| Home > AusAID Projects > AusAID Archives > December 2000 projects | ![]() |
KangGURU and AusAID in IndonesiaProjects
of the Month - December 2000
Previous Months' Project Reports Bulan ini kami mengetengahkan dua proyek SAS AusAID untuk Anda baca DAN Anda pikirkan Indonesia Australia Small Activities Scheme (SAS) merupakan satu elemen yang paling fleksibel dan responsif dari program bantuan pemerintah Australia kepada Indonesia. Bantuan dana SAS diberikan kepada kelompok-kelompok, biasanya lembaga non-pemerintah, yang bisa menunjukkan bahwa mereka memiliki proyek berbasis masyarakat yang terencana dengan baik dan mempunyai kapasitas untuk menerapkannya dan mengelola dana. Bulan ini Kang Guru menghadirkan dua proyek SAS yang sangat menarik perhatian. Kedua proyek tersebut tidak hanya menarik tapi sangat penting bagi masa depan semua orang Indonesia.
Ini adalah program penanggulangan penyalahgunaan Narkoba yang dilakukan oleh Yayasan Kusuma Buana (YKB) di Jakarta Utara. AusAID menambah bantuan dana dari Catholic Relief Services (CRS) yang menyediakan dana untuk melatih para pendidik teman sebaya. Sedangkan AusAID memberikan pendanaan untuk melatih para pendidik teman sebaya untuk menjadi penasehat (counsellors).
YKB telah merancang satu program pencegahan narkoba yang secara aktif akan melibatkan remaja dengan mendirikan dan mengembangkan a self-support group (kelompok mandiri). Tujuan Tujuan umum proyek ini adalah untuk mengurangi resiko penyalahgunaan narkoba di antara pemuda dan anak-anak di daerah Warakas. Kelompok Target Proyek yang diajukan akan langsung memberi manfaat bagi 200 pemuda, dan sekitar 12.000 orang yang mendapatkan manfaat secara tidak langsung selama masa berlangsungnya proyek. Pengembangan Kelompok Mandiri Kelompok mandiri telah melatih 40 pendidik teman sebaya dan masing-masing pendidik akan menjangkau 5 pengguna/yang berpotensi menyalahgunakan obat-obatan. Pendanaan diberikan untuk menyediakan 50 buku mengenai dampak narkoba sebagai referensi, membiayai pelatihan selama dua hari tentang konseling bagi 20 pemuda, mendanai studi banding bagi 40 pendidik teman sebaya ke tempat-tempat diselenggarakannya program pencegahan narkoba yang ada, baik oleh lembaga pemerintah maupun LSM lain di Jakarta dan mendanai studi banding yang sama untuk 4 orang di Yogyakarta. Proyek ini juga mendukung kampanye kesadaran mengenai penyalahgunaan narkoba dengan menyebarkan 2000 poster; menyelenggarakan kontes kreatifitas yang melibatkan pemuda di wilayah Warakas dalam bentuk pameran lukisan/foto dan lomba membuat poster. Wawancara dengan Dr. Firman Lubis - Direktur Eksekutif Yayasan Kusuma Buana, 23 Oktober 2000 di Jakarta Kang Guru (KG) Firman Lubis, barangkali Anda bisa memperkenalkan diri. Nama Anda dan mungkin sedikit informasi mengenai latar belakang Anda. Pak Firman (F) Ya, Nama saya Firman Lubis. Latar belakang saya adalah dokter medis. Saya mengajar di Universitas Indonesia, Fakultas kedokteran di bidang kedokteran keluarga, tapi disamping itu saya juga mengelola organisasi non pemerintah, yang bergerak terutama di bidang kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi. KG Bisakah Anda jelaskan, pada dasarnya proyek ini melibatkan apa? F OK, proyek yang sedang kami kerjakan saat ini yang didanai oleh AusAID merupakan proyek mengenai remaja. Seperti ditempat lain saya pikir, sedang menghadapi masalah remaja dengan narkoba dan seks dan berbagai macam masalah lain yang menyangkut remaja. Kami sedang menghadapi masalah ini khususnya di Jakarta. Jadi berdasarkan pengalaman bekerja dibidang kesehatan reproduksi selama dua puluh tahun dan bekerja dengan ibu dan anak-anak. Kami juga sedang bekerja menangani bidang lain seperti HIV/AIDS resiko tinggi dan er yang baru saja kami lakukan adalah bekerja dengan para remaja di Jakarta Utara di Tanjung Priok. KG Apa yang Anda lihat sebagai masalah utama di wilayah tersebut, apakah mungkin untuk mengidentifikasi satu atau dua masalah? F Yah, masalah utama adalah obat-obatan yang makin lama menjadi makin banyak, pengguna obat-obatan diantara remaja. KG Obat-obatan jenis apa yang Anda bicarakan? F Ya, bukan hanya marijuana tapi juga mereka sekarang sudah benar-benar menggunakan apa yang kita sebut sebagai obat yang lebih keras seperti heroin dan kokain. Meskipun mahal, para remaja ini mampu mendapatkan semua obat-obatan ini. KG Apa masalah ini hanya ada di Jakarta Utara? F Tidak, kebanyakan di kota-kota. Tapi juga saya mendengar berdasarkan beberapa studi, masalah-masalah ini juga telah mulai ada di kota-kota kecil. Jadi ini benar-benar akan menjadi masalah yang sangat besar. KG Bagaimana tanggapan masyarakat setempat mengenai masalah ini dan pekerjaan yang sedang Anda lakukan dan apakah ada keterlibatan dari masyarakat? F Ya. Sebelumnya, saya berpikir kesadaran masyarakat mengenai masalah ini tidaklah begitu banyak. Kenyataannya sebagian warga masyarakat berpendapat bahwa masyarakatnya adalah bagus. Kita adalah masyarakat religius. Kita tidak akan benar-benar terlibat dengan hal semacam itu. Tetapi kami telah memberitahu mereka, kami telah melakukan studi, kami telah benar-benar melakukan survei di antara remaja dan kami menemukan bahwa masalah remaja telah meningkat di Indonesia. Jadi kami telah bekerjasama dengan masyarakat memberitahu mereka bahwa masyarakat juga harus terlibat karena ini merupakan masalah di mana anggota masyarakat harus dilibatkan dan juga harus peduli. Karena pada akhirnya saya pikir masyarakatlah yang akan terkena semua masalah para remaja ini. Jadi kami sungguh-sungguh mencoba memberitahu masyarakat dan meminta partisipasi mereka dalam masalah ini. KG Komponen remaja dalam kegiatan Anda, apakah mereka ini datang langsung dari masyarakat? F Ya, mereka semua memang datang dari para remaja itu sendiri. Jadi kami punya petugas lapangan, petugas penjangkauan dilapangan yang bekerjasama dengan para remaja ini, duduk dengan mereka, bicara dengan mereka dan kemudian mendiskusikan masalah mereka. Kami hanya memberitahu mereka bahwa kami adalah organisasi non pemerintah yang bekerja terutama di bidang kesehatan, dan kepedulian kami adalah untuk benar-benar bekerja dengan mereka, untuk membantu mereka, dan kami peduli dengan masalah mereka. Jadi, ketika mereka tahu bahwa kami menghargai mereka, bahwa kami ingin bekerja dengan mereka, bahwa kami betul-betul bukan lembaga pemerintah, mereka lantas lebih mau bicara dengan kami. Mereka juga terbuka dan bekerja dengan kami dan tentu saja hal pertama adalah kami betul-betul mendidik mereka mengenai masalah ini, masalah narkoba ini, juga tentang masalah seks dengan mereka, memberitahu mereka dan tentunya hal yang paling penting adalah melatih pendidik diantara mereka untuk menjadi pendidik teman sebaya. Jadi ini adalah strategi kami. KG Berapa banyak pendidik teman sebaya yang Anda miliki sekarang yang terlibat dalam program ini? F Sekitar 40 remaja sampai saat ini. Ini adalah wilayah yang setara dengan luas satu desa sebenarnya. Jadi ada sekitar dua ribu remaja di wilayah ini. Di areal ini, pelabuhan Tanjung Priok ada banyak masalah, kejahatan karena ini adalah wilayah pelabuhan miskin, jadi kami telah melatih sekitar 40 orang pendidik teman sebaya untuk bekerja dengan para remaja disini. KG Sekarang, beberapa orang dari pendidik teman sebaya tersebut telah mengikuti pelatihan lanjutan untuk menjadi penasehat. Berapa banyak penasehat yang Anda miliki? F Ya, kemudian dari 40 remaja yang telah kami latih, kami telah melatih 20 diantaranya untuk menjadi penasehat bagi para remaja. Semua pendidik teman sebaya dan sukarelawan dan penasehat, mereka semua sukarelawan, ya. Semua pendidik teman sebaya dan penasehat datang dari wilayah tersebut, dari areal Tanjung Priok, dari wilayah Warakas di Tanjung Priok.
KG Dr. Firman, dalam hal apa para remaja ini sebenarnya terlibat dalam program ini atau dalam kegiatan Anda? F Ya, itu pertanyaan yang sangat bagus. Bagaimana mereka terlibat dalam kegiatan kami? Pertama adalah benar-benar, bagi kami untuk benar-benar sangat memahami masalah ini. Jadi saya pikir mereka menjadi sumber informasi kami tentang masalah mereka. Kedua, mereka juga lantas bisa menjadi orang yang membantu kami dalam mengembangkan program, karena mereka bisa membantu kami, misalnya bagaimana mengembangkan program pelatihan ketika kami ingin melakukan program pelatihan untuk para remaja. Apa yang benar-benar terbaik, jadi kami benar-benar mendapatkan bahasa yang tepat, bahasa yang benar-benar bisa dimengerti oleh para remaja itu sendiri. Kami tidak menggunakan bahasa kami sendiri tapi menggunakan bahasa mereka. Dan kemudian yang ketiga, mereka menjadi pendidik teman sebaya untuk mereka sendiri. Jadi kami melatih mereka untuk menjadi pendidik teman sebaya. Pelatihan kami tentu saja tidak berupa pelatihan dalam bentuk formal, tapi kami mengembangkan pelatihan ini bersama-sama dengan para remaja dan kemudian juga para remaja itu sendiri, mereka mengembangkan pendapat mereka sendiri, apa yang mereka pikir benar-benar merupakan cara terbaik untuk bekerja dengan teman-teman mereka, bagaimana bekerja dengan para remaja, bagaimana mereka bisa menjangkau para remaja, bagaimana cara terbaik mereka bisa mendiskusikannya dengan para remaja. Mereka tinggal di sana, semua orang di sana, mereka tahu itu, jadi tidak ada penghalang antara remaja itu sendiri. Dan mereka bisa berdiskusi, bicara secara informal di mana-mana mungkin di pub atau di rumah seseorang atau di pojok jalanan saat mereka bersama, apapun bisa mereka bicarakan. Jadi, melalui cara ini, saya pikir para remaja ini telah menyumbang banyak dalam kegiatan ini. Juga Anda tahu, mereka sedang membantu kita membuat majalah mereka sendiri, poster, leaflet, buletin dan newsletter. KG Jadi para remaja, atau orang-orang dari kelompok teman sebaya yang bekerja bersama Anda sangat terlibat dalam kegiatan proyek? F Benar sekali, ya, mereka benar-benar merupakan pemain utama. Sedangkan sebagian besar kami hanya memfasilitasi dan membantu.
Kelompok Sasaran Penerima manfaat langsung dari proyek ini adalah 20 orang sukarelawan yang diterima sebagai pengurus inti. Mereka diharapkan mampu mensosialisasikan masalah kekerasan terhadap perempuan kepada paling sedikit 100 orang. Diharapkan bahwa badan pengawas keluarga dapat membantu dan menangani 50 kasus dalam masyarakat. Bukan hanya kaum perempuan dan para korbannya yang akan menjadi sasaran proyek ini tetapi juga pria sebagai obyek dan klien. Pusat Penanggulan Krisis Perempuan Rifka Annisa (Rifka Annisa Women's Crisis Centre) Rifka Annisa Women Crisis Centre didirikan pada 1993. Menyadari bahwa bantuan bagi perempuan korban kekerasan memerlukan pendekatan antar sektor, yayasan tersebut membentuk jaringan diantara LSM, sektor pemerintah dan swasta. Jaringan ini dalam rangka menyusun satu sistem penanganan yang terintegrasi (di tahun 1997) antara rumah sakit pusat, eluarga, tapi disamping itu saya juga mengelola organisasi non pemerintah, yang bergerak terutama di bidang kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi. KG Bisakah Anda jelaskan, pada dasarnya proyek ini melibatkan apa? F OK, proyek yang sedang kami kerjakan saat ini yang didanai oleh AusAID merupakan proyek mengenai remaja. Seperti ditempat lain saya pikir, sedang menghadapi masalah remaja dengan narkoba dan seks dan berbagai macam masalah lain yang menyangkut remaja. Kami sedang menghadapi masalah ini khususnya di Jakarta. Jadi berdasarkan pengalaman bekerja dibidang kesehatan reproduksi selama dua puluh tahun dan bekerja dengan ibu dan anak-anak. Kami juga sedang bekerja menangani bidang lain seperti HIV/AIDS resiko tinggi dan er yang baru saja kami lakukan adalah bekerja dengan para remaja di Jakarta Utara di Tanjung Priok. KG Apa yang Anda lihat sebagai masalah utama di wilayah tersebut, apakah mungkin untuk mengidentifikasi satu atau dua masalah? F Yah, masalah utama adalah obat-obatan yang makin lama menjadi makin banyak, pengguna obat-obatan diantara remaja. KG Obat-obatan jenis apa yang Anda bicarakan? F Ya, bukan hanya marijuana tapi juga mereka sekarang sudah benar-benar menggunakan apa yang kita sebut sebagai obat yang lebih keras seperti heroin dan kokain. Meskipun mahal, para remaja ini mampu mendapatkan semua obat-obatan ini. KG Apa masalah ini hanya ada di Jakarta Utara? F Tidak, kebanyakan di kota-kota. Tapi juga saya mendengar berdasarkan beberapa studi, masalah-masalah ini juga telah mulai ada di kota-kota kecil. Jadi ini benar-benar akan menjadi masalah yang sangat besar. KG Bagaimana tanggapan masyarakat setempat mengenai masalah ini dan pekerjaan yang sedang Anda lakukan dan apakah ada keterlibatan dari masyarakat? F Ya. Sebelumnya, saya berpikir kesadaran masyarakat mengenai masalah ini tidaklah begitu banyak. Kenyataannya sebagian warga masyarakat berpendapat bahwa masyarakatnya adalah bagus. Kita adalah masyarakat religius. Kita tidak akan benar-benar terlibat dengan hal semacam itu. Tetapi kami telah memberitahu mereka, kami telah melakukan studi, kami telah benar-benar melakukan survei di antara remaja dan kami menemukan bahwa masalah remaja telah meningkat di Indonesia. Jadi kami telah bekerjasama dengan masyarakat memberitahu mereka bahwa masyarakat juga harus terlibat karena ini merupakan masalah di mana anggota masyarakat harus dilibatkan dan juga harus peduli. Karena pada akhirnya saya pikir masyarakatlah yang akan terkena semua masalah para remaja ini. Jadi kami sungguh-sungguh mencoba memberitahu masyarakat dan meminta partisipasi mereka dalam masalah ini. KG Komponen remaja dalam kegiatan Anda, apakah mereka ini datang langsung dari masyarakat? F Ya, mereka semua memang datang dari para remaja itu sendiri. Jadi kami punya petugas lapangan, petugas penjangkauan dilapangan yang bekerjasama dengan para remaja ini, duduk dengan mereka, bicara dengan mereka dan kemudian mendiskusikan masalah mereka. Kami hanya memberitahu mereka bahwa kami adalah organisasi non pemerintah yang bekerja terutama di bidang kesehatan, dan kepedulian kami adalah untuk benar-benar bekerja dengan mereka, untuk membantu mereka, dan kami peduli dengan masalah mereka. Jadi, ketika mereka tahu bahwa kami menghargai mereka, bahwa kami ingin bekerja dengan mereka, bahwa kami betul-betul bukan lembaga pemerintah, mereka lantas lebih mau bicara dengan kami. Mereka juga terbuka dan bekerja dengan kami dan tentu saja hal pertama adalah kami betul-betul mendidik mereka mengenai masalah ini, masalah narkoba ini, juga tentang masalah seks dengan mereka, memberitahu mereka dan tentunya hal yang paling penting adalah melatih pendidik diantara mereka untuk menjadi pendidik teman sebaya. Jadi ini adalah strategi kami. KG Berapa banyak pendidik teman sebaya yang Anda miliki sekarang yang terlibat dalam program ini? F Sekitar 40 remaja sampai saat ini. Ini adalah wilayah yang setara dengan luas satu desa sebenarnya. Jadi ada sekitar dua ribu remaja di wilayah ini. Di areal ini, pelabuhan Tanjung Priok ada banyak masalah, kejahatan karena ini adalah wilayah pelabuhan miskin, jadi kami telah melatih sekitar 40 orang pendidik teman sebaya untuk bekerja dengan para remaja disini. KG Sekarang, beberapa orang dari pendidik teman sebaya tersebut telah mengikuti pelatihan lanjutan untuk menjadi penasehat. Berapa banyak penasehat yang Anda miliki? F Ya, kemudian dari 40 remaja yang telah kami latih, kami telah melatih 20 diantaranya untuk menjadi penasehat bagi para remaja. Semua pendidik teman sebaya dan sukarelawan dan penasehat, mereka semua sukarelawan, ya. Semua pendidik teman sebaya dan penasehat datang dari wilayah tersebut, dari areal Tanjung Priok, dari wilayah Warakas di Tanjung Priok.
KG Dr. Firman, dalam hal apa para remaja ini sebenarnya terlibat dalam program ini atau dalam kegiatan Anda? F Ya, itu pertanyaan yang sangat bagus. Bagaimana mereka terlibat dalam kegiatan kami? Pertama adalah benar-benar, bagi kami untuk benar-benar sangat memahami masalah ini. Jadi saya pikir mereka menjadi sumber informasi kami tentang masalah mereka. Kedua, mereka juga lantas bisa menjadi orang yang membantu kami dalam mengembangkan program, karena mereka bisa membantu kami, misalnya bagaimana mengembangkan program pelatihan ketika kami ingin melakukan program pelatihan untuk para remaja. Apa yang benar-benar terbaik, jadi kami benar-benar mendapatkan bahasa yang tepat, bahasa yang benar-benar bisa dimengerti oleh para remaja itu sendiri. Kami tidak menggunakan bahasa kami sendiri tapi menggunakan bahasa mereka. Dan kemudian yang ketiga, mereka menjadi pendidik teman sebaya untuk mereka sendiri. Jadi kami melatih mereka untuk menjadi pendidik teman sebaya. Pelatihan kami tentu saja tidak berupa pelatihan dalam bentuk formal, tapi kami mengembangkan pelatihan ini bersama-sama dengan para remaja dan kemudian juga para remaja itu sendiri, mereka mengembangkan pendapat mereka sendiri, apa yang mereka pikir benar-benar merupakan cara terbaik untuk bekerja dengan teman-teman mereka, bagaimana bekerja dengan para remaja, bagaimana mereka bisa menjangkau para remaja, bagaimana cara terbaik mereka bisa mendiskusikannya dengan para remaja. Mereka tinggal di sana, semua orang di sana, mereka tahu itu, jadi tidak ada penghalang antara remaja itu sendiri. Dan mereka bisa berdiskusi, bicara secara informal di mana-mana mungkin di pub atau di rumah seseorang atau di pojok jalanan saat mereka bersama, apapun bisa mereka bicarakan. Jadi, melalui cara ini, saya pikir para remaja ini telah menyumbang banyak dalam kegiatan ini. Juga Anda tahu, mereka sedang membantu kita membuat majalah mereka sendiri, poster, leaflet, buletin dan newsletter. KG Jadi para remaja, atau orang-orang dari kelompok teman sebaya yang bekerja bersama Anda sangat terlibat dalam kegiatan proyek? F Benar sekali, ya, mereka benar-benar merupakan pemain utama. Sedangkan sebagirumah sakit pemerintah dan rumah sakit setempat dan mengkoordinasikan pertemuan setiap tiga bulan diantara pihak-pihak terkait termasuk masalah-masalah agama, kepolisian dan hukum. Wawancara dengan Ellie dan Wahid, Oktober 19, 2000
Kang Guru (KG) Kami ada di Jogya hari ini, berbicara dengan Elli Nur Hayati, dan Elli adalah Direktur Eksekutif Rifka Annisa. Elli (E) Hai. KG OK, Elli, apa kabar? E Oh, baik, terimakasih tapi saya sedikit terkena flu jadi suara saya, saya pikir sangat bagus, ha ha. KG Elli, Anda terlibat di sini di Yogya dengan Rifka Annisa Women's Crisis Centre. Bisakah Anda memberikan sedikit informasi mengenai latar belakang lembaga ini? E Saya bergabung dengan Pusat Penanggulangan Krisis ini sejak 1993. Saya telah berada disini selama tujuh tahun dan latar belakang lembaga ini adalah dalam masyarakat, dalam masyarakat kami bahwa kaum perempuan sangat menderita tetapi mereka tidak punya tempat untuk membicarakan masalah mereka. Orang-orang biasanya berkata, “Oh itu hal biasa bagi perempuan mempunyai masalah-masalah semacam itu”. KG Masalah-masalah seperti apa yang Anda bicarakan? E Eh ya, masalah yang biasanya dihadapi kaum perempuan. Mereka punya masalah dalam hubungan dengan suami mereka dan juga mereka punya kesulitan dalam memperoleh penghasilan sendiri. KG Jadi mereka punya masalah tapi tidak semua perempuan tentunya. KG Di pusat penanggulangan krisis ini, bagaimana Anda membantu perempuan yang mempunyai masalah seperti ini? E Kami menyediakan beberapa pelayanan untuk para perempuan ini. Kami punya jasa konseling dan kami punya jasa proses pengadilan (litigation). Jadi kalau perempuan ingin menuntut seseorang yang memukulnya atau mungkin menghianatinya, mereka bisa melaporkan masalah mereka kepada kami dan kami akan menemani mereka ke pengadilan. Kami juga punya kelompok pendukung sehingga kaum perempuan tersebut bisa saling bertemu. Sekarang perempuan yang punya masalah sama bisa saling bicara satu sama lain untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana menangani masalah tersebut. Disamping itu kami juga punya program pendidikan masyarakat guna meningkatkan kesadaran mengenai masalah-masalah perempuan khususnya kekerasan terhadap perempuan. KG Apakah sebenarnya sulit bagi perempuan yang berada dalam situasi ini untuk datang dan bicara kepada Anda? E Yah, dalam tahun-tahun pertama kegiatan kami, ya, sangat sulit buat mereka untuk datang karena hambatan dari masyarakat sangat keras. Kebanyakan perempuan cenderung menghindari masalah mereka terutama kalau masalah itu menyangkut perkawinan. Orang-orang cenderung mengatakan bahwa itu benar-benar masalah rahasia diantara mereka dan keluarga mereka dan khususnya bagi istri, sangat sulit kalau mereka memberitahu orang lain tentang masalahnya dengan suami karena suami adalah orang yang harus ia hormati. Jadi akan sangat memalukan kalau seorang istri memberitahu orang lain mengenai masalahnya dengan suami. KG Apakah Anda menerima reaksi dari para suami atau dari kaum pria dalam anggota keluarga mereka tentang apa yang Anda kerjakan disini? E Tentu saja kami menerima banyak reaksi. Kadang-kadang kami menerima faks dari pria yang tidak mau memberitahukan identitasnya jadi mereka mengirim faks mengatakan hal-hal buruk. Dan kadang-kadang kami juga menerima telpon di tengah malam dan mereka mengatakan sesuatu yang tidak baik, semacam pelecehan, pelecehan hm dan juga kami mendapat kunjungan dari seorang suami yang datang membawa pisau ditangannya untuk mengancam kami. Itu pengalaman kami sehari-hari. KG Dukungan apa yang Anda peroleh dari masyarakat setempat, barangkali wewenang dari pemerintahan Indonesia setempat? E Kami mendapat banyak dukungan belakangan ini. Tetapi sebelumnya tentu saja, sebagai satu organisasi baru kami menghadapi banyak hambatan terutama dalam masyarakat. Dan kira-kira lima tahun yang lalu, kekerasan terhadap perempuan belum dikenali sebagai suatu masalah yang benar-benar serius bagi masyarakat. Seperti saya kemukakan tadi, kami mempunyai program pendidikan masyarakat dimana kami menunjukkan kepada masyarakat data yang kami miliki tentang kaum perempuan yang mengeluh atau melaporkan masalah kekerasan dalam keluarga mereka dan juga dampak yang mereka hadapi sendiri dan juga untuk anak-anak mereka. Lalu orang-orang mulai menyadari bahwa itu benar-benar masalah mereka dan bukan masalah perempuan di barat seperti yang mereka pikirkan. KG Apakah sebenarnya sulit bagi perempuan yang berada dalam situasi ini untuk datang dan bicara kepada Anda? E Yah, dalam tahun-tahun pertama kegiatan kami, ya, sangat sulit buat mereka untuk datang karena hambatan dari masyarakat sangat keras. Kebanyakan perempuan cenderung menghindari masalah mereka terutama kalau masalah itu menyangkut perkawinan. Orang-orang cenderung mengatakan bahwa itu benar-benar masalah rahasia diantara mereka dan keluarga mereka dan khususnya bagi istri, sangat sulit kalau mereka memberitahu orang lain tentang masalahnya dengan suami karena suami adalah orang yang harus ia hormati. Jadi akan sangat memalukan kalau seorang istri memberitahu orang lain mengenai masalahnya dengan suami. KG Apakah Anda menerima reaksi dari para suami atau dari kaum pria dalam anggota keluarga mereka tentang apa yang Anda kerjakan disini? E Tentu saja kami menerima banyak reaksi. Kadang-kadang kami menerima faks dari pria yang tidak mau memberitahukan identitasnya jadi mereka mengirim faks mengatakan hal-hal buruk. Dan kadang-kadang kami juga menerima telpon di tengah malam dan mereka mengatakan sesuatu yang tidak baik, semacam pelecehan, pelecehan hm dan juga kami mendapat kunjungan dari seorang suami yang datang membawa pisau ditangannya untuk mengancam kami. Itu pengalaman kami sehari-hari. KG Dukungan apa yang Anda peroleh dari masyarakat setempat, barangkali wewenang dari pemerintahan Indonesia setempat? E Kami mendapat banyak dukungan belakangan ini. Tetapi sebelumnya tentu saja, sebagai satu organisasi baru kami menghadapi banyak hambatan terutama dalam masyarakat. Dan kira-kira lima tahun yang lalu, kekerasan terhadap perempuan belum dikenali sebagai suatu masalah yang benar-benar serius bagi masyarakat. Seperti saya kemukakan tadi, kami mempunyai program pendidikan masyarakat dimana kami menunjukkan kepada masyarakat data yang kami miliki tentang kaum perempuan yang mengeluh atau melaporkan masalah kekerasan dalam keluarga mereka dan juga dampak yang mereka hadapi sendiri dan juga untuk anak-anak mereka. Lalu orang-orang mulai menyadari bahwa itu benar-benar masalah mereka dan bukan masalah perempuan di barat seperti yang mereka pikirkan. E Oh ya, kami sebenarnya punya tiga staff pria dan salah seorang dari ketiga staff tersebut adalah Wahid yang telah bekerja disini selama paling tidak satu tahun. Dan ia telah sering kali menghadapi pria dalam masyarakat. Ya, ini Wahid.
KG Wahid, kenapa Anda terlibat dalam proyek ini? Wahid (W) Kami tahu bahwa kekerasan terhadap perempuan menjadi masalah yang tidak hanya bagi perempuan tapi juga bagi pria dan perempuan. Dan sebagai seorang pria, saya merasa bahwa gender bisa menimbulkan banyak masalah bagi saya, sesuatu mungkin karena orang-orang menentukan bahwa pria harus menjadi pemimpin, menjadi pria yang sangat tinggi kedudukannya dan lalu. Menjadi sangat sulit bagi pria seperti saya melakukan hal seperti itu. KG Masalah ini bukan hanya untuk kaum perempuan. Pria juga punya masalah dalam bidang ini, benar? W Ya. KG Apa latar belakang anda dan apa pekerjaan anda disini di Rifka Annisa Women Crisis Centre? W Saya lususan dari Institut Pemikian Islam KG yang ada di sini di Jogya? W Yah, di Jogyakarta di IAIN Sunan Kalijaga Indonesia. Dan saya belajar mengenai Hukum Islam bagi Keluarga disana dan ini membantu saya bekerja dalam organisasi ini, maksud saya di Women Crisis Centre. Kami tahu bahwa kebanyakan orang disekitar sini, di Jogyakarta, di Indonesia adalah Muslim dan kami perlu banyak tahu tentang agama untuk mempromosikan kesadaran mengenai masalah-masalah disini. Kalau perempuan bicara tentang masalah kekerasan terhadap perempuan mungkin mereka (kaum pria) tidak akan mempercayainya. Tapi kalau pria bicara tentang kekerasan terhadap perempuan mereka akan lebih mempercayai kami bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah satu masalah dan satu isu besar dalam budaya kami. KG Elli, bisakah Anda memberi informasi tentang jenis-jenis kekerasan yang terjadi dan mungkin beberapa data dari lembaga anda? E Yah, kekerasan domestik terutama kekerasan terhadap istri karena kekerasan domestik juga terjadi antara orang tua dan anak-anak tapi kami mencoba untuk memisahkannya. Kami menyebutnya kekerasan terhadap istri dan lalu masalah berikutnya adalah kekerasan dalam pacaran. KG Apa maksud Anda dengan kekerasan dalam pacaran. E Dating violence kami menyebutnya dalam bahasa Indonesia “kekerasan dalam pacaran” dan lalu kehamilan yang tidak diinginkan, perkosaan, pelecehan seksual dan penyiksaan terhadap anak. KG Sekarang apa perbedaan antara pelecehan seksual dan penyiksaan terhadap istri? E Itu berbeda sama sekali. Pelecehan seksual dapat terjadi antara pria dan perempuan yang tidak saling kenal satu sama lain tapi kekerasan terhadap istri dalam konteks kami selalu kekerasan dari suami terhadap istri. Jadi bisa terjadi bahwa seorang istri menderita pelecehan seksual dari suaminya tapi bukan keadaan seperti yang kami maksudkan. KG Jadi pelecehan seksual bisa ada di tempat kerja atau di jalan-jalan, semacam itulah. E Untuk tahun ini kami punya statistik dari bulan Januari sampai Juni 2000. Kami telah mendapatkan seratus tujuh puluh dua kasus dan itu selalu kasus kekerasan terhadap istri. KG Itu rata-rata dalam satu hari. Jenis kekerasan apa yang paling umum. E Yah, penyiksaan terhadap istri yang mencapai ranking tertinggi setiap tahun sejak tahun 1994 di Rifka Annisa. KG Jadi Elli, beberapa statistik untuk masing-masing masalah tersebut selama periode Januari sampai Juni 2000. E Wife abuse yang kita sebut Kekerasan terhadap istri ada 104 kasus. Pelecehan seksual atau sexual harassment 11 kasus, perkosaan or rape, kami punya 17 kasus. Kekerasan dalam keluarga atau familyviolence, kami punya 4 kasus. KG Hm Elli, saran apa yang bisa Anda berikan kepada perempuan khususnya yang menderita semacam kekerasan. Menurut Anda apa yang harus mereka lakukan? E Hm, Saya ingin menyarankan kepada kaum perempuan yang sedang menderita berbagai bentuk kekerasan untuk mencari bantuan, apakah dengan pergi ke pusat penanggulangan krisis atau ke kantor polisi setempat atau siapa saja. Tapi Anda lebih baik bicara karena kekerasan akan mempengaruhi Anda sebagai individu dan juga akan mempengaruhi keluarga termasuk anak-anak Anda. Jadi Anda harus memecahkan masalah Anda. KG Apa anda punya nomor hot line disini di Jogya sehingga orang bisa menelpon? E Oh ya, kami punya pelayanan hot line. Anda bisa menghubungi kami di nomor ini. Ini Jogyakarta, kode wilayah 0274 dan nomernya, nomer hot line adalah 518 720. Jadi 0274 - 518 720. KG Dan kalau perempuan menghubungi Anda dari luar wilayah Jogya, Anda masih bisa mungkin memberi sedikit bantuan? E Ya, tentu saja. Kalau mereka punya kesulitan dengan rekening telepon, mereka bisa menulis surat ke Rifka Annisa, lalu Rifka Annisa akan membalas surat tersebut.
Return to Archive of AusAID Project Reports
|
![]() |
![]() |
![]() |