| Home > AusAID Projects > AusAID Archives > Australian Volunteers International | ![]() |
KangGURU
and AusAID
|
| Australian Volunteers International in Indonesia | ![]() |
Australian Volunteers International works to build links and increase cooperation between Australians and people living in developing communities. An independent, non-profit organisation, it conducts a variety of people-centered development activities across a wide range of sectors, in some 50 countries throughout Asia, Africa, the Pacific and Latin America, as well as in remote Aboriginal communities within Australia.
| More than 5000 Australians have now been provided with the opportunity to help build a better world by living and working with developing communities as Australian Volunteers. Australian Volunteers contribute their professional skills, knowledge and experience to support a wide range of development initiatives aimed at bringing social, cultural and economic benefits to communities. | ![]() |
Australian Volunteers International also provides project development, management and evaluation expertise for a diverse range of cooperative development projects. In recent years, Australian Volunteers International also has developed a specialist cross-cultural recruitment service and intercultural briefing service.
| There
have been approximately 330 volunteers in Indonesia since Mr. Herb Feith came to Indonesia as a volunteer in 1951. Contact
Details for AVI Bahasa Indonesia - Click here |
![]() |
AVI Ingrid Hering based in Manado, North Sulawesi, worked with Yayasan Mitra Masyarakat from July 1998 until June 2000. Kang Guru caught up with Ingrid in Manado in March 2000.
Kang Guru spoke with Johana in Makassar and she talked about her her work with the AVI Program. 'OK, my official title is environmental education adviser. I believe but that has involved a wide range of things. I've done everything from helping in the field. I just come back from our first harvest of seaweed. I also help in the office with a lot of translation both from English to Indonesian and Indonesian to English including our bilingual magazine which comes out once every three months. Which has a lot of information about all our activities but we also invite from article presented radio program on various environmental topics but I also do a lot of capacity building within the office improving English language skills, improving computer use and I'm also helping development and implementation of program. So helping to hem improve proposal standard form when we are seeking International funding so it's been a very, very wide variety of activities'. Bahasa Indonesia - Click Here |
||||||||
He has been there for two years and is currently planning to stay a lot longer. His relationship with Indonesia goes back along way. He and his family started visiting Indonesia twenty years ago and he is quite clear on the fact that he loves living and working here. Why is he still here? 'I guess also we felt that we wanted to give something back to a place that have given us so much. So if I can provide something for Indonesia then I'm happy to be doing that. So I'm happy to be teaching'.'Well in Indonesia, there is a great need for English language skills. There are many people who want to learn English and be able to use English effectively. So we provide English language teachers, English language teaching within the university to the students. We take classes within the faculty of the university. We have also started to do some curriculum development work with the lecturers, with the academic staff and with administrative staff as well and the Pusat Bahasa works basically out of university hours as an extension course. So university students come too, members of the general public use it as well and we also provide some English language teaching to outside firms' Ken sent an update to KG in early January, 2001. 'Here at the Pusat Bahasa we teach English both to students of the university [Atma Jaya] and to members of the general public. Most of our Pusat Bahasa students are university students, but we have high school students as well, and members of the general public. I really admire their tenacity, too, because they come for two hours a day, five days a week, either at 4pm or at 6pm, after a hard day's work. Some of our students have been doing that for two years, and have moved through the levels from Pre-Elementary to Advanced. I guess that's one of the things that first impressed me about the students here: how much time and effort they are prepared to put into learning English. I'm also impressed with how well many of them now speak English. I give credit to their teachers of course but most of the
credit goes to the students themselves and their will to succeed
at learning a foreign language something that I know from personal
experience is very difficult. My Indonesian is still What else do we do here at the Pusat Bahasa? Well, apart from the English classes we also develop curricula and courses of study to help English teachers. The university has also embarked on an ambitious program where some students are being taught entirely in English, and we are now involved in helping lecturers in these faculties of the university to upgrade their teaching skills, while improving their English at the same time'.
Bahasa Indonesia - Click here |
| Australian
Volunteers International di Indonesia Australian Volunteers International bekerja untuk membangun hubungan dan meningkatkan kerjasama antara orang Australia dan orang-orang yang hidup di masyarakat negara berkembang. Sebagai sebuah organisasi independen, nirlaba, AVI melakukan berbagai kegiatan pembangunan yang berpusat pada orang-orang dalam serangkaian sektor yang sangat luas, di sekitar 50 negara di Asia, Afrika, Pasifik dan America Latin, termasuk dalam komunitas masyarakat Aborigin yang terpencil di wilayah Australia. Lebih dari 5000 orang Australia diberi kesempatan untuk membantu membangun dunia yang lebih baik dengan cara tinggal dan bekerja di tengah komunitas negara berkembang sebagai Australian Volunteers (Tenaga Sukarelawan Australia). Australian Volunteers menyumbangkan ketrampilan profesional, pengetahuan dan pengalaman mereka guna mendukung berbagai inisiatif pembangunan yang ditujukan untuk membawa manfaat sosial, budaya dan ekonomi kepada masyarakat. Australian Volunteers adalah orang-orang yang terampil, profesional, berdedikasi dan bertanggungjawab yang memberikan sumbangan penting bagi kegiatan bantuan pembangunan dari pemerintah Australia untuk dunia internasional dan, yang berperan penting dalam mendidik masyarakat kami sendiri mengenai dunia disekitar kita saat mereka kembali ke Australia setelah menyelesaikan tugas sebagai sukarelawan. Australian Volunteers International juga menyediakan keahlian dalam pengembangan, pengelolaan dan evaluasi proyek untuk berbagai bidang kerjasama pembangunan. Dalam tahun-tahun belakangan ini, Australian Volunteers International juga telah mengembangkan pelayanan perekrutan ahli silang budaya dan briefing antarbudaya. Sekitar 330 sukarelawan di Indonesia sejak Mr. Herb Feith datang ke Indonesia sebagai sukarelawan tahun 1951. Alamat yang bisa dihubungi AVI Phone: (08) 9382 3503 Para sukarelawan bekerja keras! AVI Ingrid Hering yang bertugas di Manado, Sulawesi Utara, bekerja dengan Yayasan Mitra Masyarakat dari bulan Juli 1998 sampai Juni 2000. Kang Guru bertemu Ingrid di Manado pada bulan Maret 2000. Ingrid Hering mengikuti program Australian Volunteers International pada tahun 1998 ketika tinggal di kota kediamannya di Melbourne. Ingrid telah bekerja sebagai wartawan sebelum menjadi sukarelawan. Tempat penugasan pertamanya adalah Manado, Sulawesi Utara dimana ia diminta menggunakan ketrampilannya dalam komunikasi dan bahasa untuk bekerja dengan Yayasan Mitra Masyarakat. Tugas utamanya adalah menyediakan informasi tentang kesehatan reproduksi, tentang PMS dan HIV/AIDS dikota yang dekat pelabuhan tersebut. Kang Guru bertemu dengan Ingrid pada bulan Maret di pinggir pantai di Manado. Ia membawa serta beberapa temannya, petugas penjangkauan lapangan, dan kami semua duduk di warung tepi pantai minum Fanta merah. Sambil berjalan disepanjang pantai, saya meminta Inggrid untuk bicara tentang beberapa aspek yang menarik dari pekerjaan yang memang sangat menarik tersebut. Inggrid menjelaskan tentang camping - satu kegiatan yang menurutnya paling produktif dari semua kegiatan dalam hal mengubah perilaku dan mendidik orang muda yang berpartisipasi. Apakah cara camping yang dilakukannya sama seperti camping di Australia? Ia katakan ada api unggun tapi sayangnya tidak ada tenda. Ada acara nyanyi-nyanyi dan pesertanya sangat menggemari permainan dan lomba. Tujuan utama kegiatan ini adalah pendidikan. Melalui serangkaian kegiatan, informasi diberikan mengenai reproduksi, seks, obat-obatan dan HIV/AIDS. Anak muda merasa nyaman, terbuka. Mereka bisa bicara secara terbuka mengenai masalah-masalah yang memprihatinkan mereka. Terjadi di antara teman, tempat yang sangat bagus bagi mereka untuk mendapatkan informasi ini dan mereka juga mampu mengingatnya. Seperti yang dinyatakan Inggrid dengan begitu jelas, jauh lebih menyenangkan menerima informasi melalui kegiatan seperti camping daripada hanya membaca buku atau majalah. Saya meminta Inggrid memberi contoh yang spesifik tentang cerita sukses yang dihasilkan dari kegiatan semacam ini. Inggrid terus menjelaskan. 'Satu cerita sukses yang khususnya menarik adalah kami memiliki apa yang kami sebut 'pendidik teman sebaya (peer educator) yang kami pilih dari kelompok sasaran. Kami melatih mereka dalam semua aspek konseling, informasi dasar mengenai HIV/AIDS. Dari mereka ini, kami telah memilih satu orang untuk bekerja dengan kami sebagai petugas penjangkauan lapangan. Dia masih sangat muda tapi menjadi contoh yang sangat bagus tentang bagaimana kegiatan khusus ini menjadi cara terbaik untuk menjangkau mereka yang sebetulnya ingin menerima informasi kami. Dia muda, punya banyak teman remaja, dia mampu berkomunikasi dengan baik dan gaya hidupnya sebelum bergabung dengan kami sangatlah berbeda dari sekarang karena dia sudah jauh lebih sadar. Dia merupakan contoh yang sangat bagus tentang apa yang bisa terjadi bila informasi semacam ini diberikan dan diterima dan bagaimana mereka bisa mengubah gaya hidup mereka'. Salah satu pekerja itu adalah Vickram. Vickram Amiri tahu cara-cara dijalanan, seperti dijelaskan oleh Inggrid dalam satu artikel yang ditulis untuk 'Inside Indonesia'. 'Pada usia 19, pemuda Manado ini menjadi petugas penjangkauan lapangan yang paling muda dalam proyek pencegahan HIV/AIDS untuk pemuda terpinggirkan yang dijalankan oleh organisasi non-pemerintah. Tahun-tahunnya terdahulu mencerminkan gaya hidup kelompok sasaran proyek ini di ibukota Sulawesi Utara - minum-minum, memakai obat-obatan, punya banyak pasangan seks yang juga pekerja seks, keluyuran bersama teman dan tidur di jalanan'. 'Dia pertama kali datang menghubungi organisasi non-pemerintah Yayasan Mitra Masyarakat (YMM) dua tahun yang lalu ketika dia berpartisipasi dalam salah satu acara camping bulanan yang berlangsung selama tiga hari yang bertujuan menyebarkan informasi mengenai penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS. Acara tersebut menyampaikan pesan melalui permainan peran, diskusi kelompok kecil, study kasus, acara informasi dan waktu tanya jawab dengan seorang ahli HIV/AIDS. Camping sebagai alat untuk menjangkau pemuda terpinggirkan merupakan hal yang unik di Indonesia. Sebelum ikut camping, Vickram tidak pernah tahu tentang HIV/AIDS. Awal tahun lalu Vickram menjadi petugas outreach. Meskipun mulanya merasa ragu dia melihat masa mudanya sebagai satu keuntungan. “Mereka (kelompok sasaran) menerima saya sebagai teman, yang menjadikannya lebih mudah memberi informasi kepada mereka dan bagi mereka untuk menerimanya,” dia menjelaskan. Seperti kebanyakan sukarelawan, Inggrid jatuh cinta pada kehidupannya di Manado dan tinggal selama dua tahun. Apa yang sangat dia sukai? Manado sangatlah jauh dari Melbourne. Kehidupan dari hari ke hari di Manado sangat berbeda dari kota tempat asalnya termasuk hal-hal seperti bahasa, makanan, cuaca dan perbedaan budaya yang menembus semua aspek kehidupan. 'Anda harus duduk di boulevard pada satu sore dan makan pisang goreng dan hanya melihat semua mikrolet yang ngebut dengan musik yang keras. Atau pergi ke Hutan Tangkoko tempat kera yang paling galak dan juga tempat yang sangat indah untuk hiking. Lalu ada Pulau Bunaken, sangat terkenal dengan terumbu karangnya dan ikan-ikan yang cantik. Dan tentu saja bila Anda datang ke Manado, Anda harus makan Telutuan yang juga dikenal sebagai Bubur Manado. Dibuat dari sayur-sayuran dan dimakan dengan banyak ricah, atau 'sambal' bagi orang Indonesia. Johana lahir di Melbourne. Ia besar dan menghabiskan hampir seluruh masa kanak-kanaknya di Victoria tengah di daerah pedesaan. Ia juga pernah tinggal di Australia bagian utara. Joanna bekerja pada bidang pendidikan lingkungan di Makassar. Kang Guru berbincang dengan Johana di Makassar dan ia bicara tentang pekerjaannya dengan Program AVI. 'OK, jabatan resmi saya adalah penasehat pendidikan lingkungan (environmental education adviser). Saya percaya bahwa itu melibatkan banyak hal. Saya telah melakukan semua pekerjaan mulai dari membantu di lapangan. Saya baru datang dari panen rumput laut pertama kami. Saya juga banyak membantu pekerjaan di kantor menerjemahkan baik dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris termasuk majalah dwibahasa kami yang terbit setiap tiga bulan yang berisi banyak informasi tentang semua kegiatan kami. Kami juga mengundang dari artikel yang disiarkan di program radio tentang berbagai topik lingkungan tapi saya juga banyak melakukan pembangunan kapasitas di kantor untuk meningkatkan ketrampilan bahasa Inggris, meningkatkan penggunaan komputer dan membantu pengembangan dan penerapan program. Jadi membantu memperbaiki bentuk standar proposal bila kami mencari bantuan dana internasional, jadi pekerjaan saya memang sangat, merupakan kegiatan yang sangat bervariasi'. Ken DaCosta saat ini berkerja di Pusat Bahasa di Universitas Atma Jaya di Yogyakarta. Kang Guru mengunjungi Ken tahun lalu dan ia memiliki hal yang menarik untuk disampaikan sebagai seorang sukarelawan dan tentang kehidupannya di Indonesia. Ia telah tinggal di Yogya selama dua tahun dan saat ini sedang berencana untuk tinggal lebih lama. Hubungannya dengan Indonesia dimulai dari berpuluhtahun yang lalu. Ia dan keluarganya mulai mengunjungi Indonesia dua puluh tahun yang lalu dan ia sangat pasti pada kenyataan bahwa ia sangat senang tinggal dan bekerja di sini. Mengapa is masih di sini? 'Saya kira juga kami merasa bahwa kami ingin memberikan sesuatu kepada tempat yang telah banyak memberi kami. Jadi kalau saya bisa memberikan sesuatu untuk Indonesia, saya senang sekali bisa melakukannya. Jadi saya senang mengajar. Yah, di Indonesia ada kebutuhan yang sangat besar untuk ketrampilan berbahasa Inggris. Ada banyak orang yang ingin belajar bahasa Inggris dan mampu menggunakannya dengan efektif. Jadi kami memberikan para guru bahasa Inggris, pengajaran bahasa Inggris di universitas kepada para siswa. Kami mengajar kelas-kelas dalam satu fakultas di universitas. Kami juga mulai melakukan pengembangan kurikulum bersama para dosen, staf akademik dan termasuk staf administrasi, Pusat Bahasa pada dasarnya bekerja di luar jam universitas sebagai kursus lanjutan. Jadi mahasiswa datang juga, anggota masyarakat umum juga memanfaatkannya dan kami juga menyediakan pengajaran bahasa Inggris kepada perusahaan-perusahaan di luar'. Ken mengirimkan informasi terbaru kepada KG pada awal bulan Januari 2001. 'Di sini di Pusat Bahasa kami mengajarkan bahasa Inggris baik kepada mahasiswa universitas Atma Jaya dan kepada anggota masyarakat umum. Kebanyakan siswa Pusat Bahasa kami adalah mahasiswa, tapi kami juga menerima murid sekolah menengah dan anggota masyarakat umum. Saya sungguh mengagumi keuletan mereka, karena mereka datang untuk dua jam sehari, lima hari dalam seminggu, baik pada pukul 4 sore atau 6 sore, setelah bekerja keras seharian. Sebagian murid kami telah melakukan hal itu selama dua tahun, dan telah maju dari tingkat dari Pre-Elementary ke Advanced. Saya pikir itu adalah satu hal yang pertama kali mengesankan saya tentang murid-murid di sini: betapa banyak waktu dan upaya mereka siapkan untuk belajar bahasa Inggris. Saya juga terkesan dengan betapa bagusnya sebagian besar dari mereka sekarang dalam berbicara bahasa Inggris. Saya memberikan kredit kepada guru mereka tentu saja tetapi sebagian besar kredit jatuh ke murid itu sendiri dan keinginan mereka untuk sukses dalam mempelajari bahasa asing adalah sesuatu yang saya tahu dari pengalaman pribadi sangatlah sulit. Bahasa Indonesia saya masih sangat kurang memadai. Apa lagi yang Anda kerjakan di Pusat Bahasa? Yah, terlepas dari kelas bahasa Inggris kami juga mengembangkan kurikulum dan kursus-kursus untuk membantu para guru bahasa Inggris. Universitas juga meluncurkan satu program ambisius di mana sebagian siswa diajar sepenuhnya dalam bahasa Inggris, dan kami sekarang membantu para dosen di fakultas di universitas ini untuk meningkatkan keterampilan |
Return to Archive of AusAID Project Reports
![]() |
![]() |
![]() |