KangGURU Radio EnglishHome page
  Home > AusAID Projects > AusAID Archives > Coral Reef Rehab Project
KangGURU Radio English

COREMAP is an AusAID funded project working in Maumere Flores, Riau, Papua and South Sulawesi in Indonesia. One of the major aims of the project is to involve local communities and stakeholders in the protection and management of their valuable coral reefs.

Coral Reef Rehabilitation and Management Project (COREMAP)
 
for Bahasa Indonesia


Fadhli is a member of the COREMAP team based in Bonerate, Selayar, South Sulawesi. In fact Fadhli is from Selayar and therefore he has a vested interest in the work of this AusAID project in Taka Bonerate. He is a Database Operator at the Monitoring and Controlling Surveillance (MCS) and began with the project in February 2002. MAS bulletin is called PATROLI KARANG (Media Penyelamatan Terumbu Karang).

           



Phase One of the project worked is working in the Bonerate National Park (2001 - Oct. 2003) Phase Two begins in 2004 and will conduct activities in areas away from Bonerate. There are many other areas in the Selayar Regency that are keen to have assistance from COREMAP. 

The main aim of COREMAP is the environment and in particular maritime resource management of Indonesia’s coral reefs. The reefs are a major productive and ecological asset and are a priority for the Government of Indonesia. Their protection and sustainable management is important for fisheries, tourism, natural heritage and shoreline protection.

MCS has a very important role to play in Bonerate. Did you know that Bonerate is the third largest coral atoll in the world? Well it is and it needs protecting. Their role is to basically guard the reefs of the area against people who are destroying the reefs and the coral by using bombs and poison for fishing. With assistance from stakeholders they are cruising the ocean waters looking for fishermen who for whatever reasons have little concern for the well being of the valuable coral habitats. They use a speedboat patrol unit in conjunction with the Selayar Ranger. Stakeholders include other local fishermen, the Kepala Desa, the community, POLRES and Dinas Perikanan.

Surveillance is carried out by Polisi Hutan (called 'Jagawana')and by ‘Reef Watcher’. This later group is comprised of 16 community members using 8 traditional boats – ‘jolor’. They do much of the ‘searching and looking’ and then report any suspicious activities to Polisi Hutan, Tim Penyidik and Tindak Lanjut*

  



COREMAP has provided the Reef Watchers with digital cameras so that they can take photographs of people fishing illegally and destroying the reefs. They then contact the Polisi Hutan via walkie-talkie radio. Polisi Hutan then takes immediate action and ‘capture’ the offenders. The photographic evidence is then also passed on to the Polisi Hutan so that the necessary legal action can be taken. Recent activities by these two groups have resulted in 35 people being brought to the courts and being charged - 13 of them using bombs for fishing and 22 for using potassium cyanide to anaesthetize the fish.

In the Selayar area COREMAP is also facilitating training programs to help communities. One of the income generating activities is a fantastic new process by which local communities can produce pure virgin oil from their coconuts. The whole process only takes one and a half hours. More about this later on KGRE.

Tim Penyidik dan Tindak Lanjut is made up of Polisi Polres Selayar, Kejaksaan, Dinas Perikanan, NGOs and Polisi Air Laut

COREMAP adalah proyek yang didanai oleh AusAID yang dijalankan di Maumere, Flores, Riau, Papua dan Sulawesi Selatan. Salah satu sasaran utama proyek tersebut adalah untuk melibatkan masyarakat setempat dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam melindungi dan mengelola terumbu karang mereka yang berharga.

Fadhli adalah anggota tim COREMAP yang bekerja di Bonerate, Selayar, Sulawesi Selatan. Sebenarnya Fadhli berasal dari Selayar, oleh sebab itu ia memiliki minat tersendiri pada pekerjaan proyek AusAID ini di Taka Bonerate. Beliau adalah Operator Database pada Pengawasan Pengendalian dan Monitor dan mulai bekerja di proyek ini pada bulan Febuari 2002. Buletin MCS bernama PATROLI KARANG (Media Penyelamat Terumbu Karang).

Tahap Pertama proyek tersebut dilaksanakan di Taman Nasional Bonerate (2001 – Oct. 2003). Tahap Kedua dimulai pada tahun 2004 dan mereka akan mengadakan kegiatan-kegiatan di wilayah-wilayah yang jauh dari Bonerate. Ada banyak area lain di Kabupaten Selayar yang senang sekali mendapatkan bantuan dari COREMAP.

Sasaran utama COREMAP adalah lingkungan, khususnya pengelolaan sumber daya perairan terumbu karang Indonesia. Terumbu karang adalah aset produksi dan lingkungan yang utama serta merupakan prioritas bagi pemerintah Indonesia. Perlindungan dan pengelolaan terhadap kesinambungan mereka penting bagi perikanan, pariwisata, kelangsungan alam dan perlindungan garis pantai.

MCS memiliki peranan penting di Bonerate. Tahukah Anda bahwa Bonerate adalah laguna karang terbesar ketiga di dunia? Itu benar dan Bonerate perlu dilindungi. Peran MCS adalah menjaga karang-karang di wilayah itu dari orang-orang yang merusak terumbu dan karang yang menggunakan bom dan racun untuk menangkap ikan. Dengan bantuan dari pihak-pihak yang berkepentingan, mereka melintasi samudera mencari nelayan yang karena alasan apapun tidak terlalu peduli terhadap habitat karang yang berharga itu. Mereka menggunakan unit patroli perahu cepat, bekerja sama dengan Petugas Keamanan Selayar. Pihak-pihak yang berkepentingan adalah para nelayan setempat, Kepala Desa, masyarakat, POLRES dan Dinas Perikanan.

Pengawasan dilakukan oleh Polisi Hutan (disebut ‘Jagawana’) dan ‘Pengawas Karang’. Kelompok Pengawas Karang terdiri dari 16 anggota masyarakat yang menggunakan 8 perahu tradisional – ‘jolor’. Mereka ‘mencari dan mengamati’ dan kemudian melaporkan kegiatan yang mencurigakan yang mereka lihat kepada Polisi Hutan, Tim Penyidik dan Tindak Lanjut.*

COREMAP telah memberikan beberapa kamera digital kepada Pengawas Karang agar mereka dapat mengambil gambar orang-orang yang menangkap ikan dengan tidak sah dan yang merusak karang. Kemudian mereka menghubungi Polisi Hutan melalui radio HT. Lalu Polisi Hutan segera mengambil tindakan dan menangkap para pelanggar hukum tersebut. Bukti-bukti berupa foto diberikan kepada Polisi Hutan sehingga mereka dapat mengambil tindakan hukum yang diperlukan. Akhir-akhir ini, kegiatan dua kelompok Pengawas Karang menghasilkan dibawanya 35 orang ke pangadilan dan dihukum – 13 dari mereka menggunakan bom untuk menangkap ikan dan 22 orang menggunakan potassium cyanide untuk membius ikan.

Di wilayah Selayar, COREMAP juga memfasilitasi program-program pelatihan untuk membantu masyarakat. Salah satu dari kegiatan peningkatan pendapatan yang mereka adakan adalah proses baru yang luar biasa dimana masyarakat setempat dapat menghasilkan minyak murni dari kelapa mereka. Keseluruhan prosesnya hanya memakan waktu satu setengah jam. Informasi lebih banyak tentang hal ini akan ada di KGRE.

* Tim Penyidik dan Tindak Lanjut terdiri dari Polisi Polres Selayar, Kejaksaan, Dinas Perikanan, Organisasi-organisasi Non-Pemerintah and Polisi Air Laut.

For full news from AusAID of this exciting project Click Here

Check out AusAID's Indonesia website for yourself

Return to Archive of AusAID Project Reports

Return to top

Students across the archipelago learn English with Kang GURU Learning English is Fun!
AusAID in Indonesia - Australian Government IALF Education for Development Radio Republic Indonesia