KangGURU Radio EnglishHome page
  Home > AusAID Projects > AusAID Archives > Women's Health and Family Welfare
KangGURU Radio English

Women’s Health and Family Welfare and NTT PEP

Bahasa Indonesia

This is the second phase of the Women’s Health and Family Welfare Project (WHFW), which operated from July 1995 to October 1998. The second phase has been renamed the Women’s Health and Family Welfare Project. By the end of this phase, this AusAID project  will have covered all districts of West Nusa Tenggara and eight districts of East Nusa Tenggara.

The goal of the AusAID project  is to contribute to improved health of women and children in the provinces of NTT and NTB. The particular contribution of the project in this phase to the goal of improving maternal and child health is set out in the purpose: To enable Government of Indonesia (GOI) agencies and the local community to work together in partnership in identifying and responding to problems of maternal & neonatal health and underlying gender issues.

The GOI counterparts are the Ministry of Health (DepKes) and the National Family Planning Coordinating Board (BKKBN). The provincial and district counterparts are: Bappeda (Regional Planning & Development Board), Dinas Kesehatan (Provincial & District Health Services), Kanwil BKKBN (Regional Office of BKKBN) and BPM/BPMD
(Provincial & District Community Development Agency).

The project has four interrelated components:

This AusAID project is basically made up of four inter-related components. The Health Services aspect aims to assist the Government of Indonesia to improve the quality and accessibility of health care for women and their newborn infants in NTT and NTB. The Health Communications component aims to improve the knowledge, attitudes and health seeking behaviour of women and men for safe motherhood and reproductive health. It also works towards improving the quality of family planning services. Community Participation, the third component, promotes and facilitates community responses to safe motherhood while Project Management and Coordination provides effective and efficient project implementation including integration of component activities with each other, with national and local systems and with other donors. 

from left to right: Noor, Ruth, Rahmi and Angela

Village Kader practising with IEC material to promote Making Pregnancy Safer in Bima       Community Midwife explaining family planning methods to the community in Lombok Tengah


In February 2004 KGRE visited the Mataram offices of the project. Kevin met with Angela, Ruth, Rahmi and Noor Alam - four very active and dedicated women working with WHFW. One of the many stories they told was one about the role of women in a Lombok village called Pijot. Here's what Rahmi had to say about that village and Community Participation.


Group Discussion with the community in Pijot, East Lombok

Rahmi says, 'There are several problems for women in that village. They include water supply, a high rate of divorce and remarriage, young age marriage, low education levels, having to work during pregnancy and a lack of knowledge about pregnancy and baby care. The women and men of the village identified these problems and then worked together to solve them. To solve one of the major problems they established a Water User Group. WHFW supported them but it was the villagers themselves who built the water tanks and organized a better way of distributing the water. 


They have built 3 big water tanks so far. The women can now get water easily. That is really helping to reduce their work burden because fetching water is considered women's work. This has had a significant impact in the health of women. During pregnancy they still fetch water but the water is available much closer to their houses. They do have to pay for the water. Money is collected from each household and there is always some money left over. That money is used to support women who give birth with the midwife in the Polindes. This is a very good way to reduce the number of women who give birth at home using the traditional birth attendant instead of a qualified medical worker'.

Here are Noor Alam, Angela, Ruth and Rahmi, to tell you a little more about themselves.

'Hello, my name is Noor Alam.  I come from West Java so I’m Sundanese. Before I joined this project I worked for a few similar projects in a few provinces and joined this project in July 2002. I work for the project in NTB Province as the Deputy Team Leader/Provincial Coordinator.



' My name is Angela Taggart. ' I am working with the Women's Health and Family Welfare Project as  Maternal Neo-natal Health Adviser. I’ve come from Sydney Australia but I was originally born  in the north of Ireland. I really enjoy working with my Indonesian  and Australian colleagues on the many activities to improve the maternal and neo -natal health services in NTB. I especially enjoy working with the community midwives and staff at puskemas to improve their work in the community'.

'Hi, my name is Ruth Nicholls. I come from Sydney in Australia. I've been working with the project for 9 months now as the Health Promotion Adviser in NTB. I have really enjoyed working in Lombok and Sumbawa, especially when facilitating health promotion activities that aim to increase community understanding and support for safe motherhood. Together with government institutions, we have made some colourful and informative materials for field workers to use when discussing the health needs of pregnant women with the community'.



''I am Rahmi Sofiarini. I originally come from Lombok. I have been in the project for 16 months in my role as Adviser for Community Participation. And my responsibility is to help and facilitate the counterparts for component three of the Prroject - Badan Pemberdayaan Masyarakat. That’s a government institution that has responsibility for community empowerment. One interesting activity that we have done in the project is to train the field facilitators and some community members from the village level in terms of the participatory approach to help  analyse their health condition and find solutions to overcome the problems that the they are facing'.

Women's Health and Family Welfare -  April 2004

Ini merupakan tahap kedua dari Proyek Kesehatan Wanita dan Kesejahteraan Keluarga, yang dijalankan mulai bulan Juli 1995 hingga Oktober 1998. Tahap kedua berganti nama menjadi Proyek Kesehatan Wanita dan Kesejahteraan Keluarga. Menjelang akhir tahap ini, proyek bantuan pemerintah Australia (AusAID) ini akan meliputi seluruh wilayah kecamatan di Nusa Tenggara Barat dan delapan wilayah kecamatan di Nusa Tenggara Timur.

Tujuan proyek AusAID adalah untuk membantu meningkatkan kesehatan wanita dan anak-anak di propinsi-propinsi di NTT dan NTB. Dalam tahap ini proyek bantuan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan wanita dan anak-anak ini dirancang untuk: Memungkinkan badan-badan Pemerintahan Indonesia dan masyarakat setempat bekerjasama sebagai rekan untuk mengidentifikasi dan menindak masalah-masalah kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir dan masalah-masalah pembedaan jenis kelamin yang mendasar.

Rekan kerja dari Pemerintah Indonesia adalah Departemen Kesehatan dan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Rekan-rekan kerja di tingkat propinsi dan wilayah adalah Bappeda, Dinas Kesehatan, Kanwil BKKBN dan BPM/BPMD. Proyek ini memiliki empat komponen yang saling berhubungan.

Proyek AusAID ini pada dasarnya terbentuk dari empat komponen yang saling berhubungan. Aspek Pelayanan Kesehatan bertujuan untuk membantu Pemerintah Indonesia meningkatkan kualitas dan jangkauan perawatan kesehatan bagi wanita dan bayi mereka yang baru lahir di NTT dan NTB. Komponen Komunikasi Kesehatan bertujuan untuk menambah pengetahuan, memperbaiki tingkah laku dan sikap sehat para wanita dan pria demi keselamatan ibu dan kesehatan reproduksi. Hal tersebut juga diupayakan untuk memperbaiki kualitas pelayanan keluarga berencana. Partisipasi masyarakat, komponen ketiga, mendorong dan memfasilitasi tanggapan masyarakat terhadap keselamatan ibu, sedangkan Manajemen dan Koordinasi Proyek menyediakan implementasi proyek yang efektif dan efisien termasuk penggabungan kegiatan-kegiatan dari keempat komponen tersebut, dengan sistem-sistem lokal dan nasional dan dengan donor-donor lain.

Pada bulan Februari 2004 KGRE mengunjungi kantor-kantor di Mataram di mana proyek tersebut sedang berlangsung. Kevin bertemu dengan Angela, Ruth, Rahmi dan Noor Alam - empat wanita yang sangat aktif dan berdedikasi, yang bekerja dengan WHFW. Salah satu dari banyak kisah yang mereka ceritakan adalah tentang peranan wanita di sebuah desa di Lombok yang bernama desa Pijot. Berikut ini adalah apa yang Rahmi ceritakan mengenai desa tersebut dan partisipasi masyarakat di sana.

Rahmi mengatakan, "Ada beberapa masalah yang dimiliki para wanita di desa itu. Beberapa di antaranya adalah persediaan air, tingginya tingkat perceraian dan perkawinan kembali, perkawinan dini, tingkat pendidikan yang rendah, wanita-wanita yang harus bekerja sewaktu hamil, dan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan dan perawatan bayi. Para wanita dan pria di desa itu menyadari adanya masalah-masalah tersebut dan mereka bekerja sama untuk mengatasinya. Untuk mengatasi salah satu masalah mereka membentuk Kelompok Pemakai Air. WHFW mendukung mereka tetapi penduduk sendirilah yang membangun tangki-tangki air dan mencari cara yang lebih baik untuk mendistribusikan air.

Sampai sejauh ini mereka sudah membangun 3 tangki air yang besar. Sekarang para wanita dapat memperoleh air dengan lebih mudah. Hal ini sangat membantu mengurangi beban kerja mereka karena mengambil air dianggap sebagai pekerjaan wanita. Hal itu telah memberi dampak yang signifikan terhadap kesehatan wanita. Sewaktu hamil, mereka masih mengambil air, tetapi air sudah tersedia lebih dekat ke rumah-rumah mereka. Memang mereka harus membayar untuk air itu. Uangnya dikumpulkan dari setiap rumah tangga dan selalu ada uang lebih. Uang tersebut digunakan untuk membantu wanita-wanita yang melahirkan dengan bantuan bidan di Polindes. Ini adalah cara yang bagus sekali untuk mengurangi jumlah wanita yang melahirkan di rumah dengan bantuan dukun beranak tradisional, yang bukan dibantu oleh pekerja medis yang memenuhi syarat."

Berikut Noor Alam, Angela, Ruth dan Rahmi menceritakan kepada Anda tentang diri mereka.

'Halo, nama saya Noor Alam. Saya berasal dari Jawa Barat jadi saya orang Sunda. Sebelum bergabung dengan proyek ini saya bekerja di beberapa proyek yang serupa di beberapa propinsi, kemudian bergabung dengan proyek ini pada bulan Juli 2002. Saya bekerja di proyek di propinsi NTB ini sebagai Wakil Ketua Kelompok/Koordinator Propinsi.

'Nama saya Angela Taggart. Saya bekerja di Proyek WHFW sebagai Penasihat Kesehatan Ibu Pasca-Melahirkan. Saya berasal dari Sydney Australia tetapi saya lahir di Irlandia Utara. Saya sangat senang bekerja dengan rekan-rekan saya dari Australia dan Indonesia dalam banyak kegiatan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir di NTB. Saya senang bekerja terutama sekali dengan bidan-bidan di masyarakat dan staf di puskesmas untuk menigkatkan mutu pekerjaan mereka di masyarakat."

'Hai, nama saya Ruth Nicholls. Saya berasal dari Sydney di Asutralia. Saya sudah bekerja di proyek ini selama 9 bulan sebagai Penasehat Peningkatan Kesehatan di NTB. Saya benar-benar senang bekerja di Lombok dan Sumbawa, terutama ketika memfasilitasi kegiatan-kegiatan peningkatan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan masyarakat terhadap keselamatan ibu. Bersama badan-badan pemerintah, kami telah membuat materi-materi yang berwarna-warni dan informatif untuk digunakan para pekerja lapangan sewaktu berdiskusi dengan masyarakat mengenai perlunya kesehatan bagi wanita hamil.'

'Saya Rahmi Sofiarini. Saya berasal dari Lombok. Saya sudah bekerja di proyek ini selama 16 bulan dalam peran saya sebagai Penasehat untuk Partisipasi Masyarakat. Tanggung jawab saya adalah membantu dan memfasilitasi rekan-rekan kerja komponen ketiga proyek ini, yaitu Badan Pemberdayaan Masyarakat. Itu merupakan badan pemerintah yang bertanggung jawab untuk memberdayakan masyarakat. Salah satu kegiatan yang menarik yang telah kami lakukan dalam proyek ini adalah melatih para fasilitator lapangan dan beberapa anggota masyarakat dari tingkat desa dengan pendekatan partisipatif untuk membantu menganalisis kondisi kesehatan mereka dan menemukan solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang sedang mereka hadapi.'

Return to Archive of AusAID Project Reports

Return to top

Students across the archipelago learn English with Kang GURU Learning English is Fun!
AusAID in Indonesia - Australian Government IALF Education for Development Radio Republic Indonesia