Barefoot Engineers in Papua
More than 100 Indonesian technical facilitators, who recently graduated from a basic infrastructure course
funded by Australia, will be sent to rural villages to help build basic infrastructure such as roads, bridges
and wells in Papua and West Papua. The six-month course is part of the Australian Government’s $2.7
million contribution to the special Papua province component of the Indonesian Government’s National
Program for People’s Empowerment (PNPM – RESPEK). Known as ‘Barefoot-Engineers’,
the participants were selected high school graduates who were taught technical skills in community development
and construction. The training program responds to the lack of qualified engineers in Papua and West Papua,
and increases the number of skilled technical facilitators available for deployment to rural villages.
A local university, Universitas Cenderawasih, helped prepare training modules and assisted in recruitment.
About 30 per cent of the new technical facilitator graduates are women. Australia will also provide a gender
specialist to improve gender sensitivity among facilitators and assess women’s participation in the
program’s activities. By improving roads, bridges and wells these communities will be able to better
access basic services and improve their livelihoods.
Bahasa Indonesia version
Difabled in Yogyakarta with the Central Java Community Assistance Program (YCAP) *difabled
- new terminology for people having different abilities to others
In November 2006, the Australian Ambassador, Mr. Bill Farmer, visited some of YCAP's activities in Yogyakarta.
He saw communities working together with YCAP. They were busy planning their community responses to the devastating
earthquake which had happened a few months earlier. KGI was there too - check KGI website link below for
more information and photographs.
YCAP has continued working hard with other affected communities. In late April 2009, KGI visited two activities
in Pundong, 45 minutes south of Yogyakarta. This area was badly affected by the earthquake. YCAP staff, Rachma
Safitri and Damayanti Sari Rohmaningtyas took Kevin to a new project's socialization meeting. Community members
were planning and discussing a new assistance program for difabled members of their community. The interest
shown by the community, and especially the women, was quite surprising for organizers. Local NGO, Dria Manunggal,
have been asked by YCAP to set up this program for the difabled victims (and their families) of the Yogyakarta
earthquake.
Paramastu Titis Anggita is Project Manager for this program - Increasing Difable Family Income Inclusively.
The program will focus on people’s livelihoods and their economic development in Bantul district. The
project will train and strengthen businesses in the local sub sector such as food processing - producing
local food such as tempe and crackers, and retailers - selling basic daily needs items, and livestock - fowl
and fisheryKGI visited the home of Ibu Atun, a very happy mother of new one week old baby. It was an amazing
experience to see how YCAP, through local NGO Pusat Rehabilitasi YAKKUM, is helping Atun and her family to
get on with their lives. Atun is difabled and uses a specially designed wheel-chair. It was provided by YCAP
and PR YAKKUM through program Livelihood Program for People with Disability, Victims of Java Earthquake program.
Assisted by her husband, she has started a home based business of raising catfish in a pool in the family
yard. The family just had their first harvest of catfish. The business has begun!
Bahasa Indonesia version
|
|
Smallholder Agribusiness Development Initiative (SADI)
Being a farmer is not easy – not just in Indonesia but all over the world. To be successful they must overcome
many elements which they can’t control such as the weather, pests, natural disasters and market prices.
However help is on its way! Groups of cattle farmers in Lombok and South Sulawesi are getting assistance from
an ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) - SADI (The Smallholder Agribusiness Development
Initiative) research team. Cattle-farming is one of the best ways smallholder farmers can increase their income
as cattle are more profitable than grain.
|
|
KGI visited two farmers groups in Lombok recently accompanied by Rini Indrayanti from SADI, Makassar, Pak Giri,
Mr. Dahlanuddin, from the University of Mataram and project team members from Dinas Peternakan Kabupaten and
Propinsi and BPTP. Working in collaboration with other agencies SADI has developed programs to support the farmers.
One of the main problems farmers face is quantity, quality and continuity of good food for the cattle. SADI
has introduced new types of fodder - rumput untuk ternak - which farmers can grow easily and feed to their cattle.
Farmers can now sell fatter animals more often - typically one to two extra animals per year, therefore increasing
their income.
|
The ACIAR–SADI research team has also introduced simple management practices to enhance stock survival
and productivity. Groups of farmers are now keeping their cattle in collective kandangs (barns) which they
have built themselves with assistance from SADI and the local Dinas Peternakan Kabupaten. By using these simple
feeding and management technologies, smallholder farmers can more quickly become owners and producers of a
valuable product in high demand, and in a growing market. It was a fascinating day for Kang Guru and we learned
a lot.
Bahasa Indonesia version
|
‘Insinyur Kaki Ayam’ di Papua
Lebih dari 100 fasilitator teknik Indonesia, yang baru-baru ini lulus dari sebuah kursus infrastruktur dasar
yang didanai oleh Australia, akan dikirim ke desa-desa di pedalaman untuk membantu membangun infrastruktur dasar
seperti jalan, jembatan dan sumur di Papua dan Papua Barat. Kursus yang berlangsung selama enam bulan ini merupakan
bagian dari sumbangan Pemerintahan Australia sebesar $2,7 juta kepada komponen khusus provinsi Papua dari Program
Nasional Pemerintah untuk Pemberdayaan Masyarakat (PNPM – RESPEK). Dikenal sebagai ‘Insinyur Kaki
Ayam’, para pesertanya adalah lulusan SMA terpilih yang diajarkan keterampilan teknik di dalam pengembangan
masyarakat dan konstruksi. Program pelatihan ini merupakan jawaban atas kurangnya insinyur yang terampil di
Papua dan Papua Barat, dan menambah fasilitator teknik yang terampil untuk ditempatkan di desa-desa di pedalaman.
Universitas setempat, Universitas Cenderawasih, membantu mempersiapkan modul-modul pelatihan dan perekrutan.
Sekitar 30 persen lulusan fasilitator yang baru ini adalah wanita. Australia juga akan mengirimkan seorang ahli
gender untuk meningkatkan kesensifitasan gender di kalangan para fasilitator itu dan menilai partisipasi wanita
di dalam kegiatan-kegiatan program itu. Dengan memperbaiki mutu jalan, jembatan dan sumur, masyarakat akan dapat
mengakses layanan dasar dengan lebih baik, dan meningkatkan mutu kehidupan mereka.
Penyandang Cacat Ganda di Yogyakarta dengan Central Java Community Assistance
Program (YCAP)
Pada November 2006, Dubes Australia, Pak Bill Farmer, mengunjungi beberapa kegiatan YCAP di Yogyakarta. Beliau
melihat bagaimana masyarakat bekerja sama dengan YCAP. Mereka sibuk merencanakan respon masyarakat terhadap
gempa bumi yang menghancurkan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. KGI juga berada di sana. Lihatlah tembolok
situs web di bawah ini untuk informasi lebih lanjut dan foto-fotonya.
YCAP terus bekerja keras dengan masyarakat lain yang terkena dampak. Pada akhir April 2009, KGI mengunjungi 2
kegiatan di Pundong, 45 menit ke arah selatan Yogyakarta. Wilayah ini terkena dampak buruk dari gempa bumi.
Karyawan YCAP, Rachma Safitri dan Damayanti Sari Rohmaningtyas membawa Kevin ke sebuah rapat sosialisasi proyek
baru. Anggota masyarakat sedang merencanakan dan membahas program bantuan baru untuk anggota masyarakat mereka
yang memiliki keterbatasan ganda. Minat yang diperlihatkan oleh masyarakat, terutama para wanita, cukup mengherankan
para pengurus. LSM setempat, Dria manunggal, telah diminta oleh YCAP untuk membuat program ini bagi para korban
gempa bumi Yogyakarta yang memiliki keterbatasan ganda (dan keluarga mereka).
Paramastu Titis Anggita adalah Manajer Proyek program ini – Meningkatkan Penghasilan Keluarga Penyandang
Cacat Ganda secara Inklusif. Program ini akan berfokus pada mata pencaharian dan pengembangan ekonomi penduduk
di Kabupaten Bantul. Proyek ini akan melatih dan memperkuat usaha-usaha di subsektor lokal seperti pemrosesan
makanan yang menghasilkan makanan lokal seperti tempe dan kerupuk, para pedagang yang menjual barang kebutuhan
sehari-hari, serta peternakan unggas dan perikanan.
KGI mengunjungi rumah Ibu Atun, ibu yang sangat bahagia dengan bayinya yang baru berumur satu tahun. Merupakan
pengalaman yang luar biasa melihat bagaimana YCAP, melalui LSM setempat Pusat Rehabilitas YAKKUM, membantu Atun
dan keluarganya dalam keberlangsungan hidup mereka. Atun adalah seorang penyandang cacat ganda dan menggunakan
kursi roda yang dirancang khusus. Kursi roda itu diberikan oleh YCAP dan PR YAKKUM melalui Program Mata Pencaharian
bagi Penyandang Cacat, Program Korban Gempa Bumi di Jawa. Dengan dibantu suaminya, Ibu Atun memulai usaha rumah
tangga mengembangbiakkan ikan lele di kolam yang dibuat di halaman rumah mereka. Keluarga itu baru saja mendapatkan
panen lele mereka yang pertama. Usahanya sudah mulai!
Smallholder Agribusiness Development Initiative (SADI)
Menjadi petani tidaklah mudah, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Agar berhasil mereka harus
mengatasi banyak unsur yang tidak dapat mereka kendalikan seperti cuaca, hama, bencana alam dan harga pasar.
Namun demikian, bantuan akan segera datang! Beberapa kelompok peternak sapi di Lombok dan Sulawesi Selatan akan
mendapatkan bantuan dari tim peneliti ACIAR (Australia Centre of International Agricultural Research / Pusat
Penelitian Pertanian Internasional Australia) – SADI (Smallholder Agribusiness Development Initiative
/ Inisiatif Pengembangan Agribisnis Pengusaha Kecil). Peternakan adalah salah satu cara terbaik bagi peternak
kecil untuk dapat meningkatkan penghasilan mereka karena keuntungan dari ternak lebih besar daripada gabah.
KGI mengunjungi dua kelompok petani di Lombok akhir-akhir ini, didampingi oleh Rini Indrayanti dari SADI, Makassar,
Pak Giri, Pak Dahlanuddin dari Universitas Mataram dan anggota tim proyek dari Dinas Peternakan Kabupaten dan
Propinsi dan BPTP. Dengan bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain, SADI telah mengembangkan program-program
untuk mendukung para peternak. Salah satu masalah utama yang dihadapi para petani adalah jumlah, mutu dan keberlangsungan
makanan yang baik bagi ternak mereka. SADI telah memperkenalkan jenis makanan ternak yang baru, rumput untuk
ternak yang dapat ditanam dengan mudah oleh para petani yang menjadi pakan ternak mereka. Sekarang para peternak
dapat lebih sering menjual ternak yang lebih gemuk, rata-rata satu sampai dua ekor setiap tahun, yang otomatis
menambah penghasilan mereka.
Tim peneliti ACIAR-SADI juga telah memperkenalkan praktek manajemen yang sederhana untuk meningkatkan keberlangsungan
hidup dan produktifitas ternak. Kelompok-kelompok peternak sekarang memelihara ternak mereka di kandang bersama
yang mereka dirikan sendiri dengan bantuan dari SADI dan Dinas Peternakan Kabupaten setempat. Dengan menggunakan
teknologi pakan dan manajemen yang sederhana ini, peternak kecil dapat lebih cepat menjadi pemilik dan penghasil
produk yang bernilai, dengan permintaan yang tinggi, dan di pasar yang sedang berkembang. Hari itu merupakan
hari yang menyenangkan bagi Kang Guru dan kami banyak belajar.
|