| Home > AusAID Projects > AusAID Archives > Healthy Mothers Healthy Babies | ![]() |
Over the past five years, HMHB has been involved in the development of participatory processes (melibatkan masyarakat) of health education and training. One of the most dynamic activities involved staff from the Posyandu and Puskesmas working together with mothers and health workers. They discussed the problems they had by joining together in a series of discussion and learning activities. This participatory process involved active discussion about health problems and the best ways to overcome them.
And also of their common role – to provide effective health services to local communities. There is now a stronger sense of a partnership at village level in terms of providing care for pregnant mothers, mothers in delivery and both mother and baby after birth. An interesting point here is that in parts of SULTRA the traditional birth attendants are not always women. There are also male traditional birth attendants. The ultimate aim of these workshops and training sessions was to increase the number of deliveries done with well-trained health personnel. For a mother it is important that she has a fully trained health worker looking after her baby’s delivery. However it is also important that a dukun bayi is involved too provide the traditional, cultural, spiritual and psychological support that mothers want. The dukun bayi is still a very important person to the women in the villages on SULTRA.
Competency based training together with the training
of kader to use communication materials plus the participatory
learning and action process used in the workshops have all worked together
to have this significant impact at the local community level. Ronni and
Gillian have worked tirelessly with their counterparts in the Dinas to
design the training packages and then provide training for the Master
Trainers. The 30 Dinas Kesehatan Master Trainers then trained around
90 puskesmas trainers who carry out the training at the local level. HMHB, sebuah proyek AusAID, telah bekerja sama dengan para pegawai dari Dinas Kesehatan di Sulawesi Tenggara, Indonesia (SULTRA) sejak 1998. Para pekerja keras ini, termasuk pekerja dari HMHB Gillian Lang dan Ronni Tomasowa, telah melakukan kegiatan-kegiatan pelatihan dan pengembangan di wilayah Buton dan Kendari. Bantuan teknis yang diberikan HMHB membantu meningkatkan kapasitas dan kapabilitas Dinas Kesehatan. Bantuan tersebut juga memberikan ketrampilan dan kemampuan untuk mengembangkan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan pelatihan bagi para pekerja kesehatan di Sultra dengan lebih baik. Selama lebih dari lima tahun, HMHB telah terlibat dalam perluasan keterlibatan masyarakat dalam pelatihan dan pendidikan kesehatan. Salah satu kegiatan yang paling dinamis melibatkan para pegawai Posyandu dan Puskesmas, bekerja sama dengan para ibu dan para pekerja kesehatan. Keterlibatan masyarakat ini juga termasuk diskusi aktif tentang masalah-masalah kesehatan dan cara-cara terbaik untuk menanganinya. Waktunya menimbang. Kegiatan belajar ini membuat semua pihak menyadari bahwa para pekerja kesehatan masyarakat, seperti kader posyandu dan dukun bayi, benar-benar memiliki hubungan yang khusus dengan masyarakat. Mereka dapat mengembangkan peranan yang lebih jelas dari para kader dan dukun bayi. Peran yang baru terungkap ini memudahkan penyampaian informasi kesehatan yang penting bagi para ibu dan keluarga mereka. Para pegawai puskesmas tertentu bertindak sebagai fasilitator untuk:
Selalu ada perselisiahan antara bidan dan dukun bayi setempat karena peranan mereka sebelumnya selama dan setelah kelahiran bayi. Sering ada masalah hubungan antara dua kelompok ini. Mereka bercerita tentang peranan mereka dalam lokakarya-lokakarya. Proses penyelesaian masalah mereka ditawarkan di tingkat Posyandu (desa) dengan menggunakan rangkaian gambar yang dirancang dengan hati-hati. Teknik inovatif yang diperkenalkan oleh HMHB dan diterapkan oleh para pegawai Dinas Kesehatan untuk menyelesaikan masalah-masalah ini disebut Belajar dan Berpartisipasi (Partisipatory Learning and Action). Lokakarya-lokakarya yang melibatkan bidan desa dan dukun bayi adalah contoh penerapan yang bagus sekali dari proses ini. Tujuan lokakarya-lokakarya ini adalah untuk mencoba mengarahkan agar mereka dapat melakukan diskusi dua arah dan bersama-sama mencari jalan keluar dari perbedaan-perbedaan mereka. Mereka melihat gambar-gambar tadi dan membahas pertanyaan-pertanyaan seperti, ‘ Apa yang sedang terjadi di gambar itu?’ ‘Peranan siapa itu?’ ‘Apakah itu tugas bidan atau dukun bayi?’ Gambar-gambar tersebut memperlihatkan dengan jelas apa peran dukun bayi dan apa peran bidan. Setelah membahas gambar-gambar tersebut, para peserta membuat keputusan bersama tentang ‘siapa melakukan apa’. Keputusan-keputusan ini dicantumkan di peta janji kemitraan antara bidan desa dan dukun bayi. Menjelang akhir lokakarya itu mereka memiliki sebuah peta yang menjabarkan peranan-peranan dukun bayi dan bidan. Mereka telah bersama-sama memutuskan dan menyetujui peranan-peranan itu. Mengenai peranan umum mereka – memberikan pelayanan kesehatan yang efektif kepada masyarakat setempat; sekarang mereka memiliki rasa kemitraan di tingkat desa dalam memberikan perawatan bagi ibu-ibu hamil, melahirkan serta ibu dan bayi pasca-melahirkan. Hal yang menarik di sini adalah di beberapa bagian wilayah di Sultra, tidak semua dukun bayi wanita. Ada juga dukun bayi pria. Tujuan utama lokakarya-lokakarya dan pelatihan-pelatihan ini adalah untuk meningkatkan jumlah kelahiran yang ditangani oleh petugas kesehatan yang terlatih dengan baik. Penting bagi seorang ibu agar kelahiran bayinya ditangani oleh seorang pekerja kesehatan yang terlatih dengan baik. Namun, penting juga bagi seorang dukun bayi agar dia dilibatkan untuk memberikan dukungan tradisional, budaya, spiritual dan mental yang diinginkan para ibu. Dukun bayi masih memiliki peranan yang penting bagi para wanita di desa-desa di Sultra. Kelompok perancang dari HMHB dan Dinas Kesehatan mempersiapkan hal-hal untuk kegiatan-kegiatan ini, salah satunya adalah Pak Slamet Ryadi. Koordinator Komunikasi dan Mobilisasi Sosial dari HMHB dan perancangnya yang kreatif Pak Agus Putra Jaya, mempersiapkan materinya. Materi-materinya termasuk gambar-gambar, gambar tempel, selebaran, rangkaian program radio, lagu-lagu, spanduk-spanduk, buku-buku komik, film-film singkat, kartun-kartun, poster-poster dan diagram-diagram proses. Paket-paket komunikasi dan pelatihan HMHB ini dirancang untuk memberikan motivasi, rasa percaya diri dan ketrampilan bagi semua pihak yang terkait (orang tua, anak-anak, para pegawai Puskesmas dan Posyandu, dll.) agar mereka dapat memberikan pendidikan kesehatan yang dibutuhkan di masyarakat setempat dengan lebih baik. HMHB mulai bekerja di kecamatan Kendari pada tahun 1998. Para peserta yang terdiri dari bidan-bidan penolong persalinan yang terlatih dengan baik pada watu itu berjumlah sekitar 36%. Menjelang tahun 2003 jumlah itu meningkat mejadi 56%. Pelatihan untuk mengembangkan kompetensi dan pelatihan kader yang menggunakan materi-materi komunikasi yang disebut di atas, ditambah dengan proses Belajar dan Berpartisipasi yang digunakan dalam lokakarya-lokakarya, telah bersama-sama memberikan dampak yang nyata ini di tingkat desa. Ronni dan Gillian telah bekerja tanpa kenal lelah dengan rekan-rekan kerja mereka dari Dinas Kesehatan untuk merancang paket-paket pelatihan dan memberikan pelatihan bagi para Pelatih Master. Ketiga puluh Pelatih Master dari Dinas Kesehatan kemudian melatih 90 pelatih puskesmas yang memberikan pelatihan di tingkat-tingkat lokal. Check out HMHB's website - Click
Here |
![]() |
![]() |
![]() |