The National Library of Australia
In January 2006, the Aceh Provincial Library received another 200 books as part
of an A$13,000 donation to assist the relief effort in Banda Aceh from the
National Library of Australia (NLA). The books in this shipment included
dictionaries and works on science, history, communication, management,
psychology and computing, and were purchased by the Library's Regional Office
in Jakarta and donated to the Provincial Library to assist build its
collections.
The Aceh public library system was devastated by the 2004 disaster. A visit by
the National Library of Australia's Regional Officer in May 2005 confirmed that
although the main public library building remained standing the contents of its
ground floor rooms including the majority of its collection of more than
200,000 books and all mobile library vans were destroyed. In addition, about
one third of the library staff perished.
In connection with the NLA's contributions, the manager of its Regional Officer
in Jakarta, Ralph Sanderson has said,
“The Aceh Provincial Library has made a good deal of progress in
recovering from the effects of the tsunami. Over the past year its main
buildings have been renovated and restored for use by the public. However, the
collection of reading material it contains is still only a fraction of its
original size and it will take some time before it can fully meet the needs of
the community. Assistance by the NLA is therefore aimed at not only helping to
rebuild the main collection of the library but to also ensure further supplies
of reading material are provided to those housed in camps and which are being
served by a now expanded mobile library service.”
In early May 2005, the NLA delivered its first consignment of approximately 900
books to the Aceh Provincial Library. Since then a further three consignments
have been dispatched to the Library. All shipments to Aceh have been made
possible through the support of the Australia Indonesia Partnership for
Reconstruction and Development (AIPRD).
The NLA has had an office in Jakarta since 1971 and has always worked closely
with National Library of Indonesia. The demand for books in Aceh was identified
after initially seeking advice from the National Library of Indonesia although
liaison now takes place directly with the Provincial Library. To date, over
2500 books have been supplied. It is believed that the NLA is the only overseas
institution to have supported the library in this way. The NLA will continue to
monitor the progress of the Provincial Library and provide assistance through
further donations of material with the aim of both increasing the Provincial
Library's core collection and supplementing the reading material circulated via
their mobile library service.
On Wed 8th and Thurs 9th of March, the Head of the Aceh Provincial Library and
a member of the Acquisitions Staff, Pak Yulizar, went to Jakarta to personally
select and purchase publications for the library. On this occasion he visited
the Gramedia store at Matramam, Jakarta. Over those two days 534 titles (1382
copies) were purchased from Gramedia plus several sets of encyclopedias.
Overall, approximately Rp 50,000,000 was spent on purchases for the library
plus the NLA covered the costs of Pak Yulizar's airfare. This brings the NLA's
donations to the Aceh Provincial Library to over 4040 volumes (over 1870
titles) of books and magazines at a cost of just under Rp 104,000,000.
Press Release
Australia Donates 7000 Teaching Books to Aceh Universities
Thursday, 16 February 2006
As part of the $15 million spending program on education in Aceh, the Australia
Indonesia Partnership for Reconstruction and Development (AIPRD) has today
presented around 7000 teaching reference books on education worth $206,000 (Rp.
1,5 billion) to the Library of the Education Faculty (FKIP) of Syiah Kuala
University and General Library of State Islamic University (IAIN). AIPRD's
support will help improve teaching quality and resources particularly in the
Islamic sub-sector. Because of the earthquake and tsunami, an estimated 2000
education facilities including schools and higher education institutions, both
public and private, were destroyed and damaged. Among them were the two state
niversities in Aceh, IAIN (State Islamic University) Arraniry and Syiah Kuala
University. “Responding to the needs of those institutions, AIPRD is
providing support to revitalize the tertiary education sector and to support
improvements to teacher training, curriculum development and education
management after ubstantial loss and damage,” said Didi Marjimi,
AIPRD Deputy Banda Aceh Manager. Around 4000 books will be distributed to the
Education Faculty (FKIP) Library of Syiah Kuala University and another 3000
books will be delivered to the General Library at IAIN. “Aside from
these contributions, AIPRD is also providing rental assistance to more than 800
lecturers at both universities as well as providing tuition fees for 2000 IAIN
students,” Didi Marjimi said. “A number of significant
reconstruction projects are also well underway, such as the rehabilitation of
the IAIN General Library building and construction of a Micro Teaching
Laboratory at Syiah Kuala University,” he added.
Perpustakaan Nasional Australia
(The National Library of Australia/NLA)
Pada Januari 2006, Perpustakaan Propinsi Aceh menerima 200 buku sebagai bagian
dari sumbangan dana sebanyak A$13.000 dari Perpustakaan Nasional Australia
untuk membantu upaya pemulihan di Banda Aceh. Buku-buku yang dikirim terdiri
dari kamus dan karya ilmiah, sejarah, komunikasi, manajemen, psikologi dan
komputer, dan dibeli oleh Kantor Wilayah Perpustakaan di Jakarta dan
disumbangkan kepada Perpustakaan Propinsi untuk membantu menambah koleksinya.
Sistem perpustakaan umum Aceh dihancurleburkan oleh bencana yang terjadi pada
2004. Kunjungan Petugas Wilayah dari Perpustakaan Nasional Australia pada bulan
Mei 2005 menegaskan bahwa walaupun bangunan perpustakaan umum utama tetap
berdiri, isi perpustakaan tersebut di ruangan-ruangan lantai dasar, termasuk
sebagian besar koleksinya yang berjumlah lebih dari 200.000 buku dan semua
mobil perpustakaan keliling musnah. Ditambah lagi, sekitar sepertiga dari
karyawan perpustakaan itu tewas.
Sehubungan dengan sumbangan Perpustakaan Nasional Australia, manajer Kantor
Wilayah di Jakarta, Ralph Sanderson mengatakan,
“Perpustakaan Propinsi Aceh telah membuat kemajuan yang besar dalam
memulihkan diri dari pengaruh tsunami. Sepanjang tahun lalu bangunan utamanya
telah direnovasi dan digunakan kembali oleh masyarakat umum. Namun demikian,
koleksi bahan bacaan yang dimilikinya hanyalah sebagian kecil dari koleksi
sebelumnya, dan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat benar-benar
memenuhi kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, bantuan dari NLA ditujukan bukan
hanya untuk membantu membangun kembali koleksi utama perpustakaan itu,
melainkan juga memastikan pengadaan lebih lanjut dari bahan bacaan yang
diberikan untuk mereka yang tinggal di tenda-tenda dan yang dilayani oleh
perpustakaan keliling yang sudah diperluas.”
Pada awal Mei 2005, NLA mengirimkan kira-kira 900 buku pertama kepada
Perpustakaan Propinsi Aceh. Sejak itu tiga pengiriman lagi sudah diterima oleh
perpustakaan. Semua pengiriman ke Aceh telah dimungkinkan melalui dukungan
Kemitraan Australia Indonesia untuk Rekonstruksi dan Pengembangan (Australia
Indonesia Partnership for Reconstruction and Development/AIPRD).
NLA telah memiliki sebuah kantor di Jakarta sejak 1971 dan selalu bekerja erat
dengan Perpustakaan Nasional Indonesia. Permintaan buku di Aceh disadari ketika
pada awalnya meminta nasihat dari Perpustakaan Nasional Indonesia. Sekarang ada
instansi penghubung yang langsung menangani Perpustakaan Propinsi itu. Sampai
hari ini, ada lebih dari 2.500 buku yang sudah disumbangkan. Dipastikan NLA
adalah satu-satunya institusi di luar Indonesia yang telah mendukung
perpustakaan dengan cara ini. NLA akan terus memonitor kemajuan Perpustakaan
Propinsi itu dan memberikan bantuan melalui sumbangan bahan bacaan lebih jauh,
dengan tujuan baik untuk meningkatkan koleksi inti Perpustakaan Propinsi itu,
maupun menambah bahan bacaan yang disirkulasi melalui layanan perpustakaan
keliling.
Pada hari Rabu tanggal 8 dan Kamis tanggal 9 Maret, Kepala Perpustakaan
Propinsi Aceh dan seorang anggota Karyawan Penambahan Koleksi, Pak Yulizar,
pergi ke Jakarta untuk secara pribadi memilih dan membeli publikasi untuk
perpustakaan itu. Pada kesempatan ini beliau mengunjungi toko Gramedia di
Matramam, Jakarta. Selama dua hari itu 534 judul (1.382 salinan), ditambah
dengan beberapa set ensiklopedi, dibeli dari Gramedia. Keseluruhannya,
kira-kira Rp 50.000.000 dibelanjakan untuk perpustakaan. NLA juga membayar
biaya perjalanan Pak Yulizar's, sehingga sumbangan NLA untuk Perpustakaan
Propinsi Aceh berjumlah lebih dari 4040 volume (lebih dari 1870 judul) buku dan
majalah dengan nilai hampir Rp 104,000,000.
Press Release
Australia Menyumbangkan 7000 Buku Pengajaran ke Universitas di Aceh —
Kamis, 16 Februari 2006
Sebagai bagian dari program pembelanjaan untuk pendidikan di Aceh, yang
bernilai $15 juta, Kemitraan Australia Indonesia untuk Rekonstruksi dan
Pembangunan (AIPRD) telah memyumbangkan sekitar 7000 rujukan pengajaran untuk
pendidikan senilai $206000 (Rp. 1,5 milyar) kepada Perpustakaan Fakultas Ilmu
dan Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala dan Perpustakaan Umum Institut
Agama Islam Nasional (IAIN). Dukungan AIPRD akan membantu meningkatkan mutu dan
sumber daya pengajaran, terutama dalam sub-sektor Islam. Akibat gempa bumi dan
tsunami, diperkirakan 2000 fasilitas pendidikan termasuk sekolah dan institusi
pendidikan lain yang lebih tinggi, baik negeri maupun swasta, hancur dan rusak.
Diantaranya adalah dua universitas negeri di Aceh, IAIN Arraniry dan
Universitas Syiah Kuala. “Merespon kebutuhan kedua institusi ini, AIPRD
memberikan dukungan untuk memulihkan sektor pendidikan tinggi dan mendukung
peningkatan pelatihan guru, pengembangan kurikulum dan pengelolaan pendidikan
setelah mengalami kerugian dan kerusakan yang besar sekali,” kata Didi
Marjimi, Deputi Manajer AIPRD Banda Aceh. Sekitar 4000 buku akan
didistribusikan ke perpustakaan FKIP Universitas Syiah Kuala, dan 3000 buku
lainnya akan dikirimkan ke Perpustakaan Umum di IAIN. “Selain sumbangan
ini, AIPRD juga memberikan bantuan pinjaman kepada lebih dari 800 dosen dari
kedua universitas tersebut, dan juga memberikan uang kuliah kepada 2000
mahasiswa IAIN,” Didi Marjimi mengatakan. “Sejumlah proyek
reskonstruksi yang penting juga sedang berjalan dengan baik, seperti
rehabilitasi bangunan Perpustakaan Umum IAIN dan pembangunan Laboratorium
Pengajaran Mikro di Universitas Syiah Kuala,” tambahnya.
KLIK DI SINI untuk membaca lebih dari 60 laporan KGRE mengenai AusAID di
Indonesia.
|