coca-Cola $1.40
sekilo beras $2.50 Celana jins murahan $50.00


potong rambut (cowok) $20.00


potong rambut
(cewek)
$40.00


karcis bioskop $15.00

See the words in the green box below. The words in the left column are shortened from the original words on the right. Can you match them up?

barbie comfortable
bikie biscuits
bikkies crocodile
brekkie mosquito
Brizzie cigarette
comfy Brisbane
ciggie motorbike rider
croc Tasmania
evo sunglasses
mozzie breakfast
sunnies evening
telly barbecue
Tassie television
uni university

March 2009 KGI magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia

(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Lihatlah kata-kata di kotak hijau di bawah ini. Pasangkanlah kependekan kata di kolom kiri dengan artinya di kolom kanan. (Track #3)

barbie nyaman
bikie biskuit
bikkies buaya
brekkie nyamuk
Brizzie rokok
comfy Brisbane
ciggie pengendara sepeda motor
croc Tasmania
evo kacamata hitam
mozzie sarapan
sunnies malam
telly barbekyu
Tassie TV
uni universitas

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia

(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

A very bad day Down Under - February 7th, 2009

Indonesia is no stranger to natural disasters whether they be volcanic eruptions, floods, landslides or tsunamis. Australia has its own set of problems with natural disasters. Australia does not experience volcanic eruptions or even earthquakes on a regular basis but bushfires are top of the list where natural disasters are concerned Down Under.

Eka Farida from Pasuruan emailed KGI on Jan. 8th and asked about firestorms in Australia. Thanks Eka.

I am sorry to tell you that firestorms do occur in Australia especially in the southern states during the hot summer from Dec. to March each year. February 7th, 2009 was indeed a terrible day in the lives of so many australians. In Victoria bushfires, or firestorms, killed many, many people while destroying whole towns particularly in the southern state of Victoria.

Firestorms are when a wall of flames/fire moves extremely fast through an area. This area is usually very dry and generally it is bushland - hutan - or forest. Most of the areas destroyed on February 7th were bushland areas where people lived in small towns and on farms.

Ahwandi from Dolop-Madiun sent an SMS to KGI on Feb. 9th - I am sorry to hear of the forest fires in your country and I pray for the Australian people and give them my sympathy.

 

March 2009 KGI magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Hari yang Malang Sekali di Down Under – 7 Februari 2009 (Track #4)

Indonesia tidak asing lagi dengan bencana alam, apakah itu gunung meletus, banjir, tanah longsor atau tsunami. Australia mempunyai serangkaian masalah sendiri dengan bencana alam. Di Australia tidak ada gunung meletus atau gempa yang terjadi secara reguler, tetapi kebakaran hutan berada di urutan pertama pada daftar bencana alam yang memprihatinkan di Down Under.

Eka Farida dari Pasuruan mengirim e-mail kepada KGI pada 8 Januari dan bertanya tentang badai api di Australia. Terima kasih, Eka.

Dengan sedih saya memberitahu Eka bahwa badai api benar-benar terjadi di Australia terutama di negara-negara bagian selatan selama musim panas yang menyengat dari Desember sampai Maret setiap tahun. Tanggal 7 Februari 2009 adalah hari yang benar-benar menyedihkan dalam kehidupan banyak orang Australia. Di Victoria kebakaran hutan atau badai api menewaskan banyak orang dan memusnahkan kota-kota terutama di bagian selatan negara bagian Victoria.

Badai api terjadi ketika dinding api bergerak dengan sangat cepat ke sebuah wilayah. Wilayah ini biasanya sangat kering dan biasanya adalah wilayah hutan. Kebanyakan wilayah yang musnah pada 7 Februari adalah wilayah hutan di mana orang-orang tinggal di kota-kota kecil dan di tanah pertanian.

Ahwandi dari Dolop, Madiun, mengirim SMS kepada KGI tanggal 9 Feb – Saya sedih mendengar kebakaran hutan di negara Anda dan saya berdoa untuk orang-orang Australia dan menyampaikan rasa dukacita saya.

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

Service Stations in Australia

Service stations in Australia sell more than petrol. There is usually a shop where you can buy drinks, sweets, snacks, magazines and books. Sometimes there is a fast food outlet there too. There are always toilets too. Petrol stations in Australia are self-service. After filling up your car you go to the shop to pay. You tell the cashier which pump you used and he can check from a computer how much you owe. Free air and water are always available so you can add water to your engine or blow up your tyres. At some service stations there is a car wash and a repair workshop. Would you like to see service stations in Indonesia have these facilities?

March 2009 magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Pompa Bensin di Australia (Track #5)

Pompa bensin di Australia tidak hanya menjual bensin. Biasanya di sana ada toko di mana kamu bisa membeli minuman, permen, kudapan, majalah dan buku. Kadang-kadang ada outlet makanan cepat saji juga. Selalu ada kamar kecil juga. Pompa bensin di Australia itu swalayan. Sesudah mengisi mobil kamu dengan bensin, kamu pergi ke toko yang ada di pompa bensin itu untuk membayar. Kamu memberitahu kasir pompa yang mana yang kamu pakai dan dia bisa mengecek di komputer berapa uang yang harus kamu bayar. Air dan angin selalu tersedia sehingga kamu bisa menambahkan air ke dalam mesin mobil atau memompa ban. Di beberapa pompa bensin ada tempat cuci mobil dan bengkel. Inginkah kamu melihat pompa bensin di Indonesia dengan fasilitas-fasilitas ini?

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

How do you get to work?

In Australia, just like in Indonesia, many people travel to work in the city from the suburbs. So how do they get there? Many drive cars and that means there are rush hour traffic jams in all Aussie cities! Many people also use public transport. Catching a bus in Australia is quite different to Indonesia. Buses, trains and trams run on a schedule. The most popular routes may have buses every 10 minutes. Other services might run every couple of hours. Bus drivers only pick up and drop off passengers at bus stops. It is quite common for people to have to walk 15 or 20 minutes to their closest bus stop. You pay the driver as you get on. To save money and time many passengers buy pre-paid stored value cards. They can be used on all types of public transport. People over 65 can get reduced rates on public transport by applying for a travel card. Passengers are not allowed to eat or drink on public transport. No musicians are allowed! During rush hour public transport is very crowded and you may not get a seat. You are not allowed to ride on the roof!

March 2009 magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Naik apa kamu pergi bekerja? (Track #6)

Di Australia, seperti di Indonesia, banyak orang yang tinggal di daerah pinggiran kota pergi ke pusat kota untuk bekerja. Nah, naik apa mereka ke sana? Banyak orang mengendarai mobil dan ini berarti selama jam-jam sibuk, kemacetan lalu lintas terjadi di semua kota di Australia.Banyak orang juga memakai transportasi umum. Naik bus di Australia agak berbeda dengan di Indonesia. Bus, kereta api dan trem ada jadwalnya. Di trayek yang paling ramai mungkin ada bus setiap 10 menit. Di trayek lain mungkin hanya ada transportasi umum setiap beberapa jam. Supir bus hanya menaikkan dan menurunkan penumpang di halte bus. Orang-orang di sana sudah biasa berjalan kaki 15 atau 20 menit ke halte bus terdekat. Ongkosnya dibayarkan ketika menaiki bus. Untuk menghemat uang dan waktu, banyak penumpang membeli kartu pra-bayar. Kartu ini dapat dipakai untuk semua jenis transportasi umum. Orang yang berusia di atas 65 tahun bisa mendapatkan potongan harga untuk ongkos transportasi dengan mendaftarkan diri untuk mendapat kartu perjalanan. Para penumpang tidak boleh makan atau minum di transportasi umum. Pengamen tidak boleh naik! Selama jam sibuk transportasi umum sangat penuh dan kamu mungkin tidak dapat tempat duduk. Kamu tidak boleh naik ke atap bus!

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

Things you shouldn’t do when you're in Oz, either people consider them rude or they are against the law.

  • making physical remarks about people - you look fat/thin, etc.
  • burping in public
  • spitting in public
  • saying ‘G’day, Mate’ to female
  • asking someone’s salary
  • stopping a bus anywhere on the street
  • pinching someone’s baby on the cheek
  • being late
  • visiting someone without any notice
  • riding a bicycle without a helmet
  • jumping the queue

March 2009 magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Hal-hal yang sebaiknya tidak kamu lakukan ketika kamu di Oz, karena orang akan menanggap kamu tidak sopan atau karena bertentangan dengan hukum. (Track #7)

  • memberi komentar fisik tentang orang – misalnya ‘Kamu kelihatan gemuk atau kurus’, dll.
  • bersendawa di depan umum
  • meludah di depan umum
  • menyapa seorang wanita dengan ‘G’day, Mate
  • bertanya kepada seseorang berapa gajinya
  • memberhentikan bus di sembarang tempat
  • mencubit pipi bayi orang
  • terlambat
  • datang ke rumah orang tanpa memberitahu sebelumnya
  • naik sepeda tanpa helm
  • memotong antrian

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

Socceroos in Jakarta

On Australia Day, January 26th Ms. Louise Hand, Deputy Australian Ambassador to Indonesia, was accompanied by members of the Socceroos football team to the final day of the Australian Indigenous Film Festival. Ms. Hand chatted with not only the Socceroos but also with people attending the Balgo Art Exhibition and the film festival. The film festival attracted hundreds of people as did the Socceroos.

KGI interviewed Australian Socceroo Nikolai Topor-Stanley (see bottom right) and you can hear that interview on KGI radio in April 2009. Nikolai Topor-Stanley is a player in the Australian Socceroos football team. He is 24 years old. His father is from Mauritius and his mother is German/Polish and he has a Russian name – how multicultural is that! Nikolai plays as a defender for the team and was a member of the Australian team at the 2008 Olympics in China. He attended the Australian Indigenous Film Festival along with other members of the Socceroos team and KGI sat down with him for a chat.

Nikolai and his fellow team members were in Jakarta for a match with the Indonesian National Team for the Asian Cup Qualifier. He has traveled a lot as a Socceroo, going to places such as North Korea, Uruguay and Iran. Traveling is a real bonus for Nikolai and he loves seeing other countries and of course playing football in them as well. He has been to Indonesia twice before so is well acquainted with Indonesia. What does Nikolai love about life in Australia? KGI asked him and his response included the weather and that there are always things going on.

March 2009 magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Socceroos di Jakarta (Track #8)

Pada Hari Australia tanggal 26 Januari Ibu Louise Hand, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, ditemani oleh anggota tim sepak bola Soccerroos menghadiri hari terakhir Festival Film Orang Australia Pribumi. Ibu Hand tidak hanya bercakap-cakap dengan anggota Soccerroos tetapi juga dengan orang-orang yang menghadiri Pameran Seni Balgo dan festival film itu. Festival film itu menarik ratusan orang, seperti halnya Socceroos.

KGI mewawancarai pemain Australian Socceroos Nikolai Topor-Stanley (lihat di kanan bawah) dan kamu bisa mendengarkan wawancara itu di radio KGI April 2009. Nikolai Topor-Stanley adalah seorang pemain dalam tim sepak bola Australian Socceroos. Dia berumur 24 tahun. Ayahnya berasal dari Mauritius dan ibunya keturunan Jerman/Polandia dan namanya adalah nama Rusia – multibudaya sekali, ya? Nikolai bermain sebagai pertahanan untuk timnya dan pernah menjadi anggota tim Australia pada Olimpiade 2008 di China. Dia menghadiri Festival Film Orang Australia Pribumi dengan anggota-anggota Socceroos lainnya dan KGI duduk dengan dia untuk bercakap-cakap.

Nikolai dan teman-teman timnya berada di Jakarta untuk pertandingan melawan Tim nasional Indonesia untuk Kualifikasi Piala Asia. Dia sudah banyak berkeliling dunia dengan Socceroos, seperti ke Korea Utara, Uruguay dan Iran. Jalan-jalan adalah bonus untuk Nikolai dan dia senang sekali melihat negara-negara lain dan tentu saja bermain bola di sana juga. Dia sudah dua kali ke Indonesia jadi sudah akrab dengan Indonesia. Apa yang Nikolai senangi tentang kehidupan di Australia? KGI bertanya kepadanya dan jawabannya antara lain adalah cuacanya dan karena selalu ada saja yang terjadi di sana.

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

Birds, birds, birds .........

When I was in Sydney I went to Manly on the ferry. Sydney Harbour is a wonderful place with beautiful water and lots of boats and lots and lots of birds. I couldn’t believe how many birds there were on Sydney Harbour. There were seagulls, pelicans and so many other types too. Some of the birds followed my ferry all the way from Circular Quay to Manly. They sat on the masts and on the ferry itself and some birds seemed to just fly along with us. I have never seen so many birds in one place. I wondered, ‘Where are all the birds in Indonesia’?

Rohman, a 2008 Endeavour Award alumnus

March 2009 magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Burung, burung, burung… (Track #9)

Ketika saya di Sydney saya pergi ke Manly naik feri. Pelabuhan Sydney adalah tempat yang mengagumkan dengan air yang indah dan banyak kapal dan banyak sekali burung. Saya tidak bisa percaya betapa banyaknya burung yang ada di Pelabuhan Sydney. Ada camar, pelikan dan banyak jenis lain juga. Beberapa burung mengikuti feri saya dari Circular Quay ke Manly. Mereka duduk di tiang-tiang layar dan di atas ferinya sendiri dan beberapa burung kelihatan terbang bersama kami. Saya belum pernah melihat begitu banyak burung di satu tempat. Saya berpikir,’Ke mana perginya semua burung di Indonesia?’

Rohman, alumni Endeavour Award 2008

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

Pedestrians are respected

I enjoy using public transport in Adelaide city because it is on time and convenient. I love walking around the city too because the traffic is not really crowded and it is managed very well. I think it is amazing to see the city scenery which is very clean. If you walk through the city you would not find any rubbish on the street. Australian drivers respect people who walk on the street. They are pleased to wait allowing people cross the road. The most surprising thing I saw was when I woke up in the early morning at 5am. I saw a car stopped waiting for the green traffic light, even though it was the only one car on the road. I was so surprised because it never happens in Indonesia. Maybe in the future? This is my first experience going to Australia and also my first time abroad. I am almost three weeks in Kangaroo continent but until now I have not seen such creature yet.

Hasbullah, ADS in Adelaide

March 2009 magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Pejalan kaki dihormati (Track #10)

Saya senang memakai transportasi umum di kota Adelaide karena tepat waktu dan nyaman. Saya suka sekali jalan-jalan keliling kota juga karena lalu-lintasnya tidak terlalu padat dan diatur dengan sangat baik. Saya pikir sangar luar biasa melihat pemandangan kota yang bersih sekali. Kalau kamu berjalan kaki di kota kamu tidak akan melihat sampah di jalan. Pengemudi-pengemudi Australia menghormati orang-orang yang berjalan kaki di jalan. Mereka dengan senang hati menunggu supaya orang dapat menyeberang. Yang paling mengherankan yang pernah saya lihat adalah ketika saya bangun pagi-pagi jam 5. Saya melihat sebuah mobil berhenti, menunggu lampu hijau walaupun mobil itu adalah satu-satunya mobil yang ada di jalan. Saya heran sekali karena itu tidak pernah terjadi di Indonesia. Mungkin di masa depan? Ini adalah pengalaman saya yang pertama pergi ke Australia dan juga pertama kali ke luar negeri. Saya hampir tiga minggu di benua Kangguru tetapi sampai sekarang saya belum pernah melihat makhluk itu.

Hasbullah, ADS di Adelaide

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

Is it camping or moving house?

When I was at school in Indonesia I used to go camping with the school scouts. Camping, as far as I remember, always full of inconvenience with very simple tents which took hours to erect, no sleeping bags, no nearby toilets/bathrooms and often no lights. For cooking we had to take our own kerosene stove. I never enjoyed it at all.

I remember when I first went to Oz, an Aussie friend took me camping. Oh no, I thought! When I heard the word camping I felt sick already because I remembered all the hassles of camping.

Twelve people (campers) went on this trip in three different cars. When we arrived at the camping ground everyone unloaded the cars and put up a tent. I was shocked first because they put up the tent next to the car. We could have just slept in the cars! It only took them a few minutes to erect the tent though. Then they pumped up something which turned out to be a very comfortable huge air mattress. They also brought a grill with them to cook on, an electric esky to keep food and drinks (especially dairy products) cold, folding chairs, a table and a tent heater (to make it warm). They brought everything that a whole house would have.

Amazing! I was still in shock. Is this camping or moving house? Not only that, the camping ground had hot shower and good toilets. I love camping Down Under!

Ayu from KGI

March 2009 magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

Berkemah atau pindah rumah? (Track #11)

Ketika saya sekolah di Indonesia saya sering pergi berkemah dengan murid-murid pramuka. Berkemah, seingat saya, selalu penuh dengan ketidaknyamanan dengan tenda-tenda yang sangat sederhana. Makan waktu lama untuk mendirikan tenda-tenda itu. Tidak ada kantung tidur, tidak ada kamar kecil/kamar mandi dan sering tidak ada lampu. Untuk memasak kami harus membawa kompor minyak tanah. Saya tidak pernah menikmati berkemah.

Saya ingat ketika pertama kali datang ke Oz, seorang teman orang Australia mengajak saya berkemah. Oh, tidak, pikir saya! Ketika saya mendengar kata berkemah saya langsung sakit perut karena saya ingat repotnya berkemah.

Dua belas orang pergi berkemah dalam tiga mobil. Ketika kami sampai di lokasi kemah semua orang menurunkan barang-barang dari mobil dan mendirikan sebuah tenda. Pertama saya terkejut karena mereka mendirikan tendanya di samping mobil. Kita bisa saja tidur di dalam mobil! Tetapi makan waktu beberapa menit saja bagi mereka untuk mendirikan tenda itu. Kemudian mereka memompa sesuatu yang menjadi kasur yang besar dan nyaman sekali. Mereka juga membawa panggangan untuk memasak, peti es listrik untuk menjaga agar makanan dan minuman (terutama produk susu) tetap dingin, kursi-kursi lipat, sebuah meja dan pemanas tenda.

Mereka membawa semuanya yang bisa untuk mengisi sebuah rumah. Luar biasa! Saya masih terkejut. Ini berkemah atau pindah rumah? Tidak hanya itu, di lokasi kemahnya ada air panas dan toilet yang bagus. Saya senang sekali berkemah di Down Under!

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

A Melting Pot - that sums up Life Down Under

Australia is a great example of multiculturalism. The population – penduduk - consists of lots of people with different origins. In fact almost a quarter of the population was born overseas. You can find people from Morocco, Greece, Italy, India, Nepal, Scotland, Norway, Russia, Japan, Indonesia - you name it, they all live Down Under!

In Australia not everyone speaks English at home. Italian is the most popular language other than English spoken in Australian homes followed by Greek, Cantonese, Arabic and Vietnamese. Australia’s melting pot of cultures is reflected in the great variety of restaurants and cafes. You can find food from all countries including Indonesia.


I’m Hefni, I’m originally from Banyuwangi. My husband is Australian. I have been livin' in Oz for 12 years and I have one daughter. Being a mom in Australia is quite tough because you have to do everything by yourself. There are no pembantus here in Oz. I have to do all the housework including taking my daughter to school. But what I like about Oz is the clean air and the parks. People here go to the park to read, have a picnic, meet people, play with their children or just to relax.


I’m Truls and I’m from Norway. When I came to Australia for the first time in 2000 to study, I fell in love with Australia straight away. Every single person here is a hard worker. They work, work and work - time is money. Usually people meet up for a drink after work and go out on the weekend.

March 2009 magazine link

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(double click PLAY button to listen and left
click to DOWNLOAD segment to your computer) (MP3)

A Melting Pot – itulah yang meringkas Kehidupan Down Under (Track #12)

Australia adalah contoh hebat multibudaya. Penduduknya terdiri dari banyak orang yang berasal dari tempat yang berbeda-beda. Malah hampir seperempat penduduknya lahir di luar negeri. Kamu dapat bertemu dengan orang-orang dari Maroko, Yunani, Italia, India, Nepal, Skotlandia, Norwegia, Rusia, Jepang, Indonesia – dari mana saja, mereka hidup di Down Under! Di Australia tidak semua orang berbicara Bahasa Inggris di rumah. Bahasa Italia adalah bahasa yang paling populer selain Bahasa Inggris yang dipakai di rumah, kemudian Bahasa Yunani, Bahasa Kanton, Bahasa Arab dan Bahasa Vietnam. Budaya Australia yang kaya tercermin pada banyaknya jenis restoran dan kafe. Kamu dapat menemukan makanan dari semua negara termasuk Indonesia.


Saya Hefni. Saya berasal dari Banyuwangi. Suami saya orang Australia. Saya sudah 12 tahun tinggal di Australia dan saya punya satu anak perempuan. Menjadi ibu di Australia cukup sulit karena saya harus melakukan semuanya sendiri. Tidak ada pembantu di Oz. Saya harus mengerjakan semua tugas rumah tangga termasuk mengantar anak saya ke sekolah. Tetapi yang saya sukai tentang Oz adalah udaranya yang bersih dan taman-tamannya. Orang-orang di sini pergi ke taman untuk membaca, piknik, bertemu orang, bermain dengan anak-anak mereka atau bersantai.


Saya Truls dan saya dari Norwegia. Ketika saya datang ke Australia untuk pertama kalinya tahun 2000 untuk kuliah, saya langsung jatuh cinta kepada Australia. Semua orang di sini pekerja keras. Mereka bekerja, bekerja dan bekerja – waktu adalah uang. Biasanya orang-orang bertemu untuk minum-minum setelah bekerja dan keluar pada akhir pekan.

Listen to KGI in English and Bahasa Indonesia


(Klik tombol PLAY untuk mendengarkan dan klik link MP3 untuk DOWNLOAD segmen ke komputer anda) (MP3)

Students across the archipelago learn English with Kang GURU Learning English is Fun!
AusAID in Indonesia - Australian Government IALF Education for Development Radio Republic Indonesia