| Home > AusAID Projects > AusAID Archives > Islamic Schools English Language Program | ![]() |
Islamic Schools English Language Program (ISELP) in Indonesia Aussie teacher trainers have been working for over
18 months in pondok pesantrens mainly in East Java. They are working under
the ISELP
program, supported by AusAID
and AVI. They
are very busy people. Their main jobs are to improve the quality of English
used by English teachers and to improve the capacity of those teachers
to teach English to their students. They arrange and conduct workshops
for teachers and assist with the development of more effective teaching
programs for schools. They arrange and encourage teachers to mix together
from the different areas and to work together helping each other. They
also send English teachers to attend English language and teaching methodology
courses, and some teachers have been awarded Australian Development Scholarships
to study in Australia.
It was a very hot day but that didn't stop TEAMO from
performing and entertaining the students for almost two hours. There were
at least 600 students, including Cheryl's students, watching the TEAMO
'English For Fun' performance that day at PP Qomarrudin. After
the main performance, he conducted several workshops with students. He
taught them how to juggle and walk on stilts. TEAMO has been teaching
juggling in Australia and overseas for over 25 years. He really knows
what he is talking about. During his 10 day visit to Indonesia, TEAMO
also performed in Madura, Malang, Probolinggo, Kediri, Banyuwangi and
Jombang, where other ISELP teacher trainers are based. He was a very busy
clown indeed.
Jules Lumber, an ISELP teacher trainer at Al Maarif pondok pesantren school in Singosari near Malang, initiated the setting up of an English Language Centre at Al Maarif. In late April she sent an invitation to KGRE to take part in the Official Opening of the center. Capt. KGRE was busy traveling to Jakarta and Manado and so Ogi went to represent KGRE.
Louise and Dean have also been guests a couple of times on the interactive English language program that is broadcast by radio station 'Suara Pasuruan' every Sunday morning. The program is arranged and presented by local university students, and in April they started broadcasting KGRE programs.
Have been busy listening to all KG tapes (during
my morning walk) so that I have a first hand knowledge of the resources.
I enjoyed the interviews with the pop groups, isn't Ari's English fluent.
Had a great day at the pesantren at Bluto with
Eva et al. She really is a bundle of energy packaged in that little
body of hers. She was work-shopping with the help of 13 Edelweiss Club
members. I did a session with them and they helped me as well, I had
taught them the previous night the topic and they were fantastic. I
did Australian native animals so now they all know about the frilled
neck lizard, tasmanian devil, galah etc.. The Pesantren we visited was
Ponpes Nurul Islam at Bluto. The workshop was to be with 43 students
but 153 attended. Oh well, what's a few more between friends. Just was
very pleased I had planned co-op learning activity where each group
changed their activity about every 8 minutes. Instead of keeping to
the plan we just handed all the activities at once to the whole 153
students until they ran out - they had board games, multiple choice
grammar questions from a legend about how the wombat got its name, word
searches, spot the differences and writing activities etc etc. We ended
up teaching them 'Kookaburra Sits' followed by a quiz'z with some of
the prizes coming from KangGuru.
We arrived late but before we got there Eva had done a session
of Connection Clubs and writing away for the mag.
See you soon.
Margaret
Program Bahasa Inggris di Pondok Pesantren Para pelatih guru berkebangsaan Australia telah bekerja selama lebih dari 18 bulan di beberapa pondok pesantren terutama di Jawa timur. Mereka bekerja di bawah program ISELP, yang didukung oleh AusAID dan AVI (Australian Volunteers International). Mereka sibuk sekali. Pekerjaan utama mereka adalah untuk meningkatkan mutu bahasa Inggris yang digunakan oleh guru-guru bahasa Inggris dan meningkatkan kapasitas guru-guru tersebut dalam mengajar bahasa Inggris kepada siswa mereka. Mereka mengatur dan mengadakan lokakarya bagi para guru dan menyokong perkembangan program-program mengajar yang lebih efektif di sekolah-sekolah. Mereka mengatur dan mendorong para guru dari berbagai bidang untuk berbaur dan bekerja sama saling membantu. Mereka juga mengirim guru-guru bahasa Inggris untuk menghadiri kursus-kursus bahasa Inggris dan kursus-kursus metodologi pengajaran, dan beberapa guru telah dianugerahi Beasiswa Perkembangan Australia (Australian Development Scholarship/ADS) untuk belajar di Australia. KGRE senang menampilkan beberapa contoh dari apa yang dilakukan pelatih guru ISELP di berbagai lokasi di Indonesia. Sebagai tambahan dari lokasi yang terdapat di bawah ini ada juga pelatih guru ISELP yang aktif di Palembang, Malang, Jombang dan Banyuwangi. Akan ada lagi laporan mengenai pekerjaan mereka di KGRE. Cheril Reid bekerja di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Desa Banjar Anyar di Paciran. Sebagai pelatih guru ISELP, Cheryl bekerja dengan para guru di pesantren tersebut dengan membantu mereka meningkatkan dan selanjutnya mengembangkan keahlian mengajar mereka. Mengadakan lokakarya secara reguler adalah sebagian besar dari pekerjaannya di pesantren tersebut. Peran lainnya adalah keterlibatannya dengan Persada FM, stasiun radio milik pesantren tersebut. Bersama Pak Alimin, Cheryl mengadakan program radio bahasa Inggris mingguan setiap malam Minggu jam 7. Berdua mereka memberikan informasi dan berita bagi para pendengar mereka. Mereka juga mengundang orang-orang untukmenelepon mereka di sesi interaktif bahasa Inggris mereka. Prue Price bertugas di Pondok Pesantren Qomar-rudin, Bungah, Gresik, tidak jauh dari tempat Cheryl. Kedua wanita ini bekerja keras membantu para guru dan siswa di pesantren mereka masing-masing. Memotivasi guru dan siswa untuk mengajar dan belajar bahasa Inggris selalu menjadi prioritas utama mereka. Pada bulan April 2006, para pelatih guru ISELP ini, dengan bantuan istimewa dari Prue, mengundang teman baiknya TEAMO si Badut untuk mengunjungi siswa-siswa mereka. TEAMO memberi kejutan kepada semua orang! Dia memakai perias wajah badut, menampilkan tipuan-tipuan dan menyanyi. Dia hanya menggunakan bahasa Inggris dan tahukah kamu? Semuanya memahaminya dengan sempurna – kata dan aksi amat bermakna, bukan? Hari itu panas sekali tetapi hal itu tidak menghentikan TEAMO untuk tampil dan menghibur para siswa sampai selama hampir dua jam. Ada sedikitnya 600 siswa, termasuk siswa-siswa Cheryl, menyaksikan pertunjukan “English for Fun’ TEAMO hari itu di PP Qomarrudin. Setelah pertunjukan utama, dia mengadakan beberapa lokakarya dnegan para siswa. Dia mengajar mereka bagaimana melempar lebih dari dua benda satu persatu dengan satu tangan dan menangkapnya dengan tangan lain(juggling), dan berjalan dengan egrang. TEAMO telah mengajar juggling di Australia dan di negeri-negeri lain selama lebih dari 25 tahun. Dia benar-benar ahli dalam bidangnya. Selama kunjungan 10 harinya di Indonesia, TEAMO juga mengadakan pertunjukan di Madura, Malang, Probolinggo, Kediri, Banyuwangi dan Jombang, di mana para pelatih guru ISELP lainnya bertugas. Dia memang badut yang amat sibuk. TEAMO adalah seorang badut namun dia juga mengerjakan hal-hal menarik lain ketika ia bertemu dengan para siswa – dia berjalan dengan egrang dan mengadakan lokakarya juggling. Para siswa di Pondok Pesantren Qomarrudin, terutama yang masih kecil, sangat terheran-heran ketika dia berjalan keluar dari sekolah dengan egrang. Tingginya pasti 3 meter. Dia memakai riasan badut, mempertunjukkan trik-trik dan menyanyi. Hari itu panas sekali tetapi itu tidak memebuat TEAMO berhenti tampil dan menghibur para siswa selama lebih dari satu jam. Paling sedikit ada 600 siswa yang menyaksikan pertunjukan itu. Hebat TEAMO! Setelah pertunjukannya Teamo mengadakan beberapa lokakarya dengan para siswa, mengajar mereka untuk ‘juggling’. Teamo sudah mengajar ‘juggling’ selama 25 tahun, jadi dia benar-benar ahli dalam bidangnya. Para siswa dari Pondok Pesantren Sunan Drajat, Desa Banjar Anyar, dan Pondok Pesantren Qomarrudin Bungah, Gresik sangat menikmati pertunjukan dan lokakarya itu. Terima kasih, Teamo. Teamo juga tampil di Madura, Malang, Probolinggo, Kediri, Banyuwangi dan Jombang selama kunjungannya di Indonesia. Dia benar-benar badut yang sibuk. Alistair Welsh adalah pelatih guru ISELP yang bekerja di Pondok Pesantren Nurul Jadid di Paiton, Jawa Timur. Namun, kunjungan pertamanya ke Indonesia adalah perjalanan sekolah dengan SMA Geelong sebagai seorang pelajar pada 1978. Dalam Tur Belajar Bahasa Indonesia itu dia berkeliling ke Jakarta, Bandung, Jogja dan Bali. Lalu pada 1984, ketika dia berumur 22 tahun, dia menjadi salah satu peserta Program Pertukaran Pemuda Australia Indonesia (AIYEP), yang diperpanjang sampai ke Lampung dan Jawa tengah. Kemudian pada 1989 dia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru di propinsi Maluku di Tual dan Ambon. Pada saat itulah dia pertama kali bertemu dengan KGRE. Dia dikirimi KGRE sebuah buklet latihan dan rekaman kaset yang langsung ia gunakan dengan para guru dalam sesi-sesi lokakarya guru yang dia adakan. Bahan-bahan tersebut amat menarik, amat modern dan pada waktu itu amat cocok untuk para guru. Alistair berada di Jawa timur sampai akhir 2006 dan dia sangat menyukai Indonesia – dan selalu demikian! KGRE mengunjungi Alistair di Paiton dan menyaksikan beberapa kegiatan yang ia lakukan termasuk program radionya, klub bahasa yang amat aktif di pesantren tersebut, dan tentu saja guru-gurunya yang baik hati. KGRE memberikan Lokakarya Guru KGRE di Nurul Jadid dan lokakarya itu amat menyenangkan. Kevin menemui Alistair dari AVI dan pelatih guru ISELP yang baru, Paul, untuk makan siang. Keduanya tinggal di PP Nurul Jadid. Alistair telah bekerja di sana selama lebih dari setahun namun Paul baru beberapa minggu. Lalu KGRE pergi ke PP Nurul Jadid untuk rapat dengan komite perencanaan lokakarya dan pertemuan khusus dengan anggota KGRE Connection Club ke-22, yakni Galilei Club dari Paiton dan PP Nurul Jadid. Mungkin ada 100 cewek di pertemuan itu dan mereka luar biasa. Mereka amat antusias, enerjik, dan bahasa Inggris mereka bagus sekali. Ada banyak pertanyaan dan keriangan juga. Ketika lokakarya selesai kami semua berangkat menuju Radio Smanji FM. Caroline Bentley dari IALF Bali dan Jo Dowling dari AVI/ISELP bergabung dengan kami di sana untuk acara radio. Alistair menjadi DiJe-nya setiap hari Selasa dan ia membawa acara yang disebut “The Real Thing.” Semuanya disampaikan dalam bahasa Inggris dan dibuat terutama bagi para siswa di pesantren di dekatnya. Mereka amat senang mendengarkan acara bahasa Inggris ini setiap Selasa dan Jumat. Acaranya didukung oleh para siswa dari Galilei English Club dan seorang teknisi bernama Ali. Terima kasih kepada semuanya karena telah membantu Alistair dan terima kasih kepada PP Nurul Jadid karena telah mengijinkan siaran radio seperti ini berjalan di sekolah mereka dan untuk siswa mereka. “Di Pusat Sumber Daya Bahasa Inggris di Al Ma’arif, para guru dan siswa dapat meminta lagu kepada radio. Liriknya dicetak untuk mereka sehingga mereka dapat ikut bernyanyi. Para guru di kelas saya meminta saya untuk mengajari mereka lagu dan tarian. Saya mencoba mengajar mereka sebuah tarian yang disebut ‘Heel and Toe Polka’ (Tarian Polka Tumit dan jari Kaki – sebuah tariah asli suku Aborijin), tetapi saya tidak punya musiknya...dan saya tidak yakin 100% kalau saya mengingat semuanya. Jadi saya mengajarkan mereka lagu dan gerakan ‘Hokey Pokey’ dan ‘Head, Shoulders, Knees and Toes’ (Kepala, pundak, lutut, kaki). Kami bergerak cukup banyak sambil menyanyi dan semua orang kelihatan lucu. Saya selalu memastikan agar gorden ruang kelas tetap terbuka sehingga semua siswa dapat tertawa geli melihat tingkah laku guru-guru mereka,” kata Jules di sekolah Al Maarif di Singosari, Malang – Jawa timur pada pembukaan Pusat Belajar Bahasa Inggris Al Maarif tanggal 29 April 2006. Jules Lumber, seorang pelatih guru ISELP di Pondok Pesantren Al Ma’arif di Singosari dekat Malang, berinisiatif mendirikan Pusat Bahasa Inggris di Al Ma’arif. Pada akhir bulan April dia mengirimkan undangan kepada KGRE untuk mengambil bagian dalam Pembukaan Resmi pusat itu. Kapeten KGRE sedang sibuk bepergian ke Jakarta dan Manado sehingga Ogilah yang pergi ke acara pembukaan itu mewakili KGRE. Aktifitas hari itu dipusatkan di lapangan bola basket sekolah tersebut. Lapangan itu ditata seperti pekan raya di mana ratusan siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai aktifitas dan menikmatinya. Beberapa siswa menyaksikan lokakarya kecil tentang Sepak Bola dengan Aturan Australia. Siswa yang lain belajar menyanyikan lagu Australia bersama-sama. Banyak siswa mengikuti sesi ‘Melukis Titik’. Banyak juga siswa menikmati penyampaian informasi tentang KGRE dan mengikuti kuis-kuis dan memenangkan banyak hadiah dari KGRE. Setelah itu semakin banyak siswa yang minta agar kuis diadakan lagi ketika mereka melihat teman-teman mereka memenangkan banyak hadiah dari KGRE. Jadi saya mengadakan lebih banyak kuis dan memberi banyak hadiah. Walaupun hari itu panas, para siswa tidak kehilangan minat dan Jules memberikan beberapa permainan yang amat menarik yang membuat siswa berlari-lari keliling lapangan. Lapangan itu penuh sesak tetapi akhirnya saya dapat berbicara dengan beberapa guru Bahasa Inggris di sana. Mereka mengatakan mereka sangat menikmati program KGRE dan beberapa guru menggunakan aktifitas dari majalah KGRE. Saya juga bertemu dengan beberapa pelatih guru ISELP seperti Pauline Dunne yang bekerja di MAN Malang. Saya juga berbincang-bincang dengan Dean dan Louise yang jauh-jauh datang dari Pasuruan bersama beberapa siswa mereka. Jules juga mengundang beberapa siswa Australia yang bergabung dengan program ACICIS yang juga sedang belajar di Universitas Muhammadiyah Malang. Mereka membantu mengadakan beberapa aktifitas. Acara itu berakhir tepat sebelum tengah hari dan saya yakin bahwa ratusan siswa Al Maarif pulang dengan amat gembira setelah berpartisipasi dalam acara itu. Itu juga merupakan akhir dari perjalanan saya di Malang dan buru-buru saya kembali ke Surabaya untuk naik pesawat ke Bali sore itu juga.
Louise Blair dan Dean Pratley, dari Brisbane, Queensland, adalah dua anggota Proyek Bahasa Inggris untuk Pondok Pesantren (ISELP) yang telah bekerja di Pasuruan sejak Agustus 2005. Karena mereka bekerja dengan Ibu Ayu (Wahyuning Ariyani) mereka mengetahui bahwa dia telah bekerja keras, termasuk perjalanan dengan bus ke Surabaya berkali-kali untuk mengurus wisata belajar. Mereka senang sekali ketika dia mengundang mereka untuk bergabung dengan dia dan para siswanya pada wisata belajar itu, sehingga para siswa dapat bercakap-cakap dengan para penutur asli bahasa Inggris pada hari itu. Louise dan Dean juga sudah pernah beberapa kali menjadi tamu pada program bahasa Inggris interaktif yang disiarkan oleh stasiun radio ‘Suara Pasuruan’ setiap Minggu pagi. Program ini diurus dan dipersembahkan oleh mahasiswa setempat, dan pada bulan April mereka mulai menyiarkan program KGRE. Memiliki motivasi dan minat yang besar penting untuk keberhasilan studi para siswa. Berdasarkan penelitian saya, motivasi dan minat siswa tumbuh jika mereka senang dan menikmati pelajaran mereka. Ketika saya melihat bahwa kebanyakan siswa berminat menjadi reporter tivi, saya memiliki ide untuk membuat sebuah organisasi untuk aktifitas, minat dan motif siswa. Organisasi itu berbentuk wisata belajar. Bidang tujuan utamanya dipilih untuk wisata siswa seperti SCTV, Bumiromo, dan Armatim. SCTV adalah studio televisi. Armatim dan Bumiromo adalah wilayah angkatan laut Indonesia tetapi Bumiromo dikhususkan bagi kehidupan dan pelatihan prajurit muda. Saya mengharuskan siswa berlatih bahasa Inggris di SCTV. Kami melakukan wisata belajar pada hari Jumat tanggal 7 April 2006. Kami berangkat jam 7.30 pagi dan tiba di SCTV jam 8.30. Saya memperhatikan betapa besar minat para siswa dari kegiatan yang mereka ikuti dan saya tersenyum. Delapan siswa menjadi reporter tivi di sana. Mereka melaporkan kegiatan dan kesenangan teman-teman mereka dalam Bahasa Inggris dan Indonesia. Kami bertemu dengan Bapak Ismoyo Herdono di sana. Beliau mengijinkan kami untuk berkeliling melihat-lihat studio tivi itu dan duduk di kursi pembawa berita. Kegiatan ini membuat para siswa amat senang. Jam 10.30 kami melanjutkan perjalanan kami ke Armatim. Orang-orang Armatim mengijinkan kami untuk menaiki kapal perang milik Indonesia. Lalu kami pergi ke Bumimoro. Kami mendapatkan pengalaman yang menarik di sana seperti yang lainnya. Para siswa belajar tentang planetarium tersebut dan sejarah angkatan laut di sana. Banyak sekali kegiatan yang kami lakukan hari itu, dan kami kelelahan. Kami beristirahat dan bersembahyang di Mesjid Al Akbar, lalu berbelanja di Giant Shopping Mall. oleh Wahyuning Ariyani (Ayu), S.Pd., SMP Miftahul Alum Al-Yasini, Ngabar Kraton, Pasuruan Saya sibuk mendengarkan semua kaset rekaman KG (sambil jalan pagi) jadi saya dapat mengenal langsung rekaman itu dari sumber pertamanya. Saya amat menikmati wawancara dengan grup-grup musik pop. Bahasa Inggris Ari lancar sekali, ya? Margaret dan John Rollings sangat aktif di Guluk-Guluk, Madura, di PP An-Nuqayah. Salah satu dari banyak kegiatan yang diorganisir bagi para guru dan siswa di sana adalah Perayaan Hari Australia Januari lalu. Margaret dan suaminya John, terlibat dalam banyak kegiatan yang menyenangkan dan bekerja erat dengan Eva dan guru-guru lain di pesantren itu termasuk kegiatan English Camp dan KGRE Connection Club.
|
![]() |
![]() |
![]() |