| Home > AusAID Projects > AusAID Archives > Rubbish, Compost, Ducks and Princesses and Princes in East Java | ![]() |
Rubbish and Compost, Ducks and AusAID, the Australian Embassy in Jakarta and other Australian
based organizations support many environmental activities and groups here
in Indonesia. The environment is a very special resource in all countries
and it needs to be looked after. Kang Guru is happy to tell you just a
little about two environmentally active groups in East Java - BEJIS and Tunas Hijau plus special,
additional information from YAPSEM and DAP in Lamongan about women of the village and their ducks. This activity was begun with
Direct Aid Program (DAP) funds from the Australian Embassy Jakarta back
in 2001.
BEJIS, in conjunction with BAPEDAL East Java, has conducted many environmentally orientated activities during 2003. Here are just a few of them for you to read about.
KGRE drove to Lamongan from Surabaya in mid-September to visit the offices of YAPSEM – Pemberdayaan dan Pengembangan Social Ekonomi Mayarakat. This active NGO is helping women in nearby villages to improve their duck flocks. They have helped them to set up a revolving credit facility. Pak Nadhir took KGRE to see some of the results of a revolving fund set up by YAPSEM with funds supplied by the Direct Aid Program (DAP). DAP is based in the Australian Embassy in Jakarta. Funds are given at the discretion of the Australian Ambassador and generally to small community projects such as water supply, income generation and health facilities. Alleviation of poverty is of prime concern for AusAID and the Australian Government in Indonesia.
It was interesting to find out about their activities and other interesting aspects of life in this particular area of East Java. It appears that in some months of the year there is so much water in the village that the idiom – great weather for ducks - is very appropriate indeed.
The revolving credit set up through the DAP funds
and the work of the YAPSEM continues to grow and as of September 2003
the credit available to community members is over Rp.100 million.
Their most recent activity was the Prince and Princess of the Environment Competition. The final of this competition was held in Surabaya on September 7th, 2003. The competition is held to encourage young people in high schools to think more about their environment. It gives them a wonderful opportunity to not only think about the topics but to write and debate about it as well. The writing component of the competition is conducted in English as well as Indonesian language making it of particular interest to KGRE. Roni, leader of Tunas Hijau and Kevin from KGRE traveled across town to SMU 1 in Surabaya to meet the two most recent winners of the competition plus a winner from 2002 who had just returned from Australia. Prizes for the winners are quite fantastic with return trips to Perth. Five winners will participate in environmental activities of all kinds including activities with Millennium Kids at the 2003 Millennium Conference in Perth in October 2003. Tunas Hijau is also involved with 'Clean Up The World' activities.
There will also be more on Tunas Hijau with Pak Roni
and from the BEJIS project with Pak Koko and the team. Surabaya certainly
is an action city as far as the environment goes. Prince Thory and Princess
Gracia, winners in 2002, share with the President (below) about what they
did to increase environmental quality.
Sampah dan Kompos, Itik dan Putri dan Putra di Jawa Timur AusAID, Kedutaan Besar Australia di Jakarta dan organisasi-organisasi berbasis Australia lainnya mendukung banyak kegiatan dan kelompok lingkungan di Indonesia. Lingkungan adalah sumber daya yang amat khusus di setiap negara dan perlu dipelihara. Kang Guru senang memberitahu Anda tentang dua kelompok lingkungan yang giat di Jawa Timur - BEJIS dan Tunas Hijau, ditambah informasi dari YAPSEM dan DAP (Direct Aid Program/Program Bantuan Langsung) di Lamongan mengenai para wanita di desa dan itik mereka. Kegiatan ini dimulai dari dana Program Bantuan Langsung dari Kedubes Jakarta tahun 2001. Pada awal bulan September KGRE berkunjung ke Jawa Timur. Salah satu kegiatannya adalah menghadiri acara Makan Malam Alumni Beasiswa Pengembangan Australia (ADS : Australia Development Scholarship). Tetapi, Kang Guru sudah berjanji untuk mengunjungi BAPEDALDA BEJIS Jawa Timur. Ini adalah proyek yang didanai oleh AusAID yang berada di bawah BAPEDAL Surabaya. Pak Koko, Penasehat Kesadaran dan Jangkauan (Awareness and Outreach Advisor) dalam proyek ini menyambut KGRE di kantor BEJIS. KGRE pernah mengunjungi kantor BEJIS beberapa tahun yang lalu ketika mereka sedang melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan LSM-LSM setempat, misalnya mengukur polusi udara di pusat kota Surabaya dan meninjau sungai-sungai yang kotor di dekat wilayah industri. Kali ini saya berkunjung untuk meninjau beberapa pusat kompos yang dibangun, bukan oleh BEJIS saja, tetapi sekali lagi oleh LSM setempat. Pengolahan kompos didukung oleh BEJIS di Surabaya. Lokasi pertama tidak jauh dari Lanud Surabaya di sebuah daerah bernama Keputih. Di lokasi tersebut ada sekitar delapan orang yang sedang bekerja di tumpukan kompos yang sedang membusuk. Para pekerja sukarela ini terdiri dari mahasiswa dari Universitas Airlangga. Yayuk dan Henny, yang sedang kuliah S2, yang merupakan mahasiswa biologi di Airlangga, yang juga sangat berminat pada lingkungan. Kompos dikumpulkan dari rumah-rumah di sekitarnya. Sebenarnya proses apa yang terjadi di lokasi ini? Limbah rumah tangga dikumpulkan oleh tukang sampah dengan gerobak dorong yang besar - pemandangan yang sering dilihat di seluruh Indonesia. Sampah itu kemudian dibawa ke lokasi pemrosesan kompos dan dipilah-pilah sampah organik dengan sampah non-organik. Bahan-bahan non-organik (botol-botol plastik, kemasan-kemasan) didaur-ulang atau dijual. Limbah organik diolah sehingga setelah satu bulan atau lebih menjadi kompos yang berkualitas tinggi. Bahan ini dapat digunakan untuk kebun-kebun dan mempunyai nilai jual. Jadi, selain memberi penghasilan, proses pengkomposan juga membuat masalah limbah rumah tangga tertangani, sehingga tidak bertumpuk di saluran air, sungai, di sisi-sisi jalan atau dikubur di halaman kita sendiri. Kedengarannya bagus, bukan? Lokasi kedua, yang juga didukung oleh BEJIS, berada jauh di pinggir kota Surabaya, di dekat sebuah wilayah tanah timbun di Karah. Pak Totok Nordianto, ketua Yayasan Mitra Alam Indonesia berada di sana untuk menemui kami. Dengan singkat beliau menjelaskan tentang persiapan yang sedang beliau lakukan, yang hampir sama dengan lokasi kompos yang pertama. KGRE akan berbincang-bincang dengan Totok pada awal tahun 2004 mengenai informasi lebih lanjut tentang pekerjaannya yang berhubungan dengan lingkungan. Beliau sangat rajin memelihara lingkungan dan memiliki banyak kisah untuk diceritakan. BEJIS yang bekerja sama dengan BAPEDAL Jawa Timur, telah melakukan banyak kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan sepanjang tahun 2003. Di bawah ini Anda dapat membaca beberapa dari kegiatan mereka. *Pada bulan April diadakan serangkaian lokakarya dan kegiatan Belajar Praktek untuk menangani masalah limbah medis. Kegiatan-kegiatan tersebut dipusatkan pada penanganan, pemilahan, pengelolaan dan pengolahan limbah dari rumah sakit. Pada akhir kegiatan-kegiatan tersebut, para peserta memberikan saran-saran untuk membantu pegawai rumah sakit memperbaiki pengolahan limbah rumah sakit. *Pak Koko, Penasihat Kesadaran dan Jangkauan dari BEJIS, mengambil bagian secara langsung dalam program praktek menanam bibit di sebuah wilayah hutan yang rusak karena penebangan gelap. Kegiatan tersebut merupakan gagasan dari sebuah kelompok mahasiswa pecinta lingkungan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember di Surabaya. Ada 30 sukarelawan setempat dan 22 mahasiswa yang terlibat dalam penanaman itu pada bulan April. *Sebuah kursus pelatihan yang berlangsung selama empat hari pada bulan Mei diadakan bersama dengan masyarakat pesisir di Kabupaten Lamongan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan mereka. Ada 23 peserta dari badan-badan pemerintah di tingkat-tingkat kabupaten, kecamatan dan desa. Topik-topik utamanya adalah hutan bakau dan ekosistem tepi laut, penanganan limbah dan pemberdayaan masyarakat agar lebih terlibat dalam penanganan sumber daya tepi laut mereka sendiri. *Pada bulan Juni, diadakan lokakarya dua hari bersama dengan perwakilan dari BAPEDAL dan BAPPETROP, 6 kabupaten di Jawa Timur, badan-badan pertanian dan perhutanan, irigasi dan sumber daya alam, perencanaan dan pengembangan industri, serta universitas. Lokakarya tersebut, melalui dokumen yang dipersiapkan oleh BAPEDAL, memusatkan perhatian pada pengelolaan sumber daya, pengendalian polusi dan pengelolaan sumber daya manusia. *Sebuah kursus pelatihan diadakan pada bulan Juli dengan
9 guru dari empat sekolah menengah pertama dan umum. Sekolah-sekolah ini
terletak dekat dengan Kali Tengah di Kecamatan Driyorejo, Gresik. Pelatihan
ini meningkatkan kesadaran akan masalah-masalah kesehatan lingkungan di
sekolah-sekolah. Kali Tengah memiliki tingkat polusi yang tinggi. Dalam hal ini, Rp. 40 juta disumbangkan pada tahun 2000. Dengan bekerja sama dengan masyarakat setempat di beberapa kecamatan (seluruhnnya ada 9 kecamatan), LSM yang giat ini telah menyiapkan kredit keliling bagi para wanita di desa-desa (ada 1785 anggota sampai September 2003) untk mengembangkan ternak itik mereka. Itik sangat penting di wilayah ini. KGRE mengunjungi beberapa rumah untuk bertemu dengan beberapa dari wanita di desa itu dan amat terkesan melihat betapa ratusan itik yang mereka miliki merupakan kebanggaan dan kesenangan mereka. Ada banyak sarang itik yang penuh dengan telur di mana-mana dan sukacita di wajah wanita-wanita itu jelas terlihat. Mereka bangga sekali akan kegiatan mereka dan mereka pantas bangga. Mereka juga memelihara ayam dan kambing. Menarik untuk mengetahui tentang kegiatan mereka dan aspek lain dari kehidupan mereka di wilayah Jawa Timur ini. Nampaknya dalam beberapa bulan dalam tahun ini akan ada banyak sekali air sehingga ungkapan - cuaca yang baik untuk itik - benar-benar cocok. Selama beberapa bulan dalam tahun itu, sekitar bulan Januari dan Februari, keseluruhan wilayah ini terendam air sampai semeter lebih tingginya. Warga desa sudah agak terbiasa dengan banjir tahunan ini dan malah menggunakan banjir itu untuk menangkap ikan, yang menurut mereka, berenang di dalam dan di sekitar rumah mereka yang tergenang banjir sehingga mudah dan cepat menangkapnya. Sebagian besar rumah dibangun di atas timbunan tanah yang tinggi. Tanah ini keras - sekeras batu - selama hampir sepanjang tahun. Namun beberapa rumah tidak dibangun di atasnya dan banjir tahunan sudah diantisipasi dan bukan merupakan masalah yang besar bagi mereka. Mereka mengatakan bahwa mereka dapat menangkap ikan di dalam rumah. Kebanyakan wanita malah tertawa ketika bercerita tentang keadaan itu dan bagaimana mereka harus naik perahu untuk pergi ke suatu tempat - transportasi satu-satunya. Ada ratusan perahu terletak di sekeliling desa tetapi mereka memberitahu KGRE bahwa beberapa bulan lagi perahu-perahu itu akan digunakan untuk mengantar anak-anak ke sekolah dan para wanita berbelanja ke toko-toko setempat. Sepeda dan sepeda motor tidak akan digunakan selama banjir. Kegiatan peningkatan pendapatan lain yang juga penting di daerah ini termasuk perikanan dan menanam padi. Ada ribuan kolam ikan di wilayah ini, sebagian besarnya 50m x 20m, yang dalamnya kira-kira 2-3 meter. Pada musim hujan kolam-kolam itu dipenuhi air dan ikan. Karena sebagian besar kolam ini kering pada musm panas, kolam-kolam tersebut sering digunakan untuk menanam padi. Selama beberapa bulan dalam setahun kolam-kolam itu tidak dimanfaatkan sementara masyarakat menunggu kembalinya musim hujan. Namun ternak itik tetap dikembangkan sepanjang tahun. Kredit keliling yang diberikan melalui dana DAP dan
pekerjaan YAPSEM terus berkembang dan sampai September 2003, kredit yang
disediakan untuk anggota masyarakat berjumlah lebih dari Rp. 100 juta. Tunas Hijau adalah LSM yang inovatif yang berbasis di Kantor Pusat Pramuka di Jl Kertajaya, Surabaya dan terlibat dengan banyak kegiatan lingkungan di Surabaya. Kegiatan mereka terkini adalah Kompetisi Putra dan Putri Lingkungan. Babak final kompetisi ini diselenggarakan di Surabaya pada tanggal 7 September 2003. Kompetisi ini diadakan untuk mendorong kaum muda di sekolah-sekolah untuk lebih memikirkan lingkungan mereka. Hal ini memberi mereka kesempatan yang bagus sekali untuk tidak hanya memikirkan topik-topik mengenai lingkungan tetapi juga untuk menulis dan beradu pendapat tentang topik-topik tersebut. Dalam kompetisi itu, mereka menulis dalam bahasa Inggris dan Indonesia, dan hal ini menarik bagi KGRE. Roni, ketua Tunas Hijau dan Kevin dari KGRE mengadakan perjalanan ke bagian lain dari kota itu ke SMU 1 di Surabaya untuk bertermu dengan para pemenang kompetisi tahun itu dan seorang pemenang tahun 2002 yang baru saja kembali dari Australia. Hadiah-hadiah untuk para pemenang cukup luar biasa, yaitu perjalanan pulang-pergi ke Perth. Lima orang pemenang akan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan lingkungan termasuk kegiatan dengan Millenium Kids di 2003 Millennium Conference di Perth bulan Oktober 2003. Tunas Hijau juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan 'Clean Up The World' (Membersihkan Dunia). Laporannya bagus sekali dan di dalamnya terdapat beberapa gagasan yang luar biasa dan ditulis dalam bahasa yang baik. Baca juga tentang pekerjaan yang dilakukan beberapa anak sekolah di Lombok dalam 'Membersihkan Dunia' seraya mereka memelihara lingkungan. Para pemenang tahun 2003 meninggalkan Indonesia pada tanggal 27 Oktober dan kembali pada tanggal 7 November. KGRE akan menemui mereka setelah mereka kembali. AII memberikan dana sebesar $10,000 untuk hadiah, termasuk buku-buku, pelatihan lingkungan untuk anak-anak yang berpartisipasi dalam kompetisi tersebut dan bantuan bagi para pemenang untuk mengembangkan proyek lingkungan mereka. Wawancara KGRE dengan Domingo, Nastiti dan Gracia (pemenang tahun lalu) dapat didengarkan di KGRE di Seri 4001 dan di majalah Desember 2003. Akan ada juga wawancara dengan Pak Roni dari Tunas Hijau dan Pak Koko dan timnya dari proyek BEJIS. Kota Surabaya benar-benar bertindak dalam menangani lingkungan kotanya. Putra Thory dan Putri Gracia, pemenang tahun 2002, menyampaikan kepada Presiden (di bawah) apa yang mereka lakukan untuk meningkatkan mutu lingkungan. Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, megundang Putra dan Putri Lingkungan 2002 untuk menghadiri pertemuan puncak perayaan Hari Lingkungan Dunia di Indonesia di Monumen Nasional di Jakarta tanggal 5 Juni 2003. Pada perayaan ini, Putra dan Putri Lingkungan mewakili anak-anak Indonesia yang peduli pada lingkungan mereka. 'Saya senang sekali mendengarkan apa yang kalian Putra dan Putri Lingkungan beserta rekan-rekan kalian lakukan untuk meningkatkan mutu lingkungan," jawab Presiden Megawati Soekarnoputri kepada Putra Thory dan Putri Gracia. Selain Konferensi Lingkungan Anak-anak Milenium di Perth, ke lima pemenang itu akan mengunjungi - *lokasi tempat pembuangan akhir di dekat Perth *pantai-pantai di wilayah Perth karena salah satu rencana mereka adalah membuat Pantai Kenjeran di dekat Surabaya sebagai wilayah bersih *beberapa sekolah karena masing-masing delegasi ingin membuat program sekolah kembar *beberapa 'wilayah hijau' di beberapa lokasi *Kebun-kebun Raya di Perth *beberapa proyek lingkungan yang dibuat
oleh anak-anak setempat di Perth |
![]() |
![]() |
![]() |