Socceroos at Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda, West Java
On Wednesday January 28th, the Aussie Socceroos played against Indonesia in the Asia Cup qualifier. The result
was a draw. It's the first time in 28 years that the Socceroos have played a competitive match in Jakarta.
The following day the Socceroos took time out in Jakarta to conduct a clinic with children from Madrasah Tsanawiyah
Nurul Huda, West Java. Twenty five junior high school students were invited by the Australian Embassy to
take part in the clinic giving them the chance to meet with some elite athletes from the sport they love.
|
“It is a fantastic opportunity for both the players and the students to learn more about each
other’s culture through their shared passion for football” Australian Ambassador to Indonesia
Bill Farmer said.
“It gives me great joy to see our national team reaching out to connect with the children from
Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda — a school which was built with support from Australia.”
|
The school is located in Cikarageman, West Java, and was built through the AIBEP — the
Australia Indonesia Basic Education Project. It has classrooms, a science and a computer laboratory, library
and sports field, the 110 students from Cikarageman village and surrounds now have easier access to a junior
secondary education. The Madrasah is ju st one of 2,000 Indonesian junior secondary schools being built or
expanded with support from the Australian Government. The school program aims to give more than 330,000 Indonesian
children the opportunity to continue their education beyond primary school.
Check the KGI website for more information and photographs about AIBEP —
Kisah-kisah Mimpi, Festival
Budaya Pribumi Australia, Hari Nasional Australia 2009 dan Tim Sepakbola Australia Socceroos di Jakarta — semuanya
bagian dari Kemitraan Australia Indonesia
|
Kang GURU berada di Jakarta pada akhir Januari 2009 untuk menghadiri Kisah-kisah Mimpi, Festival
Budaya Pribumi Australia, pameran seni pribumi Australia Balgo dan untuk bertemu dengan tim sepakbola
Socceroos dari Australia.
Pada akhir Januari 2009, pembuat film ternama Indonesia dan alumni Australia, Mira Lesmana, bersama perwakilan
dari Kedubes Australia, Louise Hand, meluncurkan Dreaming
Stories, the
Australian Indigenous Cultural Festival. Festival Film Australia ini menampilkan film-film Australia
seperti Rabbit Proof Fence; The Tracker; dan Australian Rules, sebuah film tentang
aturan permainan sepakbola gaya Australia.
Pada Hari Nasional
Australia, 26 Januari, Ibu Louise Hand, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia didampingi oleh para anggota
tim sepakbola Socceroos ketika menghadiri Festival Film Australia.
Pada hari Kamis, 29 Januari, tim sepakbola Socceroos ‘time out’ di Jakarta untuk mengadakan
klinik sepakbola dengan anak-anak dari Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda, Jawa Barat. Dua puluh lima siswa
SMP diundang ke Kedutaan Besar Australia untuk ambil bagian dalam klinik sepakbola itu, yang memberikan kesempatan
kepada mereka untuk bertemu dengan beberapa atlit elit dari cabang olahraga yang mereka gemari.
Kisah-kisah Mimpi, Festival Budaya Pribumi Australia
Pada akhir Januari 2009, pembuat film ternama Indonesia dan alumni Australia, Mira Lesmana, bersama perwakilan
dari Kedubes Australia, Louise Hand, meluncurkan Dreaming
Stories, the
Australian Indigenous Cultural Festival. Festival Film Australia ini menampilkan film-film Australia
seperti Rabbit Proof Fence; The Tracker; dan Australian Rules, sebuah film tentang
aturan permainan sepakbola gaya Australia. Kesemua film ini memiliki teks terjemahan di dalam bahasa Indonesia.
Pada saat yang sama dengan festival film itu, BALGO, sebuah pameran seni Aborijin kontemporari dari
wilayah Balgo Hills di pedalaman Australia Barat diadakan di BlitzMegaplex. BALGO memamerkan serangkaian
kisah dan upacara mitos Tjukurrpa (Mimpi) yang dilukis oleh para seniman Balgo dalam bentuk seni yang baru
dan penting. Bentuk itu menyatukan yang kuno dengan yang kontemporer; yang abstrak dengan gambaran bentang
alam; yang spiritual dengan yang politis. Dua seniman Balgo, (Bibi) Joan Nagomara dan (Bibi) Imelda Gugaman
berada di sana untuk berbicara kepada para pengunjung dan memberitahu mereka tentang seni
pribumi dan budaya pribumi Australia.
Profesor Anita Lee Hong mendampingi pameran tersebut dalam pentas internasionalnya yang pertama di Jakarta
dan berbicara kepada Kang Guru tentang para seniman itu. Profesor Anita mengatakan bahwa mereka sangat menyukai
dan khususnya terheran-heran ketika diminta untuk berpose untuk difoto waktu mengunjungi Monas. Kedua seniman
itu merasa senang di kota Jakarta. Tentu saja penduduk pribumi Australia sudah berbaur dengan orang Indonesia
selama ratusan tahun melalui perdagangan laut, tetapi tempat tinggal mereka sama sekali tidak seperti Jakarta.
Balgo benar-benar daerah pedalaman – 6 jam naik mobil 4 wheel drive dari Broome melalui jalan
tak beraspal dan lebih dari 4 jam naik pesawat dari Darwin. Daerah itu panas dan kering, tetapi gurun itu
adalah tempat yang paling nyaman bagi mereka untuk menetap – kampung halaman adat mereka. Penduduknya
hidup dengan cukup tradisional. Mereka mengumpulkan makanan tradisional, misalnya, dan giat dalam kegemaran
terbesar mereka – kesenian.
Kesenian tradisional sangat penting karena lukisan-lukisan itu tidak hanya menyampaikan sebuah kisah, tetapi
menggambarkan apa yang BOLEH dan TIDAK BOLEH dilakukan oleh masyarakat itu, sehingga memelihara sejarah mereka.
Karya seni itu melestarikan tradisi mereka. Kesenian Balgo menggunakan warna-warna yang cerah. Sangat unik.
Para pengunjung pameran merasa tergetar melihat lukisan-lukisan yang dipamerkan dan kedua seniman, Bibi
Joan dan Bibi Imelda dari masyarakat Balgo di wilayah gurun pasir Great Sandy Desert di Australia Barat, tidak
dapat memahami minat mereka yang besar itu.
Hari Nasional Australia pada Festival Film dengan Tim Sepakbola Socceroos
Pada Hari Australia tanggal 26 Januari, Ibu Louise Hand, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, ditemani
oleh anggota tim sepak bola Soccerroos, menghadiri Festival Film Orang Australia Pribumi. Ibu Hand mengundi
pemenang yang beruntung mendapatkan sebuah tiket Qantas ke Australia ketika anggota tim sepakbola Soccerroos
bercakap-cakap dengan orang-orang yang menghadiri Pameran Seni Balgo dan festival film itu.
KGI mewawancarai pemain Australian Socceroos Nikolai Topor-Stanley dan kamu bisa mendengarkan wawancara itu
di radio KGI April 2009.
Nikolai Topor-Stanley adalah seorang pemain dalam tim sepak bola Australian Socceroos. Dia berumur 24 tahun.
Ayahnya berasal dari Mauritius dan ibunya keturunan Jerman/Polandia dan namanya adalah nama Rusia – multibudaya
sekali, ya? Nikolai bermain sebagai pertahanan untuk timnya dan pernah menjadi anggota tim Australia pada
Olimpiade 2008 di China.
Dia menghadiri Festival Film Orang Australia Pribumi dengan anggota-anggota Socceroos lainnya dan KGI duduk
dengan dia untuk bercakap-cakap. Nikolai dan teman-teman timnya berada di Jakarta untuk pertandingan melawan
Tim nasional Indonesia untuk Kualifikasi Piala Asia.
Dia sudah banyak berkeliling dunia dengan Socceroos, seperti ke Korea Utara, Uruguay dan Iran. Jalan-jalan
adalah bonus untuk Nikolai dan dia senang sekali melihat negara-negara lain dan tentu saja bermain bola di
sana juga. Dia sudah dua kali ke Indonesia jadi sudah akrab dengan Indonesia. Apa yang Nikolai senangi tentang
kehidupan di Australia? KGI bertanya kepadanya dan jawabannya antara lain adalah cuacanya dan karena selalu
ada saja yang terjadi di sana.
Tim Sepakbola Socceroos di Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda, Jawa Barat
Rabu, 28 Januari, tim sepakbola Australia Socceroos bermain melawan Indonesia di Kualifikasi Piala Asia. Hasilnya
seri. Itu adalah pertama kalinya dalam 28 tahun tim Socceroos bermain dalam pertandingan yang kompetitif
di Jakarta.
Keesokan harinya tim sepakbola Socceroos ‘time out’ di Jakarta untuk mengadakan klinik sepakbola
dengan anak-anak dari Madrasah Tsanawiyah Nurul Huda, Jawa Barat. Dua puluh lima siswa SMP diundang ke Kedutaan
Besar Australia untuk ambil bagian dalam klinik sepakbola itu, memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertemu
dengan beberapa atlit elit dari cabang olahraga yang mereka gemari.
“Merupakan kesempatan yang luar biasa bagi baik para pemain maupun murid-murid untuk belajar lebih
banyak tentang budaya masing-masing melalui kegemaran yang sama” kata Duta Besar Australia untuk
Indonesia, Pak Bill Farmer.
“Saya senang sekali melihat tim nasional kami berupaya dekat dengan anak-anak dari Madrasah Tsanawiyah
Nurul Huda — sebuah sekolah yang dibangun dengan dukungan dari Australia.”
Sekolah ini terletak di Cikarageman, Jawa Barat, dan dibangun melalui AIBEP — Proyek
Pendidikan Dasar Australia Indonesia . Ada kelas-kelas, laboratorium IPA dan komputer, perpustakaan dan
lapangan olahraga. Ke-110 murid dari desa Cikarageman dan sekitarnya kini memiliki akses yang lebih mudah
untuk mendapatkan pendidikan SMP. Madrasah ini hanyalah salah satu dari 2.000 SMP di Indonesia yang dibangun
atau diperluas dengan dukungan dari Pemerintahan Australia. Program sekolah ini bertujuan memberi kesempatan
kepada lebih dari 330.000 anak-anak Indonesia untuk melanjutkan pendidikan mereka setelah SD.
|
|