Inclusive Education In Indonesia and the Australia-Indonesia Partnership 2009
(in Bahasa Indonesia)
Children, no matter who they are or where they are from, are entitled to a good education. This is a basic human right. It is a fact that many children across the world, and across Indonesia, are being denied this basic right. Whether the children are poor, female, disabled, suffer from Downs Syndrome or HIV AIDS, or students in combatant areas for example, basic education IS their right and therefore that education must be provided. KGI is pretty sure that everyone agrees with this, right?
Over recent years, KGI has introduced readers of this magazine to quite a few disabled, sometimes referred to as difabled people. In 2001 we met Chandra Gallih from Bandung. He started The Space Club in Bandung in 2001 and it was one of the first Kang Guru Connection Clubs. In the December 2005 KGI magazine Chandra talked about being an hemophiliac (orang yang mengalami masalah dengan pembekuan darah) in Indonesia. September 2007 featured the importance of accessible environments for the disabled with Australian Volunteer International, Paulien Long and YAKKUM in Bali. In the December 2007 magazine KGI talked about craniofacial surgery for Indonesian children afflicted with cleft palates and facial deformities. In June 2008 it was news about disabled athletes (weightlifting and tennis).
While opening SMPN 5 Gerung in Lombok (see bottom right), Australia’s Parliamentary Secretary, Mr Bob McMullan, told the local community that Australia is committed to making basic education accessible to all students, including the disabled. This process has already started. All schools being built through AIBEP will be built in a manner that enables access for people with physical disabilities. This policy is fully supported by the Indonesian government.
At the very same time that Mr McMullan was opening SMPN 5 Gerung, Ibu Mia from HWPCI (Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia) or the Indonesian Women with Disabilities of South Sulawesi based in Makassar and her team, was presenting a 2 day workshop on Inclusive Education at the Grand Hotel Legi in nearby Mataram. With support from PGMI - Pendidikan Guru Madrasah Ibtidayah/Teacher Education for MI Teachers - a LAPIS sub-activity based at IAIN Sunan Ampel in Surabaya, HWPCI also presented their Inclusive Education Road Show in Malang, Surabaya, Makassar and Ponorogo. These two-day workshops for local education authorities and teachers were conducted to inform participants of the necessity for inclusive education. The physically disabled and those students with HIV AIDS were highlighted for special attention. Workshop participants discussed how to develop ideas on approaches to inclusive education and how to make communities aware that inclusive education is possible, and it is necessary!
With support from the Australia Indonesia Institute (AII), Ibu Mia and Ibu Hetty from HWPCI went to Australia in March 2009 to see how inclusive education works in Queensland. They were accompanied by Dr. Izul Zulaiha who is the National Module Development Specialist at LAPIS and has helped prepare modules covering reproductive health, HIV AIDS, gender and reforestation. LAPIS is very keen to assist schools and teachers in Islamic schools to cater for disabled students in their madrasah classrooms. With support from MAPENDA South Sulawesi, this process has already begun in SulSel. MAPENDA is keen to hear what further recommendations HWPCI has for them. Renovating schools to accept wheelchairs is one of the first things to do. Five madrasah are already working towards the goal of having inclusive education as a part of their institution.
Ketika meresmikan SMPN 5 Gerung di Lombok (lihat kanan), Sekretaris Parlemen Australia, Pak Bob McMullan, memberitahu masyarakat setempat bahwa Australia memiliki komitment untuk membuat pendidikan dasar dapat dinikmati oleh semua murid, termasuk penyandang cacat. Proses ini sudah dimulai. Semua sekolah yang dibangun melalui AIBEP akan dibangun dengan fasilitas yang memudahkan akses bagi orang yang memiliki keterbatasan fisik. Kebijakan ini sepenuhnya didukung oleh pemerintah Indonesia.
Pada waktu yang sama ketika Pak McMullan meresmikan SMPN 5 Gerung, Ibu Mia dari HWPCI (Himpunan Wanita Penyandang Cacat Indonesia) dari Makassar dan timnya memberikan lokakarya 2 hari mengenai Pendidikan Inklusif di Grand Hotel Legi di Mataram, tidak jauh dari SMPN 5 Gerung. Dengan dukungan dari PGMI (Pendidikan Guru Madrasah Ibtidayah), subkegiatan LAPIS di IAIN Sunan Ampel di Surabaya, HWPCI juga mengadakan Pertunjukan Jalanan Pendidikan Inklusif di Malang, Surabaya, Makassar dan Ponorogo. Lokakarya-lokakarya dua hari untuk kalangan berwenang dan guru-guru setempat ini diadakan untuk memberitahu para peserta perlunya pendidikan inklusif. Penyandang cacat fisik dan murid-murid dengan HIV AIDS diberi perhatian khusus. Para peserta lokakarya berdiskusi tentang bagaimana mengembangkan gagasan mengenai pendekatan untuk pendidikan inklusif dan bagaimana membuat masyarakat sadar bahwa pendidikan inklusif itu mungkin, dan dibutuhkan!
Dengan dukungan dari Indonesia Australia Institute (AII), Ibu Mia dan Ibu Hetty dari HWPCI berkunjung ke Australia pada Maret 2009 untuk melihat bagaimana pendidikan inklusif berjalan di Queensland. Mereka ditemani oleh Dr. Izul Zulaiha yang merupakan Spesialis Pengembangan Modul Nasional di LAPIS dan telah membantu mempersiapkan modul-modul yang mencakup kesehatan reproduksi, HIV AIDS, jender dan penghijauan. LAPIS sangat berkeinginan untuk membantu sekolah-sekolah dan guru-guru di Madrasah Tsanawiyah melayani kebutuhan murid-murid penyandang cacat di kelas mereka. Dengan dukungan dari MAPENDA Sulawesi Selatan, proses ini sudah dimulai di sana. MAPENDA berkeinginan untuk mendapatkan saran-saran HWPCI lebih lanjut untuk mereka. Merenovasi sekolah sehingga dapat diakses oleh kursi roda adalah hal pertama yang harus dilakukan. Lima madrasah sedang berusaha mencapai sasaran pendidikan inklusif sebagai bagian dari institusi mereka.
Liputan lebih lanjut tentang karya yang luar biasa ini akan terbit di majalah KGI Juni. Dengarkanlah Ibu Mia di KGI pada Juli/Agustus di seluruh Indonesia ketika mereka berbicara tentang Pendidikan Inklusif.
Kamu juga bisa mendengarkan Pak McMullan berbicara kepada KGI di acara radio KGI di 165 stasiun radio di seluruh Indonesia pada pertengahan Juni. Dengarkanlah beliau berbicara tentang pendidikan inklusif, AIBEP dan sorotan-sorotan lain dalam kunjungannya ke Indonesia.
|

|