| Home > AusAID Projects > AusAID Archives > IDPs in Buton | ![]() |
Internally Displaced
Persons (IDPs), education and gender issues
in Buton, helping people to decide on their own future,
fighting disease in cocoa and shrimps
and the study of fire control and fire protection
in Sumba - all on this month's AusAID in Indonesia and Australian
linked activities page from KGRE. These activities are supported by AusAID,
the Australia Indonesia Institute and ACIAR. As a result of the recent conflicts in Ambon, several hundred thousand people, including many Butonese, were forced to leave and return to Buton. In his role as a Project Officer with Save The Children Fund he has been passionately involved in making sure that primary aged children from those Internally Displaced Person (IDP) communities, along with the local children, get a good education. Many of the IDP children were traumatized by the events in Ambon and by the move to Buton. Many of them were especially shy with the local children.
Dinas Kabupaten Education
will continue the work of the project. They have been involved with this
work for many years and have seen the benefits to both students and communities.
For more information on the project - Click Here
One of the biggest problems is the farmers' attitude
and Arif hopes that farmers will follow the advice given to them by the
BADC more carefully. BADC has carried out significant training programs
with these farmers. They have been enthusiastic with the trainings and
they also very happy because BADC has provided them with technology and
other forms of support. The work at BADC is supported by the Indonesian
Government and Australia Centre for International Agricultural Research
(ACIAR) KGRE visited Arif at the research headquarters in Jepara in late
August, 2003. On August 31st Arif gave an informative presentation about
their shrimp research to the KGRE Connection Club's Get Together in Jepara.
Club members asked many important questions and showed that they are very
interested in the welfare of one of their most important local industries.
So is the Indonesian Government, ACIAR and KGRE.
Do you enjoy eating chocolate? Maybe your favorite is chocolate flavored ice-cream or a TOP or Dairy Queen chocolate bar? Did you know that chocolate is made from cocoa beans. These are grown on small trees inside pods. These small trees originated (berasal) in the Upper Amazon region of South America. Did you also know that there are over 400,000 farmers in Sulawesi producing cocoa? Their hard work makes Sulawesi the third largest exporter of cocoa in the world. Growing cocoa in Sulawesi began in the 1980s. Growing cocoa was very successful in the early years but lately there have been problems. One of them is pod-borer – an insect that caused damage to 80% of the crops in South Sulawesi in 1995.
They have collected nearly 50 cocoa seed pods from throughout Indonesia, the Indonesian Coffee and Cocoa Research Institute in Jember and even some from Malaysia. They are testing them and their resistance to pod-borer and other cocoa diseases. Indonesian farmers are very important to their research process. The farmers are helping to find disease resistant cocoa trees within their own plantations. These trees are then used to develop better strains (keturunan) of cocoa trees through grafting (okulasi). Then farmers are encouraged to copy what the researchers have done so successfully in field trials. In doing so they will be working together to produce better quality disease resistant cocoa trees (and pods) and reduce crop losses in the future.
Fires in Indonesia and in Australia have
had a great affect on farming in the past. In Indonesia fires cost US$9
billion in 1997–98. Lost rice production, the destruction
of large areas of forest, enormous areas of smoke pollution and adverse
(merugikan) health effects for Indonesia and neighboring countries were
just some of the results. A very special project is now looking at these
problems. The aim of the project is to develop and implement suitable fire
management strategies and policies for Indonesia and northern Australia.
These policies will result in more sustainable productivity, better living
standards for rural communities and less environmental damage. Pak Petrus
spoke to KGRE in Sumba in September. He certainly had a lot to say about
this project and how important it really is. You can hear him in early 2004
on KGRE radio across Indonesia.
To find out more about this project then Click Here and about CIFOR and forest fires - Click Here
After the training we then went directly go to the community to collect information and learn together with the people. Together we tried to determine what their problems are and how to solve them. NGOs are only facilitators. For two weeks we learnt together with the community. They discovered (learnt) about themselves. In the past the community was rarely involved in government activities, particularly the poor and women. In the villages, to make development program, they were always forgotten. The village elite and the rich always attended the meeting. Their voices were never heard.
Masalah-masalah pengungsi lokal, pendidikan dan pembedaan jenis kelamin di Buton, membantu orang-orang untuk memutuskan apa yang akan mereka lakukan untuk masa depan mereka, memerangi penyakit yang menyerang tanaman coklat dan ternak udang, serta penelitian pengendalian dan perlindungan dari kebakaran di Sumba – semuanya merupakan kegiatan AusAID di Indonesia yang berhubungan dengan Australia, yang diliput KGRE bulan ini. Kegiatan-kegiatan ini didukung oleh AusAID, Institut Australia-Indonesia dan ACIAR. Para pengungsi lokal di Buton Seorang IDP muda di Buton yang memperoleh manfaat dari AusAID di Indonesia. Sebagai akibat dari konflik yang terjadi akhir-akhir ini di Ambon, ratusan ribu orang, termasuk banyak orang Buton, terpaksa meninggalkan Ambon dan kembali ke Buton. Dalam peranannya sebagai Project Officer dalam Save the Children Fund (Dana Penyelamatan Anak), Ade telah terlibat dengan sepenuh hati dalam memastikan agar anak-anak usia dini di antara para pengungsi tersebut, termasuk anak-anak setempat, memperoleh pendidikan. Banyak anak-anak pengungsi menderita trauma karena kejadian-kejadian di Ambon, dan dengan pindah ke Buton banyak di antara mereka merasa malu berhadapan dengan anak-anak setempat. Ade dan timnya di Dana Penyelamatan Anak (bantuan Pemerintah Inggris), dengan dukungan dari AusAID, mulai memastikan tersedianya pendidikan yang baik dan layak bagi semua anak. Salah satu bagian yang amat penting dalam pekerjaan mereka adalah mempromosikan pentingnya mutu pendidikan dan pendidikan yang layak kepada semua pihak yang terkait – para siswa, orang tua, guru-guru, kalangan berwenang dalam pendidikan dan masyarakat. Dengan bekerja sama dengan masyarakat dan departemen pendidikan setempat, proyek tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa setiap anak harus bersekolah dan sekolah harus memiliki mutu yang baik. Sebagai hasil dari kerja keras mereka, tercapai keterlibatan masyarakat yang erat di hampir semua sekolah yang terlibat dalam proyek ini. Penyediaan metodologi mengajar yang layak, termasuk Pengajaran Berdasarkan Konteks (Context Based Teaching), serta materi mengajar yang bagus lebih lanjut ditambahkan untuk memperkuat kesatuan masyarakat. Banyak sekolah lain di wilayah Buton sekarang ikut menerapkan gagasan yang digunakan oleh guru-guru dan masyarakat di sekolah-sekolah yang terlibat dengan proyek itu sebelumnya. Pastikan untuk mendengarkan KGRE pada akhir tahun 2003 dan awal tahun 2004. Ade berbicara tentang proyek tersebut dan mengapa ia terlibat di dalam proyek itu dengan penuh semangat. Bahasa Inggrisnya bagus sekali, jadi jangan lewatkan. Ade sudah bekerja dengan para pengungsi lokal di Bau Bau, Buton, selama lebih dari tiga tahun. Dinas Pendidikan Kabupaten akan melanjutkan pekerjaan proyek ini. Mereka sudah terlibat dalam proyek ini selama bertahun-tahun dan sudah menyaksikan manfaat bagi baik para siswa maupun masyarakat. CBAD Jepara dengan ACIAR Jepara adalah wilayah peternakan udang yang utama di Indonesia. Masakan udang tersedia di warung-warung di jalan kecil sampai di rumah-rumah makan terbaik di kota-kota besar di Indonesia, karena orang Indonesia suka sekali makan udang. Jika virus ‘bintik putih’ (‘white spot’) menyerang, tidak akan ada udang untuk dimakan. ‘Bintik putih’ adalah sebuah virus yang dapat membunuh seluruh isi kolam yang penuh dengan udang yang sehat dalam waktu hanya 4-5 hari. Arif Taslihan dari Pusat Pengembangan Aquakultur Brakishwater (Brakishwater Aquaculture Development Centre /BADC) di Jepara, bersama dengan rekan-rekannya, sedang melakukan upaya terbaik untuk menyingkirkan virus ‘bintik putih’ itu dari Indonesia. Proyek itu dirancang untuk membantu para petani kecil meningkatkan produksi udang mereka. Pekerjaan utama mereka dilakukan dalam tiga tahap – tahap pertama adalah mempersiapkan kolam yang layak. Yang kedua mengisi kolam dengan air yang bersih dan yang bebas dari kuman. Yang ketiga, benih udang dimasukkan ke dalam kolam dan benih tersebut sudah dipastikan bebas virus. Salah satu masalah terbesar adalah sikap para petani. Arif berharap mereka akan menerapkan nasihat yang diberikan oleh BADC dengan lebih hati-hati. BADC telah memberikan banyak program pelatihan yang penting bagi para petani ini. Mereka sangat bersemangat dalam menerima pelatihan dan mereka senang sekali karena BADC telah memberi mereka dukungan teknologi dan dukungan dalam bentuk-bentuk lain. Pekerjaan BADC didukung oleh Pemerintah Indonesia dan Pusat Penelitian Agrikultural Internasional Australia (Australia Centre for International Agricultural Research / ACIAR). KGRE mengunjungi Arif di kantor pusat penelitian di Jepara pada akhir Agustus, 2003. Pada tanggal 31 Agustus Arif memberikan presentasi yang informatif tentang riset udang yang mereka lakukan di hadapan Pertemuan KGRE Connection Club di Jepara. Para anggota megajukan banyak pertanyaan penting dan menunjukkan minat yang besar akan kesejahteraan salah satu industri lokal yang paling penting yang mereka miliki. Pemerintah Indonesia, ACIAR dan KGRE juga memiliki minat yang sama. Riset Tanaman Coklat di Sulawesi Selatan Suka makan coklat? Mungkin kesukaan Anda adalah es-krim coklat atau coklat TOP atau coklat batangan seperti Dairy Queen? Tahukah Anda bahwa coklat dibuat dari biji coklat(cocoa)? Coklat tumbuh di pohon kecil yang ditanam di dalam pot. Pohon-pohon yang kecil ini berasal dari Amazon bagian atas di Amerika Selatan. Apakah Anda juga tahu bahwa ada lebih dari 400,000 petani di Sulawesi yang menanam coklat? Kerja keras mereka membuat Sulawesi menjadi eksportir terbesar ketiga di dunia. Coklat mulai ditanam di Sulawesi tahun 1980-an. Pada mulanya, penanaman itu membuahkan hasil yang besar, tetapi akhir-akhir ini ada beberapa masalah. Salah satunya adalah pelubang pot (pod-borer )– sejenis serangga yang menyebabkan kerusakan sebanyak 80% tanaman coklat di Sulawesi Selatan pada tahun 1995. Pak Suhardi, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian in Kendari, Sulawesi Tenggara dan asistennya, Pak Suntoro, bercerita kepada KGRE tentang kegiatan-kegiatan riset mereka di kantornya, 15 km sebelah utara Kendari pada bulan Juli. Mereka telah mengumpulkan 50 pot biji coklat dari seluruh Indonesia, Institut Riset Coklat dan Kopi Indonesia di Jember dan bahkan dari Malaysia. Mereka sedang menguji biji-biji coklat itu dan ketahanannya terhadap serangga pelubang pot dan penyakit-penyait yang menyerang tanaman coklat lainnya. Para petani Indonesia amat penting bagi jalannya riset mereka. Para petani membantu menemukan pohon coklat yang tahan penyakit yang ada di kebun mereka. Kemudian pohon-pohon ini digunakan untuk mengembangkan keturunan pohon coklat yang lebih baik melalui okulasi. Para petani didorong untuk meniru apa yang telah berhasil dilakukan oleh para peneliti dalam percobaan-percobaan lapangan. Mereka akan bekerja sama untuk menghasilkan mutu pohon coklat tahan penyakit (dan pot) yang lebih baik dan mengurangi angka kematian pohon coklat di kemudian hari. Departemen Pertanian Indonesia dan para penelitinya bersama dengan ACIAR, sedang bekerja keras mengupayakan agar tanaman coklat di Indonesia bebas dari penyakit. Baca lebih banyak tentang ACIAR, percobaan-percobaan lapangan, pelubang pot dan penyakit-penyakit tanaman coklat lainnya, dan pekerjaan yang dilakukan orang-orang seperti Suhardi dan Suntoro, dengan mengunjungi situs web ini. Terima kasih banyak kepada Buletin LaTrobe University di Melbourne Australia atas bantuan teknis yang mereka berikan untuk cerita ini. Riset Pengendalian dan Perlindungan dari Kebakaran di Sumba Kebakaran di Indonesia dan Australia amat mempengaruhi pertanian di masa lampau. Di Indonesia, kebakaran menimbulkan kerugian sebesar 9 juta dolar Amerika pada tahun 1997-1998. Akibat-akibat lainnya adalah kehilangan produksi padi, kerusakan areal hutan yang luas, polusi asap di banyak wilayah, dan pengaruh yang merugikan kesehatan bagi Indonesia dan negara tetangga. Sekarang ada suatu proyek yang amat khusus yang sedang meneliti masalah ini. Tujuan proyek ini adalah mengembangkan dan menerapkan strategi pengelolaan dan kebijakan kebakaran yang cocok untuk Indonesia dan Australia bagian utara. Kebijakan-kebijakan ini akan menghasilkan produktifitas yang tinggi, tingkat kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat pedesaan, dan mengurangi kerusakan lingkungan. Pak Petrus berbicara kepada KGRE di Sumba pada bulan September. Banyak yang beliau ceritakan tentang proyek ini dan betapa penting proyek tersebut. Anda dapat mendengarkan kisahnya pada awal tahun 2004 di radio KGRE di seluruh Indonesia. Pendidikan dan Pembedaan Jenis Kelamin di Sulawesi Tenggara Santi bekerja dengan Skema Pemersatu Masyarakat Sipil dan Pengembangan Masyarakat Australia (ACCESS / Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme) melalui Yayasan Lestari Alam Indonesia. Bersama dengan Mitra Samya (sebuah LSM dari Mataram yang ditunjuk oleh ACCESS untuk melatih LSM-LSM dengan pendekatan CLAPP) dan LSM-LSM lain di Buton dan Raha, mereka bekerja di bidang saluran pembuangan dan lingkungan. Peningkatan kapasitas merupakan segi penting lain dari pekerjaan mereka. Masyarakat amat mengharapkan keberhasilan program ACCESS ini karena mereka belum pernah melakukan kegiatan ini sebelumnya. Dalam program ini, masyarakat sendirilah yang menentukan apa masalah mereka. Masyarakat sering tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan walaupun mungkin mereka berada pada posisi yang paling tepat untuk mengidentifikasi adanya masalah dan memutuskan apa yang mereka butuhkan. ‘Nama saya Santi. Saya bekerja di Yayasan Lestari Alam Indonesia. Sekarang kami bekerja sama dengan ACCESS, yang dimulai pada bulan Mei dengan lokakarya CLAPP. Lokakarya itu tentang masalah pembedaan jenis kelamin dan kemiskinan yang terdapat pada program pengembangan daerah pedesaan. Sebagai tindak lanjut lokakarya ini, LSM kita diberi dana untuk menjalankan Program Perencanaan dan Penilaian Kebutuhan. Setelah dilakukan penilaian tanggal 13 Agustus, kami mengadakan lokakarya perencanaan di Raha. Kemudian kami membahas rencana lanjutan untuk penilaian dan bagaimana bekerjasama dengan ACCESS. Kami akan membahas kegiatan lanjutan dari penilaian di Raha tersebut. Selama perencanaan kami akan mengetahui program apa yang diterima oleh ACCESS karena masyarakat sendirilah yang menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan. Prioritas ACCESS adalah masyarakat miskin dan penyamaan jenis kelamin. Program ini didanai oleh ACCESS dan akan berhubungan dengan pengentasan kemiskinan dan mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat miskin.’ Pendidikan dan Lingkungan – Sama Bahari – Wilayah Kaledupa Wakatobi – Pulau Wanci, Kaledupa, Tomia and Binongko, yang juga disebut pulau-pulau Tukang Besi ‘Nama saya Tikung Rahman, anggota staf Yayasan Bajo Matila (YBM – salah satu dari mitra ACCESS di Bau Bau. YBM khususnya bekerja pada pengembangan dan pemberdayaan orang-orang Bajo, salah satu suku terbesar di Sulawesi tenggara dan Sulawesi Selatan yang amat terpencil. Mereka terutama bekerja sebagai nelayan. Mereka dapat menangkap ikan sebanyak mereka mau tetapi, tanpa pemeliharaan yang baik, pekerjaan mereka akan mengakibatkan munculnya masalah-masalah di masa yang akan datang. Jadi kami berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan kesinambungan lingkungan. Kemudian kami mendapat informasi tentang ACCESS dan menjadi mitra ACCESS. Ada enam LSM yang terlibat dengan ACCESS di sini – dua LSM dari Muna dan lima dari Buton untuk menerapkan pendekatan CLAPP. Lalu kami mendapatkan pelatihan tentang penilaian masyarakat selama 2 minggu. Setelah pelatihan itu kami langsung terjun ke masyarakat untuk mengumpulkan informasi dan belajar dengan masyarakat. Bersama-sama kami mencoba menentukan apa masalah-masalah yang mereka miliki dan bagaimana menyelesaikannya. Organisasi-LSM hanyalah fasilitator. Selama dua minggu kami belajar bersama masyarakat. Mereka belajar tentang diri mereka sendiri. Di waktu lampau masyarakat jarang terlibat dalam kegiatan-kegiatan pemerintah, terutama orang miskin dan para wanita. Di desa-desa, dalam program pengembangan, mereka selalu dilupakan. Yang menghadiri pertemuan-pertemuan seperti itu hanyalah orang-orang penting dan kaya dari desa mereka. Suara mereka tidak pernah didengar. Dengan ACCESS, perencanaan program dipimpin oleh masyarakat, dengan LSM bertindak hanya sebagai fasilitator. Mereka senang karena sekarang mereka bisa bersuara. Yang miskin dan para wanita dapat berbicara dan orang-orang kaya juga hadir, sehingga mereka tahu apa masalah orang miskin dan mungkin dapat memberikan beberapa pemecahan tentang bagaimana mereka semua dapat memperbaiki diri. Dengan ACCESS mereka dapat menyampaikan kekhawatiran dan harapan kehidupan mereka. Penghasilan mereka berkurang karena lingkungan mereka yang rusak. Mereka tahu bahwa kebun mereka adalah laut. Masa depan mereka adalah laut. Jadi mereka harus merawat laut dengan baik demi kesejahteraan dan generasi penerus mereka.’
Read about KGRE's visit to ACCESS activities in Sumba - Click
Here |
![]() |
![]() |
![]() |