Here
are Noor Alam, Angela, Ruth and Rahmi, to tell you a little more about
themselves.
'Hello, my
name is Noor Alam. I come from West Java so I’m Sundanese.
Before I joined this project I worked for a few similar projects
in a few provinces and joined this project in July 2002. I work
for the project in NTB Province as the Deputy Team Leader/Provincial
Coordinator. |

|
|
'
My name is Angela Taggart. ' I am working with the Women's Health
and Family Welfare Project as Maternal Neo-natal Health
Adviser. I’ve come from Sydney Australia but I was originally
born in the north of Ireland. I really enjoy working
with my Indonesian and Australian colleagues on the many
activities to improve the maternal and neo -natal health services
in NTB. I especially enjoy working with the community midwives
and staff at puskemas to improve their work in the community'.
|

|
| 'Hi,
my name is Ruth Nicholls. I come from Sydney in Australia. I've
been working with the project for 9 months now as the Health Promotion
Adviser in NTB. I have really enjoyed working in Lombok and Sumbawa,
especially when facilitating health promotion activities that
aim to increase community understanding and support for safe motherhood.
Together with government institutions, we have made some colourful
and informative materials for field workers to use when discussing
the health needs of pregnant women with the community'.
|

|
''I
am Rahmi Sofiarini. I originally come from Lombok. I have been in
the project for 16 months in my role as Adviser for Community Participation.
And my responsibility is to help and facilitate the counterparts
for component three of the Prroject - Badan Pemberdayaan Masyarakat.
That’s a government institution that has responsibility for
community empowerment. One interesting activity that we have done
in the project is to train the field facilitators and some community
members from the village level in terms of the participatory approach
to help analyse their health condition and find solutions
to overcome the problems that the they are facing'. |

|
Women's
Health and Family Welfare - April 2004
Ini merupakan tahap kedua dari Proyek
Kesehatan Wanita dan Kesejahteraan Keluarga, yang dijalankan mulai bulan
Juli 1995 hingga Oktober 1998. Tahap kedua berganti nama menjadi Proyek
Kesehatan Wanita dan Kesejahteraan Keluarga. Menjelang akhir tahap ini,
proyek bantuan pemerintah Australia (AusAID) ini akan meliputi seluruh
wilayah kecamatan di Nusa Tenggara Barat dan delapan wilayah kecamatan
di Nusa Tenggara Timur.
Tujuan proyek AusAID adalah untuk membantu meningkatkan kesehatan wanita
dan anak-anak di propinsi-propinsi di NTT dan NTB. Dalam tahap ini proyek
bantuan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan wanita dan anak-anak
ini dirancang untuk: Memungkinkan badan-badan Pemerintahan Indonesia
dan masyarakat setempat bekerjasama sebagai rekan untuk mengidentifikasi
dan menindak masalah-masalah kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir
dan masalah-masalah pembedaan jenis kelamin yang mendasar.
Rekan kerja dari Pemerintah Indonesia adalah Departemen Kesehatan dan
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Rekan-rekan kerja
di tingkat propinsi dan wilayah adalah Bappeda, Dinas Kesehatan, Kanwil
BKKBN dan BPM/BPMD. Proyek ini memiliki empat komponen yang saling berhubungan.
Proyek AusAID ini pada dasarnya terbentuk dari empat komponen yang saling
berhubungan. Aspek Pelayanan Kesehatan bertujuan untuk membantu Pemerintah
Indonesia meningkatkan kualitas dan jangkauan perawatan kesehatan bagi
wanita dan bayi mereka yang baru lahir di NTT dan NTB. Komponen Komunikasi
Kesehatan bertujuan untuk menambah pengetahuan, memperbaiki tingkah
laku dan sikap sehat para wanita dan pria demi keselamatan ibu dan kesehatan
reproduksi. Hal tersebut juga diupayakan untuk memperbaiki kualitas
pelayanan keluarga berencana. Partisipasi masyarakat, komponen ketiga,
mendorong dan memfasilitasi tanggapan masyarakat terhadap keselamatan
ibu, sedangkan Manajemen dan Koordinasi Proyek menyediakan implementasi
proyek yang efektif dan efisien termasuk penggabungan kegiatan-kegiatan
dari keempat komponen tersebut, dengan sistem-sistem lokal dan nasional
dan dengan donor-donor lain.
Pada bulan Februari 2004 KGRE mengunjungi kantor-kantor di Mataram di
mana proyek tersebut sedang berlangsung. Kevin bertemu dengan Angela,
Ruth, Rahmi dan Noor Alam - empat wanita yang sangat aktif dan berdedikasi,
yang bekerja dengan WHFW. Salah satu dari banyak kisah yang mereka ceritakan
adalah tentang peranan wanita di sebuah desa di Lombok yang bernama
desa Pijot. Berikut ini adalah apa yang Rahmi ceritakan mengenai desa
tersebut dan partisipasi masyarakat di sana.
Rahmi mengatakan, "Ada beberapa
masalah yang dimiliki para wanita di desa itu. Beberapa di antaranya
adalah persediaan air, tingginya tingkat perceraian dan perkawinan kembali,
perkawinan dini, tingkat pendidikan yang rendah, wanita-wanita yang
harus bekerja sewaktu hamil, dan kurangnya pengetahuan tentang kehamilan
dan perawatan bayi. Para wanita dan pria di desa itu menyadari adanya
masalah-masalah tersebut dan mereka bekerja sama untuk mengatasinya.
Untuk mengatasi salah satu masalah mereka membentuk Kelompok Pemakai
Air. WHFW mendukung mereka tetapi penduduk sendirilah yang membangun
tangki-tangki air dan mencari cara yang lebih baik untuk mendistribusikan
air.
Sampai sejauh ini mereka sudah membangun
3 tangki air yang besar. Sekarang para wanita dapat memperoleh air dengan
lebih mudah. Hal ini sangat membantu mengurangi beban kerja mereka karena
mengambil air dianggap sebagai pekerjaan wanita. Hal itu telah memberi
dampak yang signifikan terhadap kesehatan wanita. Sewaktu hamil, mereka
masih mengambil air, tetapi air sudah tersedia lebih dekat ke rumah-rumah
mereka. Memang mereka harus membayar untuk air itu. Uangnya dikumpulkan
dari setiap rumah tangga dan selalu ada uang lebih. Uang tersebut digunakan
untuk membantu wanita-wanita yang melahirkan dengan bantuan bidan di
Polindes. Ini adalah cara yang bagus sekali untuk mengurangi jumlah
wanita yang melahirkan di rumah dengan bantuan dukun beranak tradisional,
yang bukan dibantu oleh pekerja medis yang memenuhi syarat."
Berikut Noor Alam,
Angela, Ruth dan Rahmi menceritakan kepada Anda tentang diri mereka.
'Halo, nama saya Noor Alam. Saya
berasal dari Jawa Barat jadi saya orang Sunda. Sebelum bergabung dengan
proyek ini saya bekerja di beberapa proyek yang serupa di beberapa propinsi,
kemudian bergabung dengan proyek ini pada bulan Juli 2002. Saya bekerja
di proyek di propinsi NTB ini sebagai Wakil Ketua Kelompok/Koordinator
Propinsi.
'Nama saya Angela Taggart. Saya
bekerja di Proyek WHFW sebagai Penasihat Kesehatan Ibu Pasca-Melahirkan.
Saya berasal dari Sydney Australia tetapi saya lahir di Irlandia Utara.
Saya sangat senang bekerja dengan rekan-rekan saya dari Australia dan
Indonesia dalam banyak kegiatan untuk memperbaiki pelayanan kesehatan
ibu dan bayi yang baru lahir di NTB. Saya senang bekerja terutama sekali
dengan bidan-bidan di masyarakat dan staf di puskesmas untuk menigkatkan
mutu pekerjaan mereka di masyarakat."
'Hai, nama saya Ruth Nicholls.
Saya berasal dari Sydney di Asutralia. Saya sudah bekerja di proyek
ini selama 9 bulan sebagai Penasehat Peningkatan Kesehatan di NTB. Saya
benar-benar senang bekerja di Lombok dan Sumbawa, terutama ketika memfasilitasi
kegiatan-kegiatan peningkatan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman dan dukungan masyarakat terhadap keselamatan ibu. Bersama
badan-badan pemerintah, kami telah membuat materi-materi yang berwarna-warni
dan informatif untuk digunakan para pekerja lapangan sewaktu berdiskusi
dengan masyarakat mengenai perlunya kesehatan bagi wanita hamil.'
'Saya Rahmi Sofiarini. Saya berasal
dari Lombok. Saya sudah bekerja di proyek ini selama 16 bulan dalam
peran saya sebagai Penasehat untuk Partisipasi Masyarakat. Tanggung
jawab saya adalah membantu dan memfasilitasi rekan-rekan kerja komponen
ketiga proyek ini, yaitu Badan Pemberdayaan Masyarakat. Itu merupakan
badan pemerintah yang bertanggung jawab untuk memberdayakan masyarakat.
Salah satu kegiatan yang menarik yang telah kami lakukan dalam proyek
ini adalah melatih para fasilitator lapangan dan beberapa anggota masyarakat
dari tingkat desa dengan pendekatan partisipatif untuk membantu menganalisis
kondisi kesehatan mereka dan menemukan solusi untuk mengatasi masalah-masalah
yang sedang mereka hadapi.'