KangGURU Radio EnglishHome page
  Home > AusAID Projects > AusAID Archives > Illegal Fishing in Eastern Indonesia
KangGURU Radio English
KangGURU and AusAID in Indonesia

CLICK HERE for over 50 more KGRE reports about the work of AusAID In Indonesia including Pt 1 and 2 of KGRE's ISELP reports from East Java and Yogyakarta re-construction efforts.

AusAID Key Initiatives in Indonesia
2006 - 2007

Recent Update on Aceh Work from AusAID


Bahasa Indonesian

Illegal Fishing in Eastern Indonesia by Bevis Worchester

How do you get to work? Last year I walked or took an ojek, but this year I find myself on all kinds of transport. My name is Bevis and I work for the Australian Embassy on the issue of illegal fishing. I am helping Australia and Indonesia with a public information campaign in eastern Indonesia to raise the profile of this problem. This means I spend most of my time travelling around eastern Indonesia, using many different types of transport.
As there are so many islands in Indonesia, I often go by aeroplane or boat. The shortest flight I have ever been on is from Kupang to Rote, which is only 18 minutes – barely time for the plane to take its wheels up! On the other hand, when I went on the fast ferry it took 1 ½ hours and the waves were very strong… I visited a fishing village in Rote and went on a small boat to see a seaweed farming project funded by the Australian Embassy. These boats have a motor, and are called bodi. Although they are quite small and often overturn, many of these boats go all the way from Sulawesi to Australia to fish illegally. Those onboard risk bad weather and possibly jail if caught.

Australia and Indonesia face similar challenges when it comes to illegal foreign fishing. By working together, we can address the problem far more effectively.

(Bevis Worcester participated in the 2000/2001 Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP), which was held in Punten village, near Malang, Java)



PRESS RELEASE
Australia and Indonesia agree to establish Ministerial Meeting on illegal fishing in our region - June 29th, 2006

Australia and Indonesia have agreed to establish a Ministerial Meeting on illegal, unreported and regulated fishing in the east Asian region, Australian Fisheries Minister Senator Eric Abetz announced today. The agreement follows high-level talks today between Australian Fisheries Minister Senator Eric Abetz and the Indonesian Minister for Marine Affairs and Fisheries, Freddy Numberi, as part of the Australia-Indonesia Ministerial Forum in Bali.

“Australia and Indonesia face similar challenges when it comes to illegal foreign fishing and, by working together, we can address the problem far more effectively,” the Minister said. “As a first step, Minister Numberi and I have agreed to hold a Ministerial Meeting on IUU fishing and its affect on our region. This will help raise the profile of IUU fishing within the region, highlighting the magnitude of the problem and enabling action to be taken that spans various jurisdictions.”

Senator Abetz said that he and Mr Numberi also discussed the progress of several other joint initiatives, including:

“These are important issues, and vital to our joint effort of tackling IUU fishing,” he said.  “They will also help identify other areas where our two countries can cooperate.”

Senator Abetz said that he provided Minister Numberi with an update of Australia’s recently enhanced maritime security programme.

“That included detail of the tough new measures targeting incursions by illegal foreign fishing vessels in our northern waters — a move that saw the rate of apprehensions more than double in 2005,” he said. “Minister Numberi and I also discussed the newly-passed legislation that enables Australia to impose custodial sentences on illegal foreign fishers caught fishing in our territorial waters.”

Senator Abetz said the Australian Government considers illegal foreign fishing as one of the biggest threats to the sustainability of our fisheries stocks and marine environment. “We also believe a multi-faceted approach to tackling the problem is the way to go,” he said. "That means maintaining a strong surveillance and enforcement presence in our northern waters, and continuing cooperation with neighbouring countries such as Indonesia.”

Penangkapan ikan ilegal di Indonesia bagian timur
oleh Bevis Worchester

Naik apa Anda pergi ke tempat kerja? Tahun lalu saya jalan kaki atau naik ojek, tapi tahun ini saya naik segala jenis alat transportasi. Nama saya Belvis dan saya bekerja untuk Kedutaan Besar Australia dalam masalah penangkapan ikan ilegal. Saya sedang membantu Australia dan Indonesia dengan melakukan kampanye informasi publik di Indonesia bagian timur untuk meningkatkan profil masalah ini. Ini berarti saya menghabiskan sebagian besar dari waktu saya dengan mengadakan perjalanan keliling Indonesia timur, dengan menggunakan segala jenis alat transportasi.

Karena ada begitu banyak pulau di Indonesia, saya sering naik pesawat terbang atau perahu. Penerbangan tersingkat adalah ketika saya terbang dari Kupang ke Rote, yang hanya makan waktu 18 menit – pesawatnya bahkan tidak sempat menaikkan rodanya! Pada kesempatan lain, ketika saya naik feri cepat, makan waktu 1½  jam untuk tiba di Rote dan ombaknya besar sekali... Saya mengunjungi sebuah desa nelayan di Rote dan naik perahu kecil untuk meninjau proyek penanaman rumput laut yang didanai oleh Kedubes Australia. Perahu-perahu ini bermesin dan disebut bodi. Walaupun perahunya kecil dan sering terbalik, banyak perahu seperti itu berlayar dari Sulawesi sampai ke Australia untuk menangkap ikan secara ilegal. Para nelayan menanggung resiko cuaca buruk dan kemungkinan dipenjara jika tertangkap.

Australia dan Indonesia menghadapi tantangan yang serupa dalam penangkapan ikan asing ilegal. Dengan bekerja sama, kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan lebih efektif.

(Belvis Worchester berpartisipasi dalam Program Pertukaran Pemuda Australia-Indonesia (AIYEP), yang diadakan di desa Punten, di dekat Malang, Jawa)

 

PRESS RELEASE

Australia dan Indonesia setuju untuk mengadakan Pertemuan Tingkat Menteri mengenai penangkapan ikan ilegal di wilayah kita – 29 Juni 2006

Australia dan Indonesia telah setuju untuk mengadakan Pertemuan Tingkat Menteri mengenai penangkapan ikan ilegal, yang tak dilaporkan dan tidak diatur oleh undang-undang, demikian diumumkan oleh Menteri Perikanan Australia Senator Eric Abetz hari ini. Perjanjian ini diikuti dengan pembicaraan tingkat tinggi hari ini antara Menteri Perikanan Australia Senator Eric Abetz dan Menteri Urusan Kelautan dan Perikanan Indonesia, Freddy Numberi, sebagai bagian dari Forum Kementrian Australia-Indonesia di Bali.

“Australia dan Indonesia menghadapi tantangan yang serupa dalam hal penangkapan ikan asing ilegal, dan dengan bekerja sama, kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan jauh lebih efektif,” ujar Menteri tersebut. “Sebagai langkah pertama, Menteri Numberi dan saya telah setuju untuk mengadakan Pertemuan Tingkat Menteri mengenai penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur oleh undang-undang dan pengaruhnya di wilayah kita. Hal ini akan membantu meningkatkan profil penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur oleh undang-undang dalam wilayah kita, menunjukkan betapa besarnya masalah ini, serta memungkinkan diambilnya tindakan oleh berbagai departemen yang berwenang.”

Senator Abetz mengatakan bahwa beliau dan Pak Numberi juga membahas kemajuan beberapa inisiatif bersama lain, termasuk:

 

“Hal-hal tersebut penting dan vital bagi upaya bersama kita dalam menangani masalah penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan dan tidak diatur oleh undang-undang,” kata beliau. “Hal-hal tersebut juga akan membantu mengidentifikasi bidang-bidang lain di mana kedua negara ini dapat bekerja sama.”

Senator Abetz mengatakan bahwa beliau telah memberikan program keamanan maritim Australia - yang belakangan ini telah dipercanggih - kepada Menteri Numberi.

“Dalam program itu terdapat rincian tentang angka terbaru dari razia yang mengenai target terhadap kapal penangkap ikan asing ilegal di perairan utara kita – suatu peningkatan yang menunjukkan bahwa angka penangkapan meningkat sebanyak dua kali lipat lebih pada 2005,” ujar beliau. “Menteri Numberi dan saya juga membahas undang-undang yang baru disetujui yang memungkinkan Australia menegakkan hukuman penahanan bagi nelayan asing ilegal yang kedapatan menangkap ikan di wilayah perairan kita.”

Senator Abetz mengatakan bahwa Pemerintahan Australia menganggap penangkapan ikan asing ilegal sebagai salah satu ancaman terbesar bagi kesinambungan sumber daya perikanan dan lingkungan perairan kita. “Kami yakin pendekatan dari berbagai segi adalah cara yang tepat untuk menangani masalah ini,” kata beliau. “Itu berarti kita harus tetap memelihara pengawasan yang kuat dan kehadiran penegakan hukum di wilayah perairan utara kita, dan melanjutkan kerja sama dengan negara-negara tetangga seperti Indonesia.”

Students across the archipelago learn English with Kang GURU Learning English is Fun!
AusAID in Indonesia - Australian Government IALF Education for Development Radio Republic Indonesia